Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan menggelar pagelaran wayang kulit dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional pada Jumat malam, 7 November 2025. Pagelaran ini diselenggarakan di Kompleks Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, menghadirkan lakon "Bima Labuh" yang mengisahkan tentang pemimpin fasis dan zalim bernama Prabu Boko.
Acara yang dipandu oleh dalang Ki Sri Susilo Tengkleng dan Ki Amar Pradopo Slenk ini menjadi momen kritik halus terhadap pemimpin yang bersikap tirani dan menindas rakyat. Ketua DPP PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, membuka acara dan menegaskan bahwa pagelaran ini tak sekadar hiburan, melainkan wujud komitmen partai melawan kezaliman dan menegakkan keadilan.
Makna Filosofis Wayang dalam Kritik Sosial
Djarot menjelaskan pentingnya wayang sebagai warisan budaya yang juga menjadi media pendidikan moral dan filosofis. Menurutnya, wayang merupakan tuntunan yang menggambarkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, dharma melawan adharma. Dalam konteks ini, lakon "Bima Labuh" menggambarkan kezaliman yang dilakukan Prabu Boko, raja di negeri Ekocokro yang sangat kejam dan serakah.
Prabu Boko dilukiskan sebagai sosok pemimpin fasis yang menerapkan pajak berat, kebijakan tidak adil, dan memeras rakyat demi mempertahankan kekuasaannya. Sikapnya yang tamak dan menindas rakyat menjadi simbol kepemimpinan yang harus dilawan. Djarot mengingatkan bahwa kekuasaan yang melanggar konstitusi dan menghalalkan segala cara demi mempertahankan kekuasaan merupakan bentuk kepemimpinan yang menipu dan zalim.
Sosok Bima sebagai Simbol Perlawanan
Dalam cerita wayang ini, Bima hadir sebagai satria Pandawa yang dikenal jujur dan berani. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap tirani dan ketidakadilan. Djarot menyebut Bima sebagai sosok yang dikagumi Bung Karno karena kejujuran dan keberaniannya dalam menegakkan kebenaran.
Pertarungan antara Bima dan Prabu Boko melambangkan perlawanan antara kebaikan dan kejahatan. Akhir cerita menunjukkan runtuhnya kekuasaan zalim dengan tumbangnya Prabu Boko, menandai kemenangan nilai-nilai keadilan dan kebenaran atas keserakahan dan keangkaramurkaan.
Pesan PDI Perjuangan Melalui Pagelaran
Pagelaran wayang ini bukan sekadar pagelaran budaya, melainkan juga medium untuk menyampaikan pesan politik dan sosial. PDIP menggunakan cerita ini sebagai refleksi terhadap kondisi kepemimpinan di Indonesia yang harus selalu diawasi agar tidak jatuh ke tangan pemimpin otoriter dan zalim.
Djarot menegaskan pentingnya melawan kepemimpinan yang tidak menghormati konstitusi dan menindas rakyat. “Kepemimpinan seperti ini harus dilawan,” tegasnya. Hal ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan keadilan dan integritas.
Acara dan Partisipasi Publik
Acara tersebut turut dihadiri oleh warga Jakarta yang merupakan penikmat wayang. Pada puncak acara, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang tiba menjelang tengah malam ikut bergabung dan bahkan bernyanyi bersama Ketua DPP dan pesinden. Momen ini menguatkan bahwa pagelaran wayang juga bisa menjadi wadah mempererat kebersamaan dan mengenalkan nilai-nilai luhur wayang kepada masyarakat luas.
PDI Perjuangan menampilkan pagelaran ini sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia Tak Benda. Selain itu, melalui tokoh Prabu Boko, PDIP menyindir dan mengkritik pemimpin yang bertindak fasis dan zalim dengan cara yang halus namun tegas.
Dengan demikian, pagelaran "Bima Labuh" menjadi media strategis bagi PDIP untuk menegaskan komitmen perjuangan melawan kezaliman serta menegakkan keadilan di Indonesia. Lewat kisah wayang, pelajaran moral tentang kepemimpinan yang benar tetap relevan dan menjadi tuntunan bagi masyarakat.
Baca selengkapnya di: www.suara.com