Mobil Made in Indonesia Melaju Kencang ke Luar Negeri, Ekspor Awal 2026 Naik 23,3 Persen

Mobil buatan Indonesia menunjukkan tren ekspor yang terus menguat di pasar global. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo mencatat pengiriman mobil utuh dari Indonesia naik pada awal tahun, menandakan permintaan luar negeri tetap solid.

Kenaikan ini penting karena memperlihatkan daya saing pabrik otomotif nasional di tengah persaingan regional yang ketat. Bagi pembaca yang mencari gambaran singkat, jawabannya jelas: mobil made in Indonesia sedang laris di luar negeri dan angkanya terus membesar.

Ekspor mobil utuh naik tajam

Pada Februari, ekspor kendaraan utuh atau completely built up (CBU) dari Indonesia mencapai 46.585 unit. Angka itu lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di kisaran 36.789 unit.

Jika dibandingkan Januari, ekspor CBU juga naik dari 40.003 unit menjadi 46.585 unit. Itu berarti ada tambahan 6.582 unit dalam satu bulan, atau tumbuh sekitar 16,5 persen.

Secara akumulatif, ekspor mobil Indonesia selama dua bulan pertama mencapai 86.588 unit. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, totalnya tercatat 70.212 unit sehingga terjadi kenaikan 23,3 persen.

Lonjakan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi kendaraan untuk pasar ekspor. Pabrikan memanfaatkan fasilitas produksi dalam negeri untuk memasok berbagai negara yang membutuhkan model berstandar global.

Merek yang paling banyak mengirim mobil dari Indonesia

Toyota masih menjadi penyumbang terbesar ekspor mobil Indonesia. Pada Februari, merek ini mengirim 16.859 unit ke luar negeri.

Secara total selama dua bulan pertama, ekspor Toyota mencapai 28.440 unit. Pangsa pasarnya tercatat 32,8 persen dari total ekspor CBU nasional.

Di posisi kedua ada Daihatsu dengan ekspor 11.844 unit pada Februari. Secara akumulasi dua bulan pertama, ekspor merek ini mencapai sekitar 22.637 unit.

Mitsubishi Motors menempati posisi ketiga. Pada Februari, ekspornya mencapai 8.710 unit dan total dua bulan pertama berada di kisaran 18.146 unit.

Berikut ringkasan data ekspor CBU dari Indonesia:

MerekEkspor FebruariTotal dua bulan pertama
Toyota16.859 unit28.440 unit
Daihatsu11.844 unit22.637 unit
Mitsubishi Motors8.710 unit18.146 unit

Data ini menunjukkan ekspor Indonesia masih ditopang merek Jepang yang memiliki basis produksi kuat di dalam negeri. Namun, maknanya lebih luas karena rantai pasok lokal, tenaga kerja, dan industri komponen ikut bergerak.

Bukan hanya mobil utuh, CKD juga meningkat

Selain CBU, Indonesia juga mengekspor kendaraan dalam bentuk completely knock down atau CKD. Skema ini mengirim kendaraan dalam bentuk set komponen untuk dirakit di negara tujuan.

Pada Februari, ekspor CKD tercatat 7.898 set. Jumlah itu naik dibanding Januari yang masih berada di kisaran 6.036 set.

Secara total, pengiriman CKD selama dua bulan pertama mencapai 13.934 set. Kenaikan ini menunjukkan bahwa peran Indonesia bukan hanya sebagai pengekspor mobil jadi, tetapi juga sebagai pemasok basis produksi untuk pasar luar negeri.

Model ekspor CKD biasanya dipilih untuk menyesuaikan kebijakan industri di negara tujuan. Negara pengimpor bisa merakit kendaraan secara lokal, sementara Indonesia tetap menjadi pusat suplai komponen utama.

Mengapa mobil Indonesia semakin diterima di luar negeri

Ada beberapa faktor yang mendorong mobil buatan Indonesia semakin kompetitif di pasar ekspor. Faktor itu mencakup kapasitas produksi, standar mutu, dan efisiensi manufaktur.

Setidaknya ada tiga alasan utama yang membuat ekspor terus tumbuh:

  1. Pabrik di Indonesia sudah terintegrasi dengan jaringan produksi global.
  2. Produk yang dibuat mampu memenuhi standar kualitas pasar internasional.
  3. Basis pemasok komponen lokal semakin kuat dan efisien.

Foto dokumentasi di terminal kendaraan IPC Car Terminal, Jakarta, juga menggambarkan aktivitas ekspor yang terus berjalan. Dalam keterangan foto yang dimuat Liputan6, pemerintah disebut berencana memacu ekspor industri otomotif melalui harmonisasi skema PPnBM yang tidak lagi berbasis kapasitas mesin, melainkan emisi kendaraan.

Arah kebijakan seperti itu dinilai relevan dengan tren industri otomotif dunia yang semakin menekankan efisiensi dan emisi rendah. Jika kebijakan pendukung berjalan konsisten, peluang ekspor Indonesia bisa semakin besar.

Permintaan luar negeri yang naik memberi sinyal bahwa mobil produksi Indonesia tidak lagi dipandang sebagai pemain pelengkap. Dengan volume CBU yang menembus 86.588 unit dalam dua bulan pertama serta CKD 13.934 set, industri otomotif nasional sedang memperlihatkan kapasitas nyata sebagai basis ekspor yang diperhitungkan di pasar global.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.liputan6.com

Berita Terkait

Back to top button