Cuaca Panas Ekstrem Menguji Pengendara, Safety Riding Jateng Peringatkan Risiko Overheat Dan Micro Sleep

Cuaca panas ekstrem yang melanda Jawa Tengah dalam beberapa pekan terakhir membuat perjalanan motor makin berisiko. Di jalur Pantura Pekalongan-Pati hingga pusat Kota Semarang dan Solo, pengendara tak hanya menghadapi macet, tetapi juga ancaman kelelahan, dehidrasi, dan kecelakaan.

Suhu udara yang menembus 35°C membuat tubuh cepat lelah, konsentrasi menurun, dan emosi lebih mudah terpancing. Kondisi ini membuat keselamatan berkendara tidak lagi bergantung pada skill semata, tetapi juga pada kemampuan menjaga kondisi tubuh tetap stabil.

Risiko fisik yang sering diremehkan

Pan­as ekstrem memaksa tubuh bekerja lebih keras untuk mendinginkan diri. Jantung memompa darah lebih kuat ke permukaan kulit agar keringat keluar, sementara cairan tubuh terus berkurang jika tidak segera diganti.

Situasi ini bisa berujung pada dehidrasi. Saat kondisi memburuk, respons otak melambat, pandangan bisa kabur atau muncul fatamorgana, lalu berlanjut ke micro sleep selama 1-5 detik tanpa disadari.

Bahaya itu menjadi sangat besar saat motor tetap melaju. Pada kecepatan 60 km/jam, motor bergerak 16,6 meter per detik, sehingga micro sleep 3 detik berarti kendaraan melaju tanpa kendali sejauh 50 meter.

Emosi dan refleks ikut tertekan

Panas tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga memengaruhi emosi pengendara. Senggolan kecil atau pengendara yang tidak memberi sein di area seperti Pasar Johar Semarang atau Gladak Solo bisa memicu amarah lebih cepat dari biasanya.

Saat emosi mengambil alih, logika keselamatan sering tertinggal. Di saat yang sama, refleks juga bisa menurun karena tubuh sudah kehabisan energi untuk bertahan di bawah terik matahari.

Ban, tangan, dan pandangan juga terdampak

Aspal yang panas ikut menurunkan traksi ban karena kompon ban menjadi lebih lembek. Kondisi ini membuat motor lebih mudah kehilangan grip, terutama saat pengendara tidak menjaga ritme berkendara dengan hati-hati.

Telapak tangan yang berkeringat juga menambah risiko. Genggaman pada stang bisa menjadi licin jika pengendara tidak memakai sarung tangan yang tepat, sementara silau matahari dapat memicu pusing jika visor tidak bersih atau tidak sesuai.

Tiga langkah yang dianjurkan saat berkendara di cuaca terik

Oke Desiyanto, Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, mengingatkan pengendara agar tidak menunggu haus untuk minum. Menurut dia, berhenti tiap 60-90 menit untuk minum air mineral menjadi langkah penting agar hidrasi tetap terjaga.

Ia juga menyarankan penggunaan gear yang “bernapas”. Jaket mesh atau kain double-layer dengan sirkulasi udara baik tetap dibutuhkan, asalkan masih memiliki pelindung di siku dan bahu serta dipadukan dengan visor smoke atau bening yang bersih untuk mengurangi silau.

Langkah berikutnya adalah mengenali batas lelah tubuh. Leher kaku dan menguap lebih dari tiga kali dalam lima menit disebut sebagai alarm mutlak untuk menepi sejenak di tempat teduh atau SPBU terdekat.

Oke menegaskan bahwa berkendara bukan hanya soal kemampuan memutar gas dan menembus kemacetan. Keselamatan juga sangat ditentukan oleh manajemen energi tubuh, kontrol emosi, dan kebiasaan mencari kondisi yang aman saat cuaca tidak bersahabat.

Source: www.seputarmuria.com

Berita Terkait

Back to top button