Tesla menggugat North Dakota dalam sengketa hukum yang bisa menentukan apakah warga negara bagian itu akhirnya dapat membeli mobil Tesla tanpa harus keluar dari wilayahnya. Perselisihan ini berpusat pada rencana Tesla membuka dua dealership, masing-masing di Fargo dan Bismarck, yang ditolak oleh aturan negara bagian.
Aturan di North Dakota melarang produsen kendaraan memiliki dealer sendiri dan mewajibkan penjualan dilakukan melalui dealer waralaba pihak ketiga. Model itu cocok untuk produsen lama seperti Ford dan Chevrolet, tetapi bertabrakan dengan cara Tesla menjalankan bisnisnya yang selama ini mengandalkan penjualan langsung ke konsumen.
Sengketa soal definisi “manufacturer”
Pokok perkara kini berada di hadapan Hakim Bonnie Storbakken dari South Central Judicial District. Sidang argumen digelar pada 13 April, tetapi belum ada pengumuman kapan putusan akan keluar.
Tim hukum Tesla menilai undang-undang North Dakota tidak semestinya diterapkan pada perusahaan itu karena definisi “manufacturer” di aturan negara bagian merujuk pada entitas yang merakit atau mengimpor kendaraan lalu menjualnya ke dealer untuk dijual kembali. Tesla menyatakan pola bisnisnya berbeda karena perusahaan menjual langsung ke pelanggan, bukan menyalurkan mobil ke dealer franchise.
Pengacara Tesla, Ari Holtzblatt, mengatakan perusahaan hanya ingin warga North Dakota bisa membeli kendaraan secara lokal, tanpa harus pergi ke Minnesota atau negara bagian lain. Dalam berkas perkara, Tesla juga menyebut ada lebih dari 800 kendaraan Tesla yang sudah terdaftar di North Dakota, yang menunjukkan bahwa permintaan terhadap mobil merek itu memang sudah ada.
Kondisi tersebut membuat pembelian Tesla di North Dakota terasa tidak praktis bagi sebagian konsumen. Selama ini, pembeli harus menyelesaikan transaksi di luar negara bagian lalu membawa mobilnya pulang sendiri.
Pemerintah negara bagian bertahan dengan aturan lama
North Dakota menolak argumen Tesla dan menilai perusahaan itu meminta pengadilan menciptakan kategori hukum baru di luar kerangka yang sudah ada. Asisten Jaksa Agung Michael Pitcher mengatakan Tesla pada dasarnya ingin dikecualikan dari sistem yang mewajibkan produsen memakai jaringan dealer waralaba.
Menurut negara bagian, jika Tesla menang, produsen lain juga bisa saja meninggalkan sistem waralaba dan memilih jalur serupa untuk menghindari aturan. Pemerintah North Dakota juga menegaskan Tesla tetap bisa menjalankan bisnis di sana bila mengikuti model yang dipakai produsen mobil lain, yakni menunjuk dealer dan menandatangani perjanjian franchise.
Dengan kata lain, North Dakota tidak melihat Tesla sebagai pihak yang dilarang masuk pasar. Negara bagian itu memandang Tesla hanya diminta tunduk pada aturan yang sama seperti produsen kendaraan lain.
Apa yang akan terjadi jika Tesla menang
Kemenangan di pengadilan tidak otomatis membuat showroom Tesla langsung hadir di setiap sudut kota. Jika Tesla berhasil, perusahaan itu tetap harus mengajukan kembali izin dealer dan memenuhi persyaratan hukum lain yang dikelola melalui North Dakota Department of Transportation.
Tesla sebenarnya sudah mengajukan permohonan untuk dua lisensi dealer itu pada 19 September 2024, sehingga proses ini sudah berlangsung selama berbulan-bulan. Karena itu, putusan pengadilan kemungkinan hanya menjadi satu tahap penting dalam rangkaian birokrasi yang masih panjang.
Bagi calon pembeli kendaraan listrik di North Dakota, dampaknya bisa terasa lebih luas daripada sekadar lokasi showroom. Kehadiran toko fisik dapat mempermudah penjualan lokal, dukungan layanan, dan membuat kendaraan lebih mudah dilihat langsung oleh konsumen.
Latar EV di North Dakota
North Dakota masih termasuk negara bagian yang bergerak lebih lambat dalam adopsi kendaraan listrik dan infrastruktur pengisi daya. Tesla mencantumkan lima lokasi Supercharger di negara bagian itu, sementara data U.S. Department of Energy menunjukkan ada 277 port pengisian publik di 108 lokasi.
Sebaran fasilitas itu juga tidak merata dan terkonsentrasi terutama di sepanjang Interstate 94 dan U.S. Highway 2. Artinya, akses memang membaik, tetapi masih terbatas jika dibandingkan dengan negara bagian yang lebih padat penduduknya.
Kasus ini memperlihatkan benturan antara aturan otomotif lama dan model bisnis baru yang dibawa Tesla. Di saat banyak hukum dealer dibuat untuk melindungi dealer lokal dari dominasi produsen besar, pengadilan kini diminta menilai apakah definisi lama itu masih cocok ketika konsumen harus memilih mobil lewat layar ponsel.







