Fabregas Ungkap Siksaan Fisik Conte, Jadi Modal Rahasia Jelang Como Vs Napoli

Author: Qoo Media

Cesc Fabregas kembali menjadi sorotan menjelang laga Como melawan Napoli di Stadion Giuseppe Sinigaglia. Pelatih Como itu mengingat kembali metode keras Antonio Conte, sosok yang pernah membesutnya saat masih bermain di Chelsea.

Pertemuan ini juga menarik karena mempertemukan dua pelatih yang sudah beberapa kali saling berhadapan di berbagai kompetisi domestik sejak 2024. Dari empat duel sebelumnya, Fabregas unggul dengan dua kemenangan, sementara Conte mencatat satu kemenangan dan satu hasil imbang setelah sebelumnya juga kalah dari Como lewat adu penalti pada perempat final Coppa Italia Februari lalu.

Kenangan Fabregas soal Conte di Chelsea

Fabregas tidak menutupi bahwa pengalaman bekerja bersama Conte meninggalkan kesan yang sangat kuat. Ia menyebut pelatih asal Italia itu memberi tuntutan fisik yang tinggi dan membuat para pemain harus bekerja dalam tempo cepat sepanjang sesi latihan.

“Akuy belajar banyak dari Antonio,” kata Fabregas kepada Football-Italia. Pernyataan itu menggambarkan bahwa relasinya dengan Conte tidak hanya soal hasil di lapangan, tetapi juga soal pembentukan mental dan fisik sebagai pesepak bola profesional.

Fabregas menjelaskan bahwa Conte menuntut intensitas penuh dalam setiap detail latihan. Menurut dia, tidak banyak pelatih yang memberinya beban fisik seberat itu selama kariernya.

“Dia pernah membuatku sangat menderita dalam hal fisik, dia selalu menuntut kecepatan, intensitas, melaju dalam kecepatan penuh, tidak ada orang lain yang pernah membuatku lebih menderita lagi,” ujarnya. Pengakuan itu memperlihatkan betapa kerasnya standar latihan yang diterapkan Conte pada masa itu.

Diterapkan kembali di Como

Kini, pengalaman tersebut ikut memengaruhi cara Fabregas membangun tim di Como. Ia tetap menginginkan kerja keras dari para pemainnya, tetapi dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan tim saat ini.

Fabregas menyebut ada unsur latihan dengan bola dan tanpa bola yang ia terapkan, namun tetap mengedepankan mentalitas kerja keras. Pendekatan itu menunjukkan bahwa pengaruh Conte tidak ia tiru mentah-mentah, melainkan diolah sesuai karakter tim yang ia pimpin.

“Akuy juga menginginkannya dari timku, mungkin dengan cara yang sedikit berbeda, beberapa dengan bola atau tanpa bola,” kata Fabregas. Ucapan tersebut menegaskan bahwa prinsip utama yang ia serap dari Conte adalah disiplin, kecepatan, dan intensitas.

Adaptasi yang tidak instan

Fabregas juga menyoroti bahwa metode Conte tidak langsung memberi hasil dalam hitungan hari. Ia menilai tubuhnya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan beban latihan yang berat dan ritme kerja yang sangat tinggi.

Menurut Fabregas, proses adaptasi itu memakan waktu beberapa bulan. Setelah periode tersebut, ia merasa kondisi fisiknya meningkat tajam dan tubuhnya jauh lebih siap menghadapi tuntutan pertandingan.

“Memang benar bahwa setelah empat atau lima bulan beradaptasi dengan metode dia, pada Desember aku sangat cepat. Aku secara fisik merasa luar biasa. Sekalinya aku terbiasa dengan cara dia melakukan banyak hal, mentalitas dia, aku benar-benar percaya pada apa yang dia lakukan,” kata Fabregas. Pernyataan itu menjadi gambaran bagaimana metode Conte bisa membentuk pemain dari sisi fisik maupun keyakinan terhadap proses latihan.

Menjelang duel Como kontra Napoli, cerita Fabregas soal Conte memberi konteks tambahan tentang pertemuan dua tim ini. Di satu sisi ada Conte dengan metode intensitas tinggi yang sudah lama dikenal, dan di sisi lain ada Fabregas yang kini membawa sebagian nilai itu ke Como dengan gaya kepelatihan yang ia sesuaikan sendiri.

Terbaru