Timnas Malaysia mengumumkan mundurnya mereka dari turnamen CAFA Nations Cup 2025, kompetisi yang dianggap setara dengan Piala AFF di kawasan Asia Tengah. Keputusan ini diambil setelah para pemain keturunan yang menjadi ujung tombak skuad Harimau Malaya tidak dapat dihadirkan. Pelatih Peter Cklamovski menyatakan bahwa ketidakmampuan membawa pemain-pemain yang aktif di liga-liga papan atas dunia, seperti Spanyol dan Argentina, menjadi salah satu faktor utama mereka tidak ikut serta dalam turnamen tersebut.
CAFA Nations Cup 2025 dijadwalkan berlangsung dari akhir Agustus hingga awal September 2025. Namun, coinciding dengan waktu itu, FIFA Matchday juga berlangsung. Cklamovski menjelaskan, “Kita memiliki pemain yang beraksi di liga terkemuka dunia seperti Spanyol, Argentina, Kolombia, dan Jepang. Untuk membawa mereka ke Tajikistan, itu sesuatu yang mustahil pada September 2025,” ungkapnya. Ini menjadi dilema karena klub-klub Eropa mengutamakan kontrak dan tidak diwajibkan untuk melepas pemain mereka untuk ajang yang tidak masuk dalam kalender FIFA.
Mundurnya Malaysia dari CAFA Nations Cup sebenarnya menjadi ironi, terutama setelah sebelumnya menolak uji coba melawan Timnas Indonesia pada FIFA Matchday. Banyak yang mengamati bahwa keengganan itu mungkin bagian dari persiapan Malaysia untuk tampil di CAFA. Namun dengan tidak adanya pemain-pemain andalan dalam skuad, Indonesia kini memiliki agenda uji coba melawan Lebanon dan Kuwait di Surabaya.
Pemain-pemain keturunan yang dimaksud seperti Facundo Garces, Gabriel Palmero, Dion Cools, Imanol Machuca, dan Rodrigo Holgado telah menjadi pilar penting untuk Malaysia. Ketersediaan mereka sangat dibutuhkan mengingat kontribusi besar mereka dalam kemenangan dramatis Malaysia atas Vietnam dengan skor 3-0 di Kualifikasi Piala Asia 2027. Namun, melihat regulasi FIFA, ketidakmampuan mereka bergabung di turnamen CAFA membuat Malaysia akhirnya mundur.
Kondisi ini memberikan dampak tidak hanya bagi Malaysia, tetapi juga bagi peta persaingan di kawasan Asia Tenggara. Banyak yang berpendapat bahwa keputusan Malaysia ini bisa menjadi karma setelah mereka menolak berhadapan dengan Timnas Indonesia. Saat ini, Indonesia terus melaju positif di jalur menuju babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Uji coba melawan Lebanon dan Kuwait dianggap penting sebagai pemanasan sebelum bertanding melawan tim-tim kuat di babak selanjutnya.
Sebaliknya, dalam situasi ini, Malaysia justru terancam mengalami kesulitan karena mereka tidak memiliki lawan pengganti untuk FIFA Matchday September 2025. Ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk melanjutkan momentum positif dan meningkatkan performa sebelum bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
Menghadapi tantangan yang semakin ketat di arena internasional, Malaysia perlu mengevaluasi kembali pendekatan mereka terhadap pemain keturunan yang menjadi kunci untuk memperkuat tim. Sementara itu, Indonesia terus memperbaiki diri dan menciptakan peluang baru dalam persaingan di kancah sepak bola Asia. Dengan CAFA Nations Cup yang diikuti oleh negara-negara kuat seperti Iran, Uzbekistan, dan Tajikistan, kehadiran Malaysia di turnamen tersebut seharusnya menjadi penambah daya tarik, namun kini hanya tinggal harapan.
Dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian ini, baik Malaysia maupun Indonesia tampak menjalani jalan yang berbeda, di mana dukungan terhadap pemain domestik dan diaspora akan menjadi faktor krusial dalam pencapaian mereka ke depan.
