Musim kemarau yang masih panjang membuat 11 kabupaten di Jawa Timur menetapkan status darurat kekeringan. Kondisi ini menandai ancaman air bersih yang semakin serius di pertengahan tahun 2026.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim menunjukkan wilayah yang sudah mengeluarkan status itu meliputi Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Lumajang, Bangkalan, Blitar, Pasuruan, Trenggalek, Gresik, Malang, dan Jember. Sebagian daerah menetapkan status siaga darurat hingga September.
Status Darurat di 11 Kabupaten
Ketua Tim Pusat Data dan Informasi BPBD Jatim Muhammad Amrul mengatakan penetapan status itu dilakukan masing-masing kabupaten dengan alasan yang berbeda. Menurut dia, faktor yang paling dominan adalah luasnya area yang berpotensi mengalami kekeringan.
| Kabupaten | Status | Keterangan Waktu |
|---|---|---|
| Bondowoso | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Lamongan | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Banyuwangi | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Lumajang | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Bangkalan | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Blitar | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Pasuruan | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Trenggalek | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Gresik | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Malang | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
| Jember | Darurat kekeringan | Beberapa daerah hingga September |
BPBD Jatim juga terus memantau kabupaten lain yang belum menetapkan status serupa. Langkah itu dilakukan karena prakiraan BMKG menunjukkan Juli masih berada di tengah musim kemarau, sehingga potensi kekeringan dinilai belum mencapai puncak.
Droping Air Bersih Masih Berjalan
Hingga Selasa 7 Juli, bantuan air bersih sudah mengalir ke 45 desa di 6 kabupaten. Total distribusi yang tercatat mencapai 594 ribu liter air bersih.
Wilayah terdampak yang dipantau BPBD Jatim mencapai 815 desa di 222 kecamatan yang tersebar di 26 kabupaten. Sebagian besar merupakan daerah tadah hujan dengan infrastruktur air bersih permanen yang minim.
Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto menyebut kewaspadaan ditingkatkan setelah BMKG memprediksi musim kemarau berlangsung dari April hingga November 2026. Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus.
“Fenomena El Nino tahun ini diprediksi lebih kuat atau ekstrem. Dampaknya suhu lebih panas dan periode kemarau lebih panjang. Ini tentu meningkatkan risiko kekeringan signifikan,” ujar Gatot dalam keterangannya.
Dengan kondisi itu, kebutuhan air bersih di sejumlah desa diperkirakan masih akan meningkat selama musim kemarau belum berakhir.
Source: harian.disway.id






