AS Disebut Bisa Rebut Pulau Iran, Tapi Biaya Pendudukan Bisa Jauh Lebih Mahal

Author: Qoo Media

Rencana Amerika Serikat merebut pulau-pulau strategis Iran memicu pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar kemampuan militer. Para analis menilai Washington memang bisa menguasai pulau kecil Iran, tetapi mempertahankannya justru dapat menyeret AS ke perang darat yang mahal dan sulit dihentikan.

Isu ini kembali menguat setelah serangan AS ke Pulau Qeshm, Kish, dan Abu Musa, serta sejumlah kota pelabuhan di pesisir selatan Iran, termasuk Bandar Abbas. Serangan itu menghidupkan lagi spekulasi bahwa tujuan Washington bukan hanya melumpuhkan kekuatan Teheran, tetapi juga membuka jalan bagi operasi perebutan wilayah.

Pulau yang Bisa Direbut, Tapi Sulit Dipertahankan

Andreas Krieg, profesor madya bidang studi keamanan di King’s College London, mengatakan AS secara taktis memang memiliki kemampuan untuk merebut pulau-pulau Iran. Dengan dukungan kekuatan udara, laut, dan pasukan amfibi yang memadai, AS dinilai bisa menguasai sebuah pulau kecil milik Iran.

Namun Krieg menegaskan bahwa merebut pulau tidak sama dengan mempertahankannya. Menurutnya, tantangan utama muncul pada logistik, perlindungan pasukan, dan kemampuan menjaga pulau itu tetap memberi keuntungan strategis.

Target Karakteristik Risiko bagi AS
Pulau Qeshm Ukuran besar, menempel langsung dengan daratan utama Iran Sulit direbut dan dipertahankan
Pulau kecil seperti Hengam Lebih mudah direbut secara taktis Tetap berada dalam jangkauan serangan Iran
Pulau Kharg Jalur sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran Memicu spekulasi operasi darat dan eskalasi lebih luas

AS sendiri diperkirakan memiliki sekitar 50.000 personel militer di Timur Tengah, tersebar di pangkalan permanen dan pos-pos militer kecil. Dari sisi logistik, kekuatan itu memberi ruang untuk operasi terbatas, tetapi belum tentu cukup untuk mempertahankan pendudukan yang berkepanjangan.

Butuh Ribuan Personel untuk Operasi Terbatas

Krieg memperkirakan operasi terbatas saja membutuhkan sedikitnya 5.000 hingga 10.000 personel militer. Jumlah itu sudah mencakup pasukan tempur, pertahanan udara, insinyur, logistik, tenaga medis, hingga unsur komando.

Jika targetnya lebih dari satu pulau atau tujuan operasi melebar, kebutuhan pasukan bisa meningkat tajam. Seluruh unsur itu juga harus bergerak di bawah ancaman langsung dari daratan utama Iran.

Menurut Krieg, kapal logistik, kapal pendarat, dan helikopter harus melintasi perairan yang terpapar rudal, drone, ranjau, dan artileri. Iran, kata dia, tidak perlu buru-buru merebut kembali pulau yang diduduki untuk memberi tekanan.

Cukup dengan membuat pulau itu menjadi posisi Amerika yang mahal, rentan, dan memalukan secara politik melalui serangan yang terus-menerus. Dalam skenario seperti itu, misi perlindungan pasokan justru bisa berubah menjadi komitmen pendudukan tanpa batas waktu.

Selat Hormuz Tetap Jadi Titik Rawan

Krieg juga menilai perebutan pulau-pulau Iran tidak otomatis menghentikan ancaman terhadap Selat Hormuz. Iran masih bisa meluncurkan rudal dan drone dari daratan utama, sehingga gangguan terhadap pelayaran internasional tetap mungkin terjadi.

Untuk benar-benar menghilangkan kemampuan Iran mengacaukan jalur itu, AS harus menghancurkan sistem pertahanan Iran di pesisir selatan dan bahkan berpotensi menduduki sebagian wilayah pantainya. Pada titik itu, operasi tidak lagi terbatas pada perebutan pulau.

Krieg menyebut skenario tersebut sebagai awal dari perang darat yang jauh lebih besar. Nader Hashemi, profesor politik Timur Tengah Universitas Georgetown, juga menilai skenario semacam itu sangat kecil kemungkinan terjadi.

Hashemi mengatakan operasi itu membutuhkan kampanye pengeboman yang jauh lebih intens dibandingkan serangan yang terjadi sejauh ini. Menurutnya, semuanya masih berada pada tingkat teori, bukan kemungkinan yang realistis.

Risiko Eskalasi bagi Kawasan

Para analis memperingatkan bahwa jika AS benar-benar merebut pulau-pulau Iran, Teheran hampir pasti menganggapnya sebagai eskalasi besar. Iran diperkirakan akan meningkatkan penanaman ranjau di Selat Hormuz, menyerang kapal dagang, pangkalan AS di kawasan, serta infrastruktur energi negara-negara Teluk.

Dampak ekonominya juga bisa langsung terasa. Perusahaan pelayaran kemungkinan tetap menghindari Selat Hormuz, premi asuransi kapal bisa melonjak, dan proses pembersihan ranjau memerlukan waktu lama.

Langkah semacam itu juga berpotensi merusak hubungan AS dengan negara-negara Teluk. Mereka menginginkan Selat Hormuz kembali terbuka, tetapi tidak ingin wilayahnya berubah menjadi basis operasi militer atau sasaran serangan balasan Iran.

Pada akhirnya, perebutan pulau-pulau Iran mungkin memberi kemenangan simbolis bagi AS. Namun menurut Krieg, kemenangan seperti itu justru berisiko mengubah konflik kebebasan pelayaran menjadi perang perebutan wilayah yang jauh lebih mahal untuk dijaga.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru