Pada Jumat sore di Jakarta Timur, hujan deras mengguyur kawasan Condet, namun hal tersebut tidak menghalangi para tamu undangan untuk hadir di kediaman Prof. KH Ali Masykur Musa. Di tengah suasana dingin dan hujan itu, berlangsung acara peluncuran buku terbaru beliau berjudul Prinsip-prinsip Negara Indonesia: Syarah Konstitusi yang sekaligus menjadi momen perayaan ulang tahunnya yang ke-63. Acara di bangunan joglo limasan itu dipenuhi oleh kehangatan diskusi, doa, serta tawa, menciptakan nuansa yang sarat arti dan kekeluargaan.
Lahirnya Sebuah Karya Hasil Perenungan Panjang
Prof. KH Ali Masykur Musa yang kini menjabat sebagai Komisaris Independen PT PLN (Persero) menegaskan bahwa buku tersebut bukan sekadar tulisan teoritis, melainkan hasil dari pergulatan intelektual dan pemikiran mendalam tentang hubungan antara agama, negara, dan Pancasila. “Negara ini tidak boleh rapuh. Ia harus dibangun di atas kalimat sawad, suatu titik temu yang mempertemukan berbagai pandangan dari latar belakang agama, suku, etnik, serta wilayah,” ujar beliau dengan tegas.
Menurut Kyai Ali, keberagaman Indonesia—baik dari segi geografis maupun populasi—mewajibkan adanya fondasi kuat agar negara tetap kokoh. Buku ini hadir sebagai upaya mempertegas bahwa Indonesia adalah negara Pancasila yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Empat Fondasi Utama dalam Buku Ke-19 Karya Kyai Ali
Buku yang telah lama ditunggu ini sebenarnya mulai ditulis sejak masa jabatan beliau di DPR RI lebih dari sepuluh tahun lalu. Namun baru tahun ini karya tersebut bisa diterbitkan dan dipublikasikan. Dalam buku ini, Kyai Ali mengemukakan empat fondasi penting sebagai kerangka nasional, yaitu:
- Musyawarah sebagai dasar bernegara
- Pancasila sebagai norma fundamental yang tidak boleh diganggu gugat
- Pancasila sebagai wujud nilai-nilai Islam di Indonesia
- Indonesia sebagai “Madinah kedua” tempat keberagaman hidup berdampingan secara damai
Ia menambahkan, “Generasi boleh berubah, zaman boleh berganti, tapi prinsip bernegara harus tetap kokoh di bawah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Itulah misi suci saya melalui buku ini.”
Tanggapan Beragam dari Berbagai Kalangan
Acara peluncuran buku tersebut juga diwarnai dengan berbagai testimoni dari para tamu undangan yang terdiri dari kalangan BUMN hingga santri. Adi Priyanto, Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero), menyatakan kekagumannya terhadap isi buku yang runtut dan mudah dipahami. Ia menyoroti penekanan Kyai Ali terhadap Pasal 33 UUD 1945 yang selaras dengan amanat Presiden Prabowo Subianto bahwa BUMN hadir untuk kesejahteraan rakyat.
Adi menambahkan bahwa Kyai Ali bukan hanya komisaris yang duduk di kantor, tetapi aktif turun langsung ke lapangan, memastikan pelayanan listrik menyentuh hingga ke pelosok negeri. Hal ini menunjukkan komitmen beliau dalam menguatkan keberadaan PLN sebagai penopang kemajuan bangsa.
Sementara itu, Direktur Distribusi PLN, Arsyadany Ghana Akmalaputri, melihat sisi spiritual dari buku tersebut. “Karya ini membuka cara pandang baru dalam bekerja dengan keikhlasan dan kolbu, bukan hanya logika manajerial. Listrik yang kita kelola bukan sekadar cahaya, tapi sebuah keberkahan,” ujarnya reflektif.
Penghormatan juga datang melalui puisi oleh Abdurrahman El-Syarif, tamu asal Madura, yang mengibaratkan Kyai Ali sebagai lentera yang menyulam hikmah dan kasih sayang.
Harapan dari Santri dan Masyarakat Bawah
Euis Badriah Asikin dari jamaah Pasulukan Almas Kuriyah menilai waktu peluncuran buku ini sangat tepat di tengah ketidakpastian bangsa. Ia berharap agar buku ini tidak hanya dikenal kalangan intelektual, tetapi sampai ke masyarakat akar rumput agar makin cerdas.
Mad Tohir dari Tangerang juga mengaku mendapat pemahaman baru tentang prinsip-prinsip negara. Menurutnya, buku ini dapat menjadi arahan penting untuk memahami kedaulatan bangsa dan memberikan manfaat luas bagi umat dan negara.
Ucapan Doa dan Harapan di Usia 63 Tahun
Selain peluncuran buku, doa dan ucapan selamat ulang tahun untuk Prof. KH Ali Masykur Musa turut mempererat kehangatan suasana. Adi Priyanto berharap Kyai Ali selalu sehat, panjang umur, dan terus produktif menulis. Arsyadany Ghana menyampaikan penghormatan sebagai mursyid dan guru yang selalu mengikuti pengajian Kyai Ali, berharap beliau selalu dimuliakan oleh Allah SWT.
Euis Badriah menambahkan bahwa angka 63 semoga membawa keberkahan dan kesejahteraan lebih bagi Indonesia dengan kehadiran karya dan teladan Kyai Ali.
Sumber Inspirasi dan Cahaya bagi Bangsa
Kediaman Kyai Ali malam itu menjadi ruang yang penuh cahaya pengetahuan dan kehangatan spiritual. Buku Prinsip-prinsip Negara Indonesia: Syarah Konstitusi menjadi hadiah ulang tahun sekaligus warisan intelektual untuk generasi mendatang. “Buku ini bukan untuk saya pribadi, tapi untuk memastikan jiwa nasionalisme tetap kokoh di tengah derasnya arus digital,” ujar beliau menutup acara dengan penuh semangat.
Di usia 63 tahun, Prof. KH Ali Masykur Musa terus menerangi jalan bangsa sebagai guru, negarawan, dan penulis yang tidak pernah lelah menyalakan api kebangsaan di hati para murid, sahabat, dan seluruh rakyat Indonesia.
