Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyiapkan skema kompensasi bagi pedagang yang terdampak penertiban di Rest Area Seger Alam, Puncak Pass, Cipanas, Kabupaten Cianjur. Bantuan itu mencakup modal usaha sampai Rp10 juta, biaya hidup harian, serta peluang kerja baru di sektor formal dan kebersihan.
Pemprov Jawa Barat menempatkan bantuan modal sebagai langkah awal agar para pedagang bisa segera bangkit setelah penertiban. Dedi mengatakan tahap pertama difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar dan modal untuk usaha baru agar perputaran ekonomi bisa kembali berjalan.
Bantuan modal dan biaya hidup jadi prioritas awal
Dedi menyebut kompensasi awal diberikan untuk membantu pedagang bertahan dalam masa transisi. Ia menilai bantuan itu penting karena banyak pedagang harus menyesuaikan diri setelah kehilangan tempat berjualan.
Menurut Dedi, dana Rp10 juta bisa menjadi modal yang memadai jika dikelola dengan baik. Ia menegaskan bahwa besar kecilnya modal tidak hanya ditentukan oleh jumlah uang, tetapi juga oleh kemampuan mengembangkan usaha.
“Jadi kalau ngomong Rp10 juta, kecil. Bagi mereka yang pintar usaha, itu bisa berkembang menjadi besar,” ujar Dedi yang akrab disapa KDM.
Solusi jangka panjang lewat lapangan kerja
Selain modal usaha, Pemprov Jabar juga menyiapkan jalur kerja bagi warga terdampak. Salah satu opsi yang disiapkan adalah penyerapan tenaga kerja di bidang kebersihan jalan, karena kebutuhan petugas di sektor ini dinilai masih tinggi.
Dedi menjelaskan bahwa jalur kerja ini ditujukan agar warga terdampak punya penghasilan yang lebih stabil. Pemerintah daerah juga ingin memastikan bahwa solusi yang ditawarkan tidak berhenti pada bantuan sesaat.
“Kita yang jelas, kita memerlukan tenaga kerja kebersihan, jalan. Karena di ruas jalan itu diperlukan dan nanti yang bersedia bisa menjadi tenaga kerja kebersihan jalan,” ujarnya.
Pemetaan kondisi pedagang akan dilakukan
Agar penempatan bantuan dan pekerjaan lebih tepat sasaran, Pemprov Jabar akan memetakan kondisi para pedagang secara berkala. Pendataan itu disebut penting untuk menyesuaikan karakter, kemampuan, dan peluang kerja yang tersedia.
Skema ini juga memungkinkan pemerintah menyesuaikan kebutuhan pedagang dengan sektor yang paling cocok. Dengan begitu, bantuan modal tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan peluang kerja dan pembinaan lanjutan.
Jalur pelatihan bagi usia produktif
Untuk pedagang atau anggota keluarga mereka yang masih berusia di bawah 30 tahun, Pemprov Jabar membuka peluang masuk ke industri manufaktur. Dedi menyebut sektor garmen masih terbuka dan bisa diisi setelah melalui pelatihan intensif.
Pemerintah daerah ingin menjadikan pelatihan sebagai jembatan karier bagi warga yang terdampak. Langkah ini diarahkan agar mereka tidak hanya menerima bantuan sementara, tetapi juga memperoleh keterampilan yang bisa dipakai dalam pekerjaan baru.
