Jorge Jesus resmi ditunjuk sebagai pelatih baru tim nasional Portugal. Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) mengganti Roberto Martinez setelah hasil yang tidak cukup membawa tim melaju jauh di Piala Dunia 2026.
Keputusan ini langsung menarik perhatian karena Portugal kini menatap periode besar berikutnya bersama pelatih berpengalaman yang pernah menangani banyak klub top di Eropa dan Amerika Selatan. Namun, detail durasi kontrak Jesus belum diumumkan secara resmi oleh FPF.
Kontrak Panjang Hingga 2030
Berdasarkan laporan jurnalis Italia Fabrizio Romano, pelatih berusia 71 tahun itu telah menandatangani kontrak untuk memimpin Portugal hingga 2030. Artinya, Jesus disiapkan untuk membawa Selecao das Quinas melalui siklus kompetisi yang panjang dan padat.
Dalam periode itu, Portugal dijadwalkan tampil di Nations League, Euro 2028, dan Piala Dunia 2030. Tugas besar tersebut membuat penunjukan Jesus terasa lebih dari sekadar pergantian pelatih, melainkan awal proyek baru untuk jangka menengah.
Pengalaman Panjang Di Berbagai Negara
Jorge Jesus bukan nama baru dalam sepak bola Portugal. Ia pernah menjadi pelatih kepala Amora FC pada 1989, lalu melanjutkan karier di beberapa klub Portugal seperti Belenenses, SC Braga, Benfica, dan Sporting CP.
Pengalamannya juga meluas ke luar negeri. Jesus pernah menangani Al Hilal di Arab Saudi, Flamengo di Brasil, Fenerbahce di Turki, serta yang terbaru Al Nassr di Arab Saudi.
| Klub/Tim | Negara | Capaian yang Disebutkan |
|---|---|---|
| Benfica | Portugal | Juara Liga Portugal, Piala Portugal, dan Piala Liga Portugal |
| Fenerbahce | Turki | Juara Piala Turki |
| Flamengo | Brasil | Juara Liga Brasil |
Rekam jejak itu menjadi alasan mengapa FPF memberi kepercayaan besar kepadanya. Pengalaman menangani klub di beberapa liga berbeda menunjukkan Jesus terbiasa menghadapi tekanan, target tinggi, dan perubahan cepat.
Pengangkatan ini juga menutup era Roberto Martinez di timnas Portugal. FPF memilih jalan baru setelah kegagalan melangkah ke semifinal Piala Dunia 2026, dan kini perhatian tertuju pada bagaimana Jorge Jesus membangun ulang tim untuk turnamen-turnamen berikutnya.
