Menjelang May Day 2026, para buruh diingatkan agar menjaga aksi tetap damai dan tidak berubah menjadi tindakan yang merugikan banyak pihak. Pesan ini mengemuka di tengah sorotan terhadap dampak demonstrasi yang anarkis terhadap iklim usaha dan kelangsungan produksi.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Surya Vandiantara, menekankan bahwa perjuangan buruh semestinya diarahkan pada perbaikan kesejahteraan, bukan pada sabotase atau kerusuhan. Ia menyebut, pengusaha memang perlu mempertimbangkan kesejahteraan pekerja, tetapi buruh juga tidak boleh melakukan aksi yang merusak suasana bisnis.
Perjuangan buruh diukur dari kesejahteraan
Surya menjelaskan bahwa ukuran keberhasilan perjuangan buruh tidak terletak pada seberapa keras aksi dilakukan, melainkan pada tingkat kesejahteraan yang berhasil dicapai. Menurut dia, tuntutan seperti UMR pada dasarnya adalah bagian dari upaya mendorong kehidupan yang lebih baik bagi pekerja.
Ia juga mengingatkan bahwa aksi seperti mogok kerja yang berujung pada kerugian besar, apalagi sampai membuat perusahaan bangkrut, tidak selaras dengan tujuan utama gerakan buruh. Dalam pandangannya, perjuangan yang efektif justru harus menghasilkan manfaat nyata bagi pekerja dan ekonomi secara luas.
Kontribusi buruh bagi ekonomi tidak kecil
Surya menilai buruh memegang peran penting dalam roda perekonomian Indonesia karena tanpa tenaga kerja, aktivitas produksi tidak dapat berjalan. Ia menyebut buruh sebagai tonggak utama dalam membangun perekonomian nasional.
Dari sisi kebijakan, perjuangan buruh juga disebut telah melahirkan sejumlah aturan yang berdampak luas, termasuk UMR, THR, serta BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Kebijakan-kebijakan itu dipandang sebagai hasil dari proses panjang yang memberi manfaat bagi pekerja dan masyarakat.
Dampak kenaikan upah dan konsumsi domestik
Surya menambahkan bahwa kenaikan UMR juga dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi karena meningkatkan daya beli buruh. Pendapatan buruh dinilai terserap di pasar melalui konsumsi domestik, sehingga memberi dorongan pada aktivitas ekonomi.
Ia juga menyoroti kebiasaan buruh membelanjakan penghasilannya pada produk UMKM. Menurut dia, aliran konsumsi seperti itu ikut memutar roda perekonomian nasional dan membantu pelaku usaha kecil tetap bergerak.
Aksi damai jadi sorotan di tengah peringatan May Day
Dalam momentum May Day 2026, ajakan agar aksi berlangsung tertib menjadi relevan karena perhatian publik juga tertuju pada mobilisasi massa buruh. Di saat peringatan Hari Buruh berlangsung, pesan damai dianggap penting agar aspirasi tetap tersampaikan tanpa mengganggu kepentingan umum dan kegiatan ekonomi.
Pandangan Surya menegaskan bahwa penghormatan terhadap buruh perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga stabilitas usaha. Dengan begitu, peringatan May Day tetap menjadi ruang penyampaian aspirasi yang kuat, tetapi tidak kehilangan arah pada tujuan utamanya, yakni memperjuangkan kesejahteraan pekerja secara lebih baik.
Source: www.viva.co.id