B50 dan Kilang Balikpapan Jadi Kunci, Airlangga Sebut Ketergantungan Solar Hilang

Pemerintah menyatakan ketergantungan Indonesia terhadap solar dapat dihilangkan seiring penerapan B50 dan rampungnya proyek RDMP Balikpapan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kondisi itu membuka ruang lebih besar bagi produksi energi di dalam negeri.

Pernyataan tersebut menempatkan bahan bakar dan pengolahan minyak sebagai fondasi agenda swasembada energi nasional. Pemerintah juga mengaitkannya dengan hilirisasi, industrialisasi, penguatan akses energi, serta percepatan transisi energi.

Airlangga menyampaikan hal itu dalam Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri atau P3DN Summit di Jakarta, Rabu (22/7/2026). Menurutnya, ketidakpastian global membuat diversifikasi sumber energi menjadi kebutuhan penting bagi Pertamina.

“Terima kasih juga dengan implementasi B50 dan selesainya RDMP di Balikpapan, maka ketergantungan terhadap solar menjadi hilang. Jadi kita sudah bisa produksi sendiri,” kata Airlangga.

Energi Jadi Dasar Pengembangan Industri

Airlangga menekankan bahwa energi menjadi kebutuhan paling awal sebelum pembangunan industri, digitalisasi, maupun infrastruktur lainnya berjalan. Setelah pasokan energi tersedia, kebutuhan berikutnya adalah infrastruktur listrik untuk menopang aktivitas ekonomi.

Ia menyebut Pertamina sebagai salah satu fondasi penting bagi Indonesia dalam konteks tersebut. Posisi ini dinilai relevan ketika pemerintah berupaya menjaga ketahanan energi di tengah perubahan kondisi global.

AgendaLangkah yang DisorotTujuan yang Ditekankan
B50 dan RDMP BalikpapanPenerapan B50 serta penyelesaian proyek kilangMendorong kemampuan produksi solar di dalam negeri
P3DN PertaminaTarget belanja produk dalam negeri lebih dari Rp500 triliunMemperbesar peran industri nasional
Proyek AndamanAceh didorong menjadi laying down areaMenciptakan multiplier effect dan menyerap tenaga kerja lokal

Di sisi lain, pemerintah menyatakan tetap menjaga daya beli masyarakat dan keberpihakan kepada sektor produktif rakyat. Kebijakan itu mencakup penyediaan Pertalite dan Solar, termasuk harga khusus Solar Rp15.000 per liter bagi armada kapal nelayan berukuran 30-200 GT.

Program energi tersebut berjalan beriringan dengan dorongan penggunaan produk dalam negeri. Pemerintah menjadikan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat agenda tersebut.

Belanja Dalam Negeri dan Tantangan EPC

Airlangga mengapresiasi target belanja produk dalam negeri Pertamina yang mencapai lebih dari Rp500 triliun. Namun, ia menyoroti belanja modal sektor migas dan petrokimia yang masih banyak didominasi produk dan jasa dari luar negeri.

Komponen yang disorot mencakup permesinan, perangkat elektrik, serta jasa rekayasa atau engineering. Karena itu, Kementerian dan Lembaga terkait didorong membangun sinergi rekayasa industri agar porsi pekerjaan Engineering, Procurement, and Construction atau EPC dapat kembali dikerjakan di dalam negeri.

Menurut laporan www.cnbcindonesia.com, Airlangga menilai Indonesia telah memiliki sejumlah kemampuan untuk memperbesar kontribusi industri lokal. Ia menyebut ketersediaan wellhead, valve, pressure vessel, hingga chemicals project atau product sebagai modal yang dapat dimanfaatkan.

“Kita ingin agar pekerjaan ini diambil oleh engineers-engineers Indonesia,” ujar Airlangga. Ia berharap kapasitas tersebut menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi industri nasional.

Andaman Project Diminta Libatkan Aceh

Proyek strategis Andaman di lepas pantai Aceh juga menjadi perhatian dalam agenda penguatan industri domestik. Airlangga meminta Aceh dijadikan laying down area agar kegiatan proyek memberikan dampak ekonomi lebih luas di daerah.

Skema itu diharapkan dapat memperbesar penyerapan tenaga kerja lokal dan menciptakan multiplier effect. Pemerintah ingin kemampuan industri, tenaga ahli, serta barang modal nasional ikut terlibat dalam proyek-proyek energi besar.

Airlangga menilai daya saing Indonesia saat ini didukung harga energi yang kompetitif, ketersediaan tenaga kerja, dan perkembangan ekosistem AI. Faktor-faktor tersebut disebut telah mendorong minat investasi, termasuk di berbagai Kawasan Ekonomi Khusus yang sebagian besar telah terisi.

Ia mengingatkan bahwa peluang tersebut perlu dimanfaatkan dalam tiga hingga empat tahun ke depan sebelum kondisi global kembali berubah. Fokusnya tetap pada penguatan engineering dan barang modal Indonesia agar industri domestik tidak hanya menjadi pasar, melainkan ikut mengerjakan proyek-proyek strategis.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terkait