
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyoroti peran strategis koperasi sebagai penguat ekonomi rakyat saat menghadiri Pengukuhan Pimpinan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Wilayah Jawa Tengah dan Rapat Kerja Wilayah di Wisma Perdamaian, Semarang. Ia menegaskan bahwa koperasi perlu menjadi ruang pendampingan bagi pelaku usaha mikro agar naik kelas dan memiliki akses pembiayaan yang lebih sehat.
Luthfi menilai koperasi tidak cukup hanya berjalan sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi harus hadir sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat di tingkat desa dan kelurahan. “Pengurus telah terbentuk. Dengan adanya pengurus yang baru ini, rekan-rekan bisa mewarnai, agar koperasi di Jateng jadi cikal bakal kemakmuran masyarakat,” ujar Luthfi.
Kuatkan ekonomi rakyat lewat koperasi
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat ada 19.022 koperasi aktif dengan jumlah anggota lebih dari 6,8 juta orang. Dari jumlah itu, total aset koperasi mencapai Rp60,13 triliun, volume usaha Rp43,78 triliun, dan imbal hasil kepada anggota sebesar Rp1,16 triliun.
Data tersebut menunjukkan koperasi masih punya ruang besar untuk memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat. Luthfi mendorong koperasi agar menjadi pusat aktivitas ekonomi yang tidak hanya membantu anggota, tetapi juga mendorong perputaran usaha di daerah.
Dorongan lewat Koperasi Desa Merah Putih
Penguatan koperasi juga berjalan melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih atau KDKMP. Dari total 8.523 unit di Jawa Tengah, sebanyak 6.271 unit sudah beroperasi dan 1.466 di antaranya telah memiliki gerai fisik sebagai pusat layanan ekonomi masyarakat.
Luthfi berharap koperasi desa itu dapat berkembang lebih jauh menjadi pusat distribusi logistik sekaligus lumbung pangan lokal. Ia menilai model tersebut penting untuk memperkuat ekonomi berbasis desa dan memberi manfaat langsung bagi warga.
“Ini penting karena merupakan penguatan ekonomi di desa,” kata Luthfi.
Sinergi Dekopin dan pemerintah pusat
Menteri Koperasi Ferry Juliantono yang hadir dalam kegiatan itu menekankan pentingnya sinergi antara Dekopinwil dan Kementerian Koperasi. Menurut dia, kerja bersama menjadi kunci untuk menghidupkan kembali aktivitas koperasi di daerah.
“Amanah ini menjadi tidak ringan, karena Dekopin adalah satu tarikan napas yang harus sama dengan Kemenkop,” ujar Ferry.
Ferry juga menilai Jawa Tengah menjadi salah satu daerah yang menonjol dalam pengembangan koperasi, terutama dalam percepatan pembentukan badan hukum KDKMP. Ia mendorong koperasi agar masuk lebih jauh ke rantai nilai ekonomi, mulai dari distribusi, produksi, hingga pascaproduksi.
Arah pengembangan koperasi di Jateng
Ferry menyebut koperasi dapat memainkan peran yang lebih luas jika mampu mendukung industri kecil di daerah. Ia mencontohkan produk yang bisa dikembangkan secara mandiri oleh koperasi untuk membuka lapangan usaha baru dan memperkuat ekonomi lokal.
- Produksi barang kebutuhan harian seperti sabun, sampo, dan detergen.
- Pengolahan produk pangan lokal seperti sambal dan olahan lainnya.
- Penguatan distribusi agar produk warga lebih mudah masuk pasar.
- Dukungan pascaproduksi untuk menjaga nilai tambah usaha kecil.
- Pengembangan jaringan usaha dan digitalisasi koperasi.
Menurut Ferry, langkah-langkah itu bisa membantu memecahkan persoalan ekonomi masyarakat sekaligus menghidupkan industri kecil di daerah. Pada saat yang sama, Dekopinwil Jawa Tengah juga didorong untuk aktif dalam transformasi sumber daya manusia, advokasi perlindungan koperasi, dan penguatan jaringan usaha.
Luthfi menutup penegasannya dengan ajakan agar koperasi dijalankan sebagai gerakan bersama yang benar-benar menghadirkan kesejahteraan dan keadilan. Dengan modal anggota yang besar, aset yang kuat, dan dukungan program koperasi desa, Jawa Tengah dinilai punya peluang memperkuat ekonomi rakyat dari tingkat akar rumput.
Source: indoraya.news








