E20 India Tuai Protes, Mobil Lama Boros dan Mesin Terancam Lebih Cepat Aus

Author: Qoo Media

Penerapan bensin campuran 20% etanol atau E20 di India memicu keluhan dari banyak pemilik kendaraan. Mereka menyebut konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros, akselerasi melemah, dan muncul kekhawatiran soal umur komponen mesin.

Di seluruh SPBU India, bensin E20 kini menjadi satu-satunya pilihan dalam program biofuel pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi. Namun, langkah itu dinilai datang terlalu cepat bagi jutaan kendaraan lama yang belum dirancang untuk kadar etanol setinggi itu.

Keluhan dari pengguna kendaraan

Krishna Kumar, pengguna kendaraan di New Delhi, mengatakan sedan miliknya kini lebih boros setelah beberapa pekan memakai E20. Jika sebelumnya mobilnya mampu menempuh 18-20 kilometer per liter, kini jaraknya turun menjadi sekitar 16-17 kilometer per liter.

Ia juga merasakan tenaga mobil lebih lambat, terutama saat menyalip kendaraan lain, menanjak, atau ketika AC dinyalakan. Keluhan serupa datang dari Anas Khan, pemilik Maruti Suzuki Baleno keluaran 2021, yang menyebut efisiensi bahan bakar mobilnya turun dari sekitar 18 kilometer per liter menjadi hanya 15 kilometer per liter.

Pengguna Kendaraan Efisiensi Sebelum E20 Efisiensi Setelah E20
Krishna Kumar Sedan 18-20 km/liter 16-17 km/liter
Anas Khan Maruti Suzuki Baleno 2021 18 km/liter 15 km/liter

Pemerintah membantah E20 merusak mesin

Kementerian Perminyakan dan Gas Alam India menegaskan berbagai penelitian yang dilakukan Asosiasi Riset Otomotif India (ARAI), Institut Petroleum India (IIP), dan perusahaan minyak nasional tidak menemukan perbedaan signifikan pada performa mesin maupun tingkat keausan komponen kendaraan. Pemerintah India juga menyebut kendaraan yang memang dirancang kompatibel dengan E20 hanya mengalami penurunan efisiensi bahan bakar sekitar 1-2%.

Menteri Transportasi Jalan India Nitin Gadkari ikut membela kebijakan ini. Ia mengatakan program pencampuran etanol akan mengurangi ketergantungan India pada impor minyak mentah sekaligus meningkatkan pendapatan petani melalui permintaan tebu dan jagung sebagai bahan baku etanol.

Di sisi lain, para ahli menilai dampak E20 sangat bergantung pada usia dan desain kendaraan. Pakar otomotif independen Sajad Ahmad Wani mengatakan kendaraan yang tidak dirancang untuk E20 memang tidak langsung mengalami kerusakan.

Namun, penggunaan jangka panjang dapat mempercepat keausan selang karet, gasket, dan beberapa komponen sistem bahan bakar karena sifat etanol lebih korosif dibanding bensin biasa. Etanol juga memiliki kandungan energi lebih rendah, sehingga kendaraan membutuhkan bahan bakar lebih banyak untuk menghasilkan tenaga yang sama.

Wani juga menyoroti bahwa banyak pengendara belum mengetahui apakah kendaraan mereka kompatibel dengan E20 atau tidak. Kondisi itu membuat kekhawatiran di kalangan pemilik mobil lama tetap bertahan, meski pemerintah menyebut program ini aman bagi kendaraan yang sesuai spesifikasi.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru