Dewan Energi Nasional mendorong adopsi kendaraan listrik di Indonesia mencapai 10 persen sebagai titik awal agar teknologi ini diterima lebih luas oleh masyarakat. Anggota Pemangku Kepentingan DEN, Sripeni Inten Cahyani, menyebut angka tersebut sebagai ambang ideal untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang lebih matang tanpa mengganggu stabilitas industri otomotif konvensional.
Sripeni menjelaskan bahwa level 10 persen sering dipakai sebagai praktik terbaik dalam fase awal adopsi teknologi baru. Pada tahap ini, pasar mulai melihat pengguna awal yang cukup banyak sehingga efek jaringan, kepercayaan konsumen, dan kesiapan industri bisa tumbuh lebih cepat.
Mengapa 10 persen dianggap penting
Target ini bukan sekadar soal penjualan, tetapi juga soal perubahan perilaku pasar. Sripeni menilai Indonesia masih memiliki ruang besar untuk transisi karena jumlah kendaraan bermotor nasional sudah sangat besar, sehingga porsi kendaraan listrik yang naik perlahan tidak langsung menimbulkan tekanan besar pada kendaraan berbahan bakar fosil.
Pendekatan itu juga dinilai lebih realistis dibanding dorongan agresif yang berpotensi memicu resistensi dari industri lama. Dalam konteks ini, DEN tampak ingin menjaga transisi energi berjalan bertahap, terukur, dan tetap memberi waktu bagi pabrikan, konsumen, serta penyedia infrastruktur untuk menyesuaikan diri.
Data pasar menunjukkan tren naik, tetapi masih kecil
Meski pertumbuhannya terlihat positif, pangsa kendaraan listrik di Indonesia masih jauh dari dominasi pasar. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat penjualan mobil listrik berbasis baterai atau BEV pada kuartal I 2026 mencapai 33.150 unit.
Sementara itu, sepanjang 2025, total penjualan kendaraan elektrifikasi tercatat sekitar 175.000 unit dari pasar nasional yang mencapai 800.000 unit. Jika dibandingkan dengan total pasar, kontribusi kendaraan elektrifikasi masih belum mencapai level yang bisa disebut masif.
Data dari Kementerian Perhubungan melalui Sertifikat Registrasi Uji Tipe atau SRUT juga menunjukkan populasi kendaraan listrik berbasis baterai telah melampaui 274.000 unit hingga pertengahan 2025. Angka itu mencakup motor, mobil, dan bus listrik yang sudah beroperasi di berbagai daerah.
Tantangan menuju adopsi 10 persen
Perjalanan menuju adopsi 10 persen masih menghadapi sejumlah hambatan. Tiga tantangan utama yang paling sering muncul ialah kapasitas produksi manufaktur, ketersediaan stasiun pengisian daya, dan daya beli masyarakat yang belum merata.
- Kapasitas produksi pabrikan belum selalu mampu mengejar permintaan yang naik cepat.
- Infrastruktur pengisian daya masih belum merata di banyak wilayah di luar kota besar.
- Harga kendaraan listrik masih menjadi pertimbangan utama bagi banyak konsumen.
- Pasar kendaraan bekas dan layanan purna jual juga perlu berkembang lebih kuat.
Selain itu, pasar mobil nasional yang masih didominasi kendaraan konvensional membuat transisi harus berjalan hati-hati. Industri otomotif juga perlu memastikan rantai pasok, tenaga kerja, dan investasi baru tidak terganggu selama pergeseran teknologi berlangsung.
Satu juta unit sebagai target kerja
DEN tetap menempatkan capaian satu juta unit kendaraan listrik sebagai prioritas kerja. Target itu masih kecil jika dibandingkan dengan total kendaraan bermotor di Indonesia yang diperkirakan telah menembus 100 juta unit, tetapi tetap penting sebagai penanda arah kebijakan energi dan transportasi.
Dalam jangka pendek, strategi yang lebih realistis tampaknya bukan mengejar lonjakan ekstrem, melainkan memperluas ekosistem secara konsisten. Dengan pasar yang masih di bawah satu persen, ruang pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia masih sangat besar, terutama jika insentif, infrastruktur, dan kesiapan industri bergerak sejalan dengan target DEN.
