Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah, mengusulkan agar kantin sekolah diubah fungsi menjadi dapur untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan kasus keracunan makanan yang marak terjadi di sejumlah sekolah, sekaligus mendorong perputaran ekonomi di tingkat masyarakat bawah.
Menurut Said, transformasi kantin menjadi dapur MBG dapat menjadi solusi yang efektif untuk menjamin keamanan dan kualitas makanan yang disajikan bagi para pelajar. “Percaya deh, uang akan beredar di setiap kabupaten lewat sekolah. Dampaknya ke putaran masyarakat bawah akan lebih oke,” ujarnya saat ditemui pada Selasa (30/9/2025).
Kaitan Program Dapur MBG dengan Pencegahan Keracunan
Usulan tersebut lahir dari banyaknya insiden keracunan makanan yang terjadi di lingkungan sekolah beberapa waktu terakhir. Dengan menyediakan dapur khusus yang mengelola makanan bergizi secara terstruktur dan higienis, kualitas nutrisi dan keamanan pangan dapat dijaga lebih baik. Ini juga melibatkan tenaga pendidik yang bisa didorong untuk berperan aktif dalam pengelolaan dan pengawasan dapur MBG.
Said menegaskan pentingnya upaya ini sebagai prioritas dalam melindungi keselamatan anak didik. “Tidak ada kata terlambat. Keselamatan anak didik adalah nomor satu, prioritas. Jangan sampai terjadi lagi kasus keracunan,” tegasnya.
Pembelajaran dari Negara Lain
Idenya tidak datang tanpa contoh nyata. Beberapa negara maju seperti Jepang dan China sudah lebih dulu melaksanakan program serupa dengan menyediakan dapur khusus di sekolah. Program itu terbukti mendukung penyediaan makanan yang bergizi, higienis, dan konsisten bagi siswa. Model tersebut bisa diadopsi untuk menyesuaikan kondisi dalam negeri, sehingga kualitas program MBG dapat ditingkatkan.
Dukungan dari Badan Gizi Nasional dan Implikasi Ekonomi
Said Abdullah berharap usulan ini mendapat dukungan penuh dari Badan Gizi Nasional (BGN) agar dapat segera direalisasikan secara nasional. Selain aspek kesehatan dan keselamatan, program dapur MBG juga punya efek positif ekonomi yang signifikan. Dengan skema ini, ekonomi lokal dapat ikut bergerak karena kebutuhan bahan baku dan tenaga kerja untuk operasional dapur MBG akan menyerap produk dan jasa dari masyarakat setempat.
“Kalau program ini berjalan, bukan hanya anak sehat, tetapi ekonomi lokal juga ikut bergerak,” tambah Said.
Peran Sekolah dalam Memajukan Program MBG
Transformasi kantin menjadi dapur MBG juga menandai peran sekolah yang lebih aktif dalam memperhatikan kesejahteraan siswa secara menyeluruh. Pengelolaan makanan bergizi yang terjamin dapat meningkatkan kesehatan dan konsentrasi belajar siswa. Di saat yang sama, sekolah menjadi titik sentral yang menggerakkan ekonomi mikro di sekitar lingkungan sekolah.
Data dan Fakta Tambahan Seputar Program MBG dan Penanganan Keracunan
- Sekolah menjadi salah satu titik rawan kasus keracunan makanan, yang memerlukan pengawasan dan pengelolaan ketat.
- Pemerintah melalui berbagai lembaga telah menanggung biaya perawatan korban keracunan makanan agar dampak negatifnya bisa diminimalisir.
- Program dapur MBG yang terorganisir diyakini bisa memangkas risiko keracunan sekaligus mendukung ketahanan gizi anak secara berkelanjutan.
Said Abdullah menegaskan kembali bahwa keselamatan dan kesehatan anak didik adalah prioritas utama yang tidak boleh diabaikan. Dengan implementasi dapur MBG di lingkungan sekolah, potensi untuk mewujudkan generasi yang sehat dan berdaya saing akan semakin terbuka. Selain itu, dorongan pemberdayaan ekonomi di level bawah menjadi nilai tambah strategis dari program ini.
Secara keseluruhan, langkah ini menunjukkan integrasi antara kesehatan publik dan ekonomi sosial yang bisa menjadi model efektif untuk program ketahanan pangan dan gizi di sekolah-sekolah Indonesia.
Src: https://www.beritasatu.com/nasional/2926960/usul-kantin-jadi-dapur-mbg-banggar-dpr-ekonomi-sekolah-ikut-berputar?page=all







