Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai PP Tunas akan memperkuat aturan pembatasan gawai dan media sosial bagi anak di Jawa Barat yang sudah lebih dulu berlaku. Kebijakan nasional itu dipandang selaras dengan langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam mengatur penggunaan perangkat digital di lingkungan anak dan satuan pendidikan.
Dedi menyebut PP Tunas dapat menjadi dasar untuk menyusun aturan teknis yang lebih ketat di sekolah. Arah kebijakan ini menempatkan perlindungan anak dari risiko ruang siber sebagai bagian dari pengawasan pendidikan yang lebih terukur.
Selaras dengan kebijakan daerah
Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya telah memiliki pendekatan pembatasan terhadap penggunaan gawai dan media sosial oleh anak. PP Tunas kini dipandang memperkuat landasan hukum agar kebijakan daerah tidak berjalan sendiri, melainkan terhubung dengan regulasi nasional.
Keselarasan ini penting karena tantangan ruang digital terus berkembang dan menyentuh anak usia sekolah. Aturan yang lebih seragam juga dinilai memudahkan sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah dalam menerapkan pengawasan.
Dasar aturan teknis di sekolah
PP Tunas disebut akan menjadi pijakan untuk menyusun aturan teknis yang lebih rinci di satuan pendidikan. Aturan itu bisa mencakup tata kelola akses gawai, penggunaan media sosial, serta pengawasan aktivitas digital anak di lingkungan sekolah.
Berikut area penguatan yang relevan untuk diterapkan di sekolah:
- Pembatasan penggunaan gawai selama jam belajar.
- Pengawasan akses media sosial pada peserta didik.
- Penyusunan tata tertib digital yang disesuaikan dengan usia anak.
- Pelibatan guru dan orang tua dalam pemantauan perilaku daring.
- Edukasi keamanan siber sebagai bagian dari pembinaan siswa.
Risiko digital yang perlu ditekan
Pembatasan bukan hanya soal disiplin, tetapi juga upaya mengurangi paparan konten yang tidak sesuai usia. Di ruang digital, anak dapat menghadapi risiko perundungan, eksploitasi, kecanduan gawai, hingga pertemuan dengan konten berbahaya.
Karena itu, regulasi siber bagi anak perlu diiringi pengawasan yang konsisten di rumah dan sekolah. Langkah tersebut membantu memastikan anak tetap memperoleh manfaat teknologi tanpa kehilangan perlindungan dasar.
Peran pemerintah daerah dan sekolah
Implementasi PP Tunas di Jawa Barat membutuhkan kerja sama lintas pihak agar aturan tidak berhenti di tingkat kebijakan. Pemerintah daerah dapat menyiapkan pedoman, sementara sekolah menjalankan pengawasan harian dan komunikasi rutin dengan orang tua.
Keterlibatan unsur pendidikan juga penting untuk memastikan pembatasan tidak bersifat represif. Kebijakan akan lebih kuat bila dibarengi literasi digital yang menjelaskan alasan keamanan, etika berinternet, dan tanggung jawab di dunia maya.
Penegasan arah perlindungan anak
Pernyataan Dedi Mulyadi menegaskan bahwa Jawa Barat sudah memiliki arah kebijakan yang sejalan dengan PP Tunas. Regulasi nasional itu kini memberi ruang lebih kuat bagi daerah untuk menata aturan teknis yang lebih rinci, terutama di sekolah yang menjadi ruang utama aktivitas anak.
