Seabad Gempa Padang Panjang, Sejarah 1926 Jadi Alarm Kesiapsiagaan

Author: Qoo Media

Gempa Padang Panjang pada 28 Juni 1926 meninggalkan jejak kehancuran besar di Sumatra Barat, dengan ratusan korban jiwa dan ribuan rumah rusak berat. Seabad setelah peristiwa itu, sejarah “Gampo Tujuh Hari” kembali diangkat sebagai pengingat bahwa kesiapsiagaan gempa tidak boleh mengendur.

Pesan tersebut mengemuka dalam bedah buku Gempa Tujuh Hari: Sejarah Gempa 1926 di Dataran Tinggi Padang, Mengingat untuk Bertahan karya wartawan Media Indonesia Yose Hendra. Acara bertajuk “Seabad Gempa Padang Panjang: Menguatkan Kesiapsiagaan Masa Kini” itu digelar oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas melalui Program Studi S-2 Magister Manajemen Bencana.

Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rustian menilai kajian sejarah bencana penting untuk memperkuat kesiapan masyarakat menghadapi ancaman gempa saat ini. Menurutnya, Sumatra Barat termasuk wilayah dengan aktivitas kegempaan tinggi dan masyarakat berpenghasilan rendah masih memiliki kerentanan besar.

Rustian menekankan pengurangan risiko bencana perlu masuk ke perencanaan pembangunan jangka menengah dan jangka panjang. Langkah itu dinilai penting karena gempa besar berulang kali terjadi di kawasan tersebut dalam rentang lebih dari dua abad.

Jejak Gempa Besar di Sumatra Barat

Catatan yang dipaparkan dalam forum menunjukkan sedikitnya sembilan gempa besar terjadi di Sumatra Barat sejak 1797 hingga 2022. Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan ancaman datang dari zona subduksi Mentawai maupun jalur Sesar Sumatra yang masih aktif.

Tahun Peristiwa Keterangan
1797 Gempa dan tsunami Megathrust Mentawai Gempa besar di zona subduksi
1833 Gempa Megathrust Gempa besar di kawasan Mentawai
1926 Gempa Padang Panjang-Lembah Anai Dikenal sebagai Gampo Tujuh Hari
1977 Gempa Pasaman Gempa besar di Sumatra Barat
1995 Gempa Kerinci-Solok Selatan Terjadi di jalur Sesar Sumatra
2007 Gempa Solok-Tanah Datar Gempa besar di wilayah daratan
2009 Gempa Padang Memicu kerusakan rumah dalam jumlah besar
2010 Gempa dan tsunami Mentawai Gempa besar di kawasan kepulauan
2022 Gempa Pasaman Barat Gempa besar terbaru dalam catatan tersebut

Yose Hendra menjelaskan, gempa besar di jalur Sesar Sumatra pernah berulang pada 1822, 1926, dan 2007. Wilayah ini juga mengenal fenomena doublet earthquake, ketika dua gempa utama muncul berurutan dalam waktu singkat pada segmen sesar yang berbeda.

Gempa 28 Juni 1926 menjadikan Padang Panjang sebagai salah satu wilayah terdampak paling parah, sehingga peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Gempa Padang Panjang. Sedikitnya 2.383 rumah roboh atau rusak berat, sementara 1.709 rumah di antaranya berada di wilayah X Koto.

Korban jiwa mencapai 247 orang, termasuk 220 orang di Padang Panjang dan X Koto. Kerusakan juga menjalar ke Fort de Kock atau Bukittinggi, Agam, Batusangkar, Payakumbuh, Maninjau, hingga Lubuk Sikaping, dengan kerugian diperkirakan sekitar 10 juta gulden.

Istilah “Gampo Tujuh Hari” muncul karena ratusan gempa susulan terus terjadi selama berhari-hari setelah guncangan utama. Getaran bahkan masih tercatat hingga Agustus 1926 dan menjadi memori kolektif masyarakat Minangkabau, sebagaimana dijelaskan Yose dalam forum tersebut.

Kearifan Lokal dan Rumah Aman Gempa

Selain belajar dari catatan bencana, Rustian mendorong penghidupan kembali kearifan lokal sebagai bagian dari mitigasi. Ia mencontohkan rumah panggung tradisional Minangkabau yang memiliki konstruksi adaptif terhadap guncangan gempa.

Tiang rumah yang tidak ditanam langsung ke tanah memungkinkan bangunan mengikuti arah guncangan. Prinsip itu disebut memiliki kemiripan dengan konsep base isolator pada teknologi bangunan modern.

Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi turut membagikan pembelajaran dari penanganan pascagempa Padang 2009. Menurut data yang disampaikan, sekitar 249.433 rumah mengalami kerusakan ringan, sedang, maupun berat akibat gempa tersebut.

Proses rehabilitasi dan rekonstruksi setelah gempa Padang 2009 melahirkan pembelajaran mengenai teknologi konstruksi, standar bangunan tahan gempa, tata kelola perizinan, serta peningkatan kapasitas tenaga tukang. Dody mengingatkan, tantangan berikutnya ialah menjaga kesadaran masyarakat agar tidak menurun seiring waktu.

Literasi Bencana di Kampus

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di The Gade Creative Lounge, Perpustakaan Universitas Andalas, Padang, mempertemukan akademisi, praktisi, aktivis, dan unsur lintas organisasi. Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas Henny Lucida menyebut forum ini sebagai ruang untuk mempertemukan riset, pengalaman praktis, dan pelajaran sejarah.

Ketua Program Studi S-2 Magister Manajemen Bencana Universitas Andalas, Prof. Yenny Narny, menilai peringatan seabad gempa Padang Panjang menjadi momentum memperkuat literasi kebencanaan. Ia menekankan masyarakat tangguh harus dibangun melalui pengetahuan, kolaborasi, dan aksi nyata dalam menghadapi ancaman gempa bumi.

Diskusi kemudian menyoroti strategi pengurangan risiko bencana, pelestarian pengetahuan lokal, serta penguatan budaya siap siaga di Sumatra Barat. Sejarah gempa 1926 pun ditempatkan bukan sekadar sebagai catatan masa lalu, melainkan bahan belajar untuk mengurangi risiko pada masa depan.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru