Tarif Rp 5.000 masih menjadi alasan utama jalur rakit bambu di Sungai Citanduy tetap ramai dipakai warga Pangandaran. Penyeberangan tradisional itu dipilih karena memangkas waktu perjalanan antarprovinsi hanya dalam hitungan menit.
Di perbatasan Desa Maruyungsari dan Sukanegara, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, warga dan pengendara sepeda motor menumpang rakit bambu yang ditopang perahu bermotor menuju wilayah Cilacap, Jawa Tengah. Jalur ini bukan jalur resmi, tetapi sudah lama dikenal masyarakat sebagai “jalan tikus” yang lebih cepat dibandingkan lewat darat.
Alternatif cepat untuk aktivitas harian
Bagi banyak warga, jalur rakit menjadi akses yang praktis untuk mobilitas lintas provinsi. Pedagang, pekerja, dan warga dengan aktivitas harian di dua wilayah itu memanfaatkan rute ini karena lebih singkat daripada memutar lewat jalur Kalipucang.
Seorang pengguna penyeberangan, Ucan (67), menyebut jalur itu sudah biasa dipakai warga. Ia mengatakan, lewat Kalipucang jauh lebih lama, sementara lewat rakit bisa sampai ke Cilacap dalam beberapa menit.
Tarif murah jadi daya tarik
Pengelola penyeberangan rakit bambu di lokasi, Nono (51), mengatakan waktu tempuh ke Cilacap hanya sekitar dua menit. Ia juga menyebut tarif sekali menyeberang paling Rp 5.000.
Ucan menambahkan, biaya yang dikenakan kerap berada di kisaran Rp 2.000 atau Rp 5.000. Tarif yang relatif murah itu ikut menjaga minat warga untuk terus menggunakan jalur tradisional tersebut.
Bertahan sejak 1990-an
Keberadaan penyeberangan rakit bambu di Sungai Citanduy disebut sudah ada sejak sekitar 1990-an. Selama puluhan tahun, jalur ini menjadi bagian penting dari mobilitas warga di kawasan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Dalam sekali perjalanan, rakit mampu mengangkut sekitar tujuh hingga delapan sepeda motor beserta pengendaranya. Kapasitas itu membuat layanan sederhana ini tetap relevan di tengah kebutuhan perjalanan cepat antardaerah yang terus berjalan setiap hari.
Source: bandung.kompas.com






