Lebaran Menekan Ekspor Mobil Maret 2026, CBU Turun 20 Persen dan CKD Lebih Parah

Ekspor mobil dari Indonesia pada bulan lalu ikut melemah seiring turunnya penjualan di pasar domestik. Kondisi itu tidak hanya terjadi pada unit utuh atau CBU, tetapi juga pada skema CKD yang selama ini kerap menjadi penopang industri otomotif nasional ketika pasar dalam negeri melambat.

Data yang dirujuk menunjukkan ekspor CBU turun sekitar 20 persen, dari 46.585 unit pada bulan sebelumnya menjadi 36.867 unit di bulan Maret. Pada saat yang sama, ekspor CKD juga terkoreksi lebih dalam, yakni 36,2 persen, dari 7.898 unit menjadi 5.038 unit, sehingga tekanan terhadap kinerja ekspor terlihat cukup merata di dua jalur pengiriman utama.

Tekanan Lebaran ikut memengaruhi kinerja ekspor

Penurunan itu disebut berkaitan erat dengan dampak libur Lebaran yang memengaruhi aktivitas produksi, distribusi, dan pengiriman. Dalam periode seperti ini, pabrik biasanya menyesuaikan jadwal kerja, sementara jadwal logistik juga bisa terganggu karena libur panjang dan penyesuaian operasional.

Meski begitu, pelemahan pada bulan tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan tren tahunan yang buruk. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, ekspor CBU masih turun 7,5 persen, tetapi ekspor CKD justru naik 10,4 persen, menandakan ada ruang pemulihan di sisi komponen dan set kendaraan terurai.

Pabrikan besar masih mendominasi pengiriman

Toyota tetap menjadi merek dengan kontribusi terbesar dalam ekspor CBU dari Indonesia. Sepanjang bulan lalu, Toyota mengirim 12.870 unit, disusul Daihatsu dengan 9.916 unit dan Mitsubishi sebanyak 9.057 unit, yang menunjukkan dominasi merek Jepang masih kuat dalam struktur ekspor kendaraan utuh.

Di sisi CKD, Mitsubishi memimpin dengan 3.364 set unit, lalu Suzuki dengan 888 set unit dan Hyundai dengan 720 set unit. Posisi ini memperlihatkan bahwa pemain besar masih bergantung pada komposisi produk yang berbeda, tergantung pada tujuan ekspor dan kebutuhan tiap pasar luar negeri.

Ringkasan angka ekspor yang perlu dicatat

  1. Ekspor CBU turun dari 46.585 unit menjadi 36.867 unit.
  2. Ekspor CKD turun dari 7.898 unit menjadi 5.038 unit.
  3. Toyota memimpin ekspor CBU dengan 12.870 unit.
  4. Mitsubishi memimpin ekspor CKD dengan 3.364 set unit.
  5. Dibanding tahun sebelumnya, CKD masih tumbuh 10,4 persen secara tahunan.

Toyota dan Daihatsu masih jadi penopang utama

Toyota masih mengandalkan model SUV seperti Fortuner dan Rush sebagai produk ekspor utama, selain Kijang Innova dan Yaris. Sementara itu, Daihatsu lebih banyak mengirim Gran Max dan model kembarannya yang juga diproduksi untuk merek lain, termasuk Toyota dan Mazda.

Komposisi ekspor seperti ini penting karena menunjukkan bahwa penurunan volume tidak selalu berarti pelemahan menyeluruh pada daya saing produk Indonesia. Dalam sejumlah kasus, penurunan bulanan bisa terjadi karena faktor kalender produksi, bukan semata-mata karena permintaan luar negeri yang melemah.

Pasar domestik dan ekspor bergerak searah

Saat penjualan mobil di dalam negeri menurun, ekspor memang sering diharapkan menjadi bantalan. Namun data bulan lalu menunjukkan tekanan datang dari dua sisi sekaligus, sehingga pelaku industri perlu membaca kondisi secara lebih hati-hati.

Kinerja ke depan akan sangat bergantung pada pemulihan produksi setelah periode libur, stabilitas rantai pasok, dan permintaan dari negara tujuan ekspor. Jika kapasitas pabrik kembali normal dan pengiriman berjalan lancar, kinerja ekspor berpeluang membaik pada bulan berikutnya meski pasar domestik masih berfluktuasi.

Berita Terkait

Back to top button