AI untuk Penyandang Disabilitas, Jalan Baru Menuju Mandiri dan Peluang Ekonomi

Author: Qoo Media

Kecerdasan buatan atau AI dinilai dapat membuka jalan baru bagi penyandang disabilitas untuk menjalani aktivitas dengan lebih mandiri. Teknologi ini berpotensi membantu kebutuhan sehari-hari, memperluas komunikasi, hingga mendukung peluang ekonomi.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai pemanfaatan AI perlu terus ditingkatkan agar transformasi digital tidak meninggalkan kelompok disabilitas. Menurutnya, teknologi harus menjadi instrumen keadilan sosial yang bisa diakses seluruh warga negara.

AI sebagai alat bantu yang lebih personal

AI menawarkan fitur yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap pengguna. Kemampuan tersebut membuat teknologi ini berpotensi menjadi alat bantu efektif bagi penyandang disabilitas dalam mengenali lingkungan dan berkomunikasi.

Bagi tunanetra, teknologi computer vision dapat membantu mendeskripsikan gambar serta keadaan di sekitar pengguna. Sementara bagi tunarungu, transkripsi ucapan ke teks dan penerjemahan bahasa isyarat dapat membuka akses komunikasi yang lebih luas.

Kelompok Pengguna Teknologi AI Potensi Manfaat
Tunanetra Computer vision Mendeskripsikan gambar dan lingkungan sekitar
Tunarungu Speech-to-text dan penerjemahan bahasa isyarat Membuka akses komunikasi lebih luas

Rangkaian kemampuan tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan buatan tidak hanya berkaitan dengan otomatisasi pekerjaan. Dalam konteks disabilitas, AI dapat berfungsi sebagai jembatan untuk mengurangi hambatan dalam akses informasi dan interaksi.

Lestari, yang akrab disapa Rerie, menyebut teknologi AI kini menjadi harapan baru bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Ia memandang penguasaan teknologi ini dapat membantu meningkatkan produktivitas dan kemandirian pengguna.

Akses pendidikan mulai terbuka

Perkembangan teknologi inklusif juga berkaitan dengan semakin terbukanya akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa disabilitas. Data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi per Juni 2025 mencatat 3.128 mahasiswa disabilitas sedang menuntut ilmu di 282 perguruan tinggi.

Angka tersebut dinilai menjadi tanda bahwa ruang pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas semakin terbuka. Namun, akses terhadap teknologi pendukung tetap penting agar proses belajar dan pengembangan keterampilan dapat berlangsung lebih setara.

AI dapat memberi dukungan dalam aktivitas yang berkaitan dengan pengenalan visual, pemrosesan suara, dan komunikasi. Pemanfaatannya perlu diarahkan sesuai kebutuhan pengguna, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi digital.

Peluang ekonomi di tengah dominasi sektor informal

Tantangan berikutnya berada pada lapangan kerja dan kemandirian ekonomi. Data Badan Pusat Statistik pada 2025 menunjukkan sekitar 70 persen penyandang disabilitas masih bekerja di sektor informal.

Menurut Lestari, penguasaan AI dapat menjadi akselerator untuk membuka peluang ekonomi sekaligus meningkatkan produktivitas penyandang disabilitas. Teknologi ini dipandang dapat membantu pengguna mengembangkan kapasitas dalam menghadapi perubahan dunia kerja.

Dalam keterangan tertulis yang dikutip www.medcom.id pada Kamis, 16 Juli 2026, Lestari menekankan bahwa pemanfaatan AI berkaitan dengan amanat konstitusi. “Pembukaan UUD 1945 memberi mandat yang sangat jelas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang berarti bagi seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas. Pemanfaatan AI bagi disabilitas merupakan bagian pelaksanaan amanat konstitusi,” kata Lestari.

Ia menegaskan transformasi digital harus menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk penyandang disabilitas. Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi alat bantu yang memperkuat akses pendidikan, komunikasi, produktivitas, dan kemandirian.

Source: www.medcom.id
Terbaru