
Wuling Eksion PHEV mulai menjadi sorotan di pasar SUV Indonesia karena langsung berhadapan dengan salah satu rival terkuat di kelasnya, Chery Tiggo 8 CSH. Kehadiran model ini membuat persaingan SUV plug-in hybrid semakin menarik, terutama karena segmen tersebut belum terlalu ramai tetapi sudah diisi pemain dengan kemampuan teknis yang kuat.
Di tengah upaya Wuling memperluas lini mobil ramah lingkungan, Eksion hadir bukan hanya dalam versi PHEV, tetapi juga BEV. Strategi dua jalur ini membuat Wuling masuk ke dua pasar sekaligus, meski tantangannya berbeda karena SUV listrik menghadapi kompetitor lebih banyak dibandingkan SUV PHEV.
Persaingan langsung di segmen PHEV
Chery Tiggo 8 CSH menjadi lawan yang paling menonjol karena model ini disebut sebagai PHEV terlaris tahun lalu. Posisi itu membuatnya punya modal kuat saat berhadapan dengan pendatang baru seperti Wuling Eksion PHEV.
Secara spesifikasi mesin, Tiggo 8 CSH mengandalkan mesin bensin 1.500 cc turbocharged dengan teknologi Chery Super Hybrid. Mesin tersebut menghasilkan tenaga 201 hp dan torsi 215 Nm, lalu ditopang motor listrik yang memberi output 203 hp dan 310 Nm.
Wuling Eksion PHEV memakai pendekatan berbeda. Mobil ini dibekali mesin bensin 1.500 cc naturally aspirated dengan tenaga 105 hp dan torsi 130 Nm, lalu dipadukan motor listrik bertenaga 195 hp dan torsi 230 Nm.
Performa masih unggul ke Chery
Jika dibandingkan langsung, Tiggo 8 CSH masih tampil lebih kuat dari sisi angka performa. Kombinasi tenaga mesin dan motor listriknya membuat model Chery ini terlihat lebih siap untuk bersaing di level atas kelas SUV PHEV.
Eksion PHEV tetap punya daya tarik tersendiri, terutama karena Wuling sudah cukup lama menjual mobil ramah lingkungan di Indonesia. Namun dari data yang tersedia, Wuling masih perlu bekerja keras jika ingin menandingi performa rivalnya itu secara langsung.
Jarak tempuh jadi daya tarik bersama
Meski berbeda dalam angka tenaga, kedua model ini punya kesamaan penting. Keduanya sama-sama diklaim mampu melaju lebih dari 1.000 km dengan memanfaatkan kombinasi mesin bensin dan baterai listrik.
Fakta ini penting karena konsumen SUV PHEV biasanya mencari efisiensi tanpa kehilangan fleksibilitas jarak jauh. Dengan kemampuan seperti itu, baik Eksion PHEV maupun Tiggo 8 CSH menawarkan solusi untuk pengguna yang ingin transisi ke elektrifikasi tanpa bergantung penuh pada pengisian daya.
Wuling masuk pasar dengan tantangan yang tidak ringan
Kehadiran Eksion PHEV juga menunjukkan bahwa Wuling tidak ingin hanya menjadi pelengkap di pasar elektrifikasi. Model ini diposisikan untuk menantang langsung produk yang lebih dulu dikenal, termasuk Chery yang sudah sempat hadir beberapa tahun lalu sebelum sempat hengkang dari pasar roda empat.
Persaingan ini tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal persepsi pasar terhadap merek dan produk. Chery saat ini punya lebih dari satu model CSH di pasar, termasuk C5 CSH yang dirilis pada Februari lalu, sehingga tekanan bagi Wuling tidak berhenti di Tiggo 8 CSH saja.
Di sisi lain, kehadiran Eksion PHEV tetap penting karena memperkaya pilihan konsumen di segmen SUV plug-in hybrid. Jika pasar merespons positif, persaingan dengan Tiggo 8 CSH bisa mendorong lebih banyak perhatian pada teknologi hybrid yang menawarkan efisiensi dan jarak tempuh panjang sekaligus.









