Sekitar 80% anak yang disurvei Forum Anak Jawa Tengah mengaku lebih memilih bercerita kepada teman saat menghadapi masalah. Temuan yang melibatkan lebih dari 20.000 responden itu menjadi alarm tentang pentingnya rumah sebagai ruang aman pertama bagi anak.
Hanya sekitar 20% responden yang terbuka kepada orang tua, sebuah kesenjangan yang disoroti Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi. Menurutnya, penguatan perlindungan anak tidak bisa hanya bertumpu pada sekolah atau pemerintah, tetapi harus dimulai dari keluarga.
Arifah menegaskan lingkungan yang aman bagi anak perlu dibangun secara menyeluruh, dari keluarga, satuan pendidikan, dan ruang publik hingga ruang digital. Langkah itu menjadi fokus dalam Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di tengah tingginya kasus kekerasan terhadap anak.
“Tema ini penting melihat dari semakin tingginya angka kekerasan terhadap anak. Dan kami melihat ini pondasi utamanya ada di keluarga,” kata Arifah dalam konferensi pers di Rumah Dinas Menteri PPPA, Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026).
Keluarga sebagai ruang pertama anak
Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi Anak untuk Membangun Masa Depan Bangsa”. Arifah memandang keluarga sebagai fondasi utama untuk memberi rasa aman dan nyaman bagi anak.
Ia mempertanyakan alasan banyak anak tidak memiliki waktu maupun kesempatan untuk menyampaikan persoalan kepada orang tua. Kondisi itu membuat anak lebih sering mencari tempat bercerita pada teman sebaya ketika menghadapi masalah.
Menurut Arifah, anak yang jumlahnya sekitar sepertiga dari total penduduk Indonesia merupakan aset strategis bagi masa depan bangsa. Karena itu, seluruh unsur masyarakat didorong terlibat menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.
Sejak 2025, pelaksanaan HAN memakai konsep desentralisasi, berbeda dari pola peringatan pada tahun-tahun sebelumnya. Skema ini membuka ruang bagi kegiatan ramah anak di kementerian, lembaga, BUMN, pemerintah daerah, hingga desa.
Kolaborasi lintas lembaga
Kementerian PPPA memperluas sinergi lintas kementerian dan lembaga melalui gerakan nasional ruang aman dan nyaman untuk Anak. Gerakan tersebut diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Sejumlah aturan dan program turut diintegrasikan dalam gerakan itu untuk memperkuat perlindungan anak di berbagai ruang. Di antaranya Peraturan Presiden Nomor 87 tentang Peta Jalan Perlindungan Anak di Ranah Daring, program PPD Tunas dari Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Keputusan Menteri Agama tentang Pesantren dan Madrasah Ramah Anak.
Upaya di lingkungan pendidikan juga mencakup Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah yang Aman. Rangkaian kebijakan tersebut diarahkan agar perlindungan anak tidak berjalan sendiri-sendiri di tiap sektor.
Beritasatu.com melaporkan, rangkaian HAN 2026 juga mencakup Kampanye BERLIAN atau Bersama Lindungi Anak-Anak Kita. Kegiatan lain meliputi lokakarya Forum Anak di berbagai tingkatan dan program KEMUDI yang menjadi saluran aspirasi anak kepada kementerian serta lembaga.
Program Jelajah Sapa akan menyasar Bantar Gebang, yayasan penampungan korban tindak pidana perdagangan orang, hingga anak-anak penyandang disabilitas. Agenda ini menempatkan anak yang memerlukan perhatian khusus sebagai bagian dari peringatan HAN.
Agenda peringatan HAN 2026
| Kegiatan | Peserta atau Sasaran | Waktu/Lokasi |
|---|---|---|
| Kunjungan ke Istana Negara | 150 anak jalanan, pemulung, dan anak yang memerlukan perlindungan khusus | 30 Juli 2026 |
| Rekreasi ke Dunia Fantasi | Anak-anak dalam rangkaian HAN | 25 Juli 2026 |
| Puncak HAN ke-42 | Permainan tradisional dan Festival Budaya Anak Indonesia | 23 Juli 2026, Kepulauan Riau dan Universitas Indonesia |
Puncak peringatan akan digelar di Kepulauan Riau bersama SERUNI dengan permainan tradisional berbasis kearifan lokal. Festival Budaya Anak Indonesia di Universitas Indonesia juga menjadi lokasi lain untuk puncak HAN ke-42 pada 23 Juli 2026.
Rangkaian kegiatan tersebut menegaskan bahwa perlindungan anak bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Pesan utama yang ditekankan Menteri PPPA adalah kebutuhan menghadirkan keluarga yang terbuka, sehingga anak memiliki tempat pertama untuk didengar dan dilindungi.
Source: www.beritasatu.com






