Komisi I Tegaskan Latsarmil SPPI Utamakan Karakter, Bukan Sekadar Fisik

Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto menegaskan bahwa Latihan Dasar Kemiliteran atau Latsarmil bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) harus menitikberatkan pada pembentukan karakter. Program ini disiapkan untuk melahirkan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP).

Utut menilai pelatihan tersebut tidak boleh dipahami hanya sebagai latihan fisik. Menurut dia, peserta perlu dibentuk menjadi sumber daya manusia yang disiplin, berintegritas, dan memiliki jiwa kepemimpinan untuk menjalankan amanah di tengah masyarakat.

Pembentukan karakter jadi fokus utama

Utut menyebut nilai utama dalam Latsarmil berada pada penanaman karakter, kedisiplinan, dan semangat pengabdian. Ia menegaskan bahwa pembekalan itu harus menghasilkan peserta yang punya tata nilai kuat saat memimpin dan melayani masyarakat.

“Yang ingin dibangun bukan hanya kemampuan fisik, tetapi juga tata nilai, disiplin, dan jiwa kesatria,” kata Utut dalam keterangan tertulis, Kamis, 2 Juli 2026. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai itu menjadi bekal penting bagi peserta saat menjalankan tanggung jawab di lapangan.

Pernyataan itu muncul di tengah perhatian publik terhadap pelaksanaan pelatihan bagi calon manajer koperasi Merah Putih. Komisi I DPR menilai tujuan program tetap harus dijaga agar tidak melenceng dari kebutuhan pembentukan SDM yang siap bekerja secara profesional.

Program koperasi dinilai punya prospek besar

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono juga memberi pandangan tentang Program Koperasi Desa Merah Putih. Ia menilai program tersebut punya prospek besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, baik di tingkat mikro maupun makro.

Dave menekankan pentingnya pelaksanaan program yang profesional agar manfaat yang dirancang pemerintah bisa benar-benar tercapai. Menurut dia, potensi besar itu harus diimbangi dengan tata kelola yang baik supaya hasilnya terasa di masyarakat.

“Program ini mempunyai potensi memberikan manfaat besar bagi perekonomian. Karena itu pelaksanaannya harus benar-benar baik agar tujuan yang diharapkan pemerintah dapat terwujud,” kata Dave.

Pandangan itu memperlihatkan bahwa dukungan terhadap program tidak hanya berhenti pada ide besar di atas kertas. DPR menaruh perhatian pada kualitas pelaksanaan agar calon manajer koperasi dan kampung nelayan benar-benar siap mengemban tugas.

Durasi pelatihan dipangkas

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan telah memangkas durasi pelatihan bagi calon manajer KDMP dan KNMP. Keputusan itu diambil setelah lima calon manajer KDMP meninggal dunia saat menjalani Latsarmil.

Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan menjelaskan bahwa durasi awal pelatihan dirancang selama satu bulan. Rencana itu dibuat karena seluruh calon manajer juga akan dilatih menjadi Komponen Cadangan atau Komcad.

Namun, Kemhan kemudian memutuskan untuk menghapus Latsarmil dan memotong durasi pelatihan menjadi dua minggu. Donny menyebut perubahan itu juga berdampak pada materi bela negara yang ikut dipersingkat.

“Dari segi waktu juga berkurang juga. Yang tadinya komponen cadangan selama satu bulan, ini bela negara juga kami perpendek menjadi dua minggu,” ujar Donny di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Rabu, 1 Juli 2026.

Setelah itu, peserta dijadwalkan menerima pembekalan mengenai pengelolaan koperasi dan kampung nelayan. Donny menjelaskan bahwa bagian berikutnya akan difokuskan pada pendidikan dan pelatihan manajerial.

“Nah, kemudian sisanya yang satu bulan itu adalah untuk pendidikan dan pelatihan manajerial,” kata Donny.

Sorotan terhadap arah pelatihan

Perubahan skema pelatihan membuat arah program makin menjadi sorotan. Di satu sisi, pembentukan karakter tetap dianggap penting oleh Komisi I DPR, sementara di sisi lain aspek keselamatan dan efektivitas pelatihan juga mendapat perhatian besar.

Dengan fokus yang bergeser ke pembekalan manajerial, program SPPI kini diharapkan tetap menghasilkan calon pengelola koperasi dan kampung nelayan yang disiplin, berintegritas, serta paham tugas mereka. Keseimbangan antara karakter, kepemimpinan, dan kemampuan mengelola program menjadi titik penting dalam pelaksanaan pelatihan tersebut.

Source: www.viva.co.id

Terkait