Pajak Tahunan Wuling Eksion 2026 Beda Jauh, Versi Listrik Jauh Lebih Ringan dari Hybrid

Selisih pajak tahunan Wuling Eksion 2026 versi listrik dan hybrid di Indonesia ternyata cukup lebar. Untuk calon pembeli SUV 7-seater ini, perbedaan tersebut bisa menjadi faktor penting sebelum menentukan varian yang paling sesuai.

Varian EV diperkirakan hanya membutuhkan pajak tahunan sekitar Rp500 ribu hingga Rp2 jutaan. Sementara versi hybrid diperkirakan berada di kisaran Rp3 juta hingga Rp6 jutaan per tahun, sehingga jaraknya bisa mencapai beberapa kali lipat.

Biaya ini menjadi sorotan karena pajak kendaraan termasuk komponen rutin yang langsung terasa selama masa kepemilikan. Dalam skema pajak kendaraan di Indonesia, komponen yang umum dikenal antara lain PKB, SWDKLLJ, dan pada kondisi tertentu BBNKB, tetapi yang paling rutin dibayar setiap tahun adalah PKB.

Varian listrik tak lagi nol rupiah

Mulai 2026, mobil listrik di Indonesia tidak lagi sepenuhnya bebas pajak tahunan. Permendagri No. 11 Tahun 2026 menetapkan kendaraan listrik sebagai objek pajak daerah, sehingga pemilik tetap wajib membayar PKB setiap tahun.

Meski begitu, beban pajaknya masih jauh lebih ringan dibanding kendaraan berbahan bakar fosil atau hybrid. Secara umum, tarif PKB mobil listrik hanya sekitar 10 persen dari tarif normal kendaraan konvensional.

Karena itu, mobil listrik dengan harga setara yang biasanya menanggung pajak sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta bisa hanya dikenai sekitar Rp300 ribu hingga Rp1 jutaan per tahun. Besarnya tetap bergantung pada nilai jual kendaraan dan kebijakan masing-masing daerah.

Untuk Wuling Eksion EV, hitungannya menjadi menarik karena model ini diprediksi berada di rentang harga Rp300–400 jutaan. Dengan kisaran tersebut, estimasi pajak tahunannya disebut berada di sekitar Rp500 ribu sampai Rp2 jutaan.

Angka itu membuat versi listrik terlihat kompetitif untuk kelas SUV 7-seater. Bagi pembeli yang mengejar efisiensi biaya kepemilikan jangka panjang, selisih pajak tahunan ini bisa menjadi keunggulan utama.

Hybrid tetap lebih tinggi

Berbeda dari EV, varian hybrid atau PHEV Wuling Eksion tidak memperoleh insentif sebesar mobil listrik murni. Alasannya, mobil hybrid masih menggunakan mesin bensin sehingga perlakuan perpajakannya lebih dekat ke kendaraan konvensional.

Mobil hybrid disebut dikenakan PPnBM sekitar 3–5 persen tergantung emisi setelah insentif pemerintah. Untuk pajak tahunannya, PKB tetap dihitung mendekati kendaraan konvensional, meski dalam beberapa kasus bisa sedikit lebih rendah bergantung kebijakan daerah.

Jika harga Wuling Eksion hybrid berada di kisaran Rp400–500 jutaan, maka pajak tahunannya diperkirakan sekitar Rp3 juta hingga Rp6 jutaan. Angka ini memang masih lebih efisien dibanding SUV konvensional bermesin besar, tetapi tetap jauh di atas versi listrik.

Perbedaan itu menunjukkan bahwa label elektrifikasi tidak otomatis berarti pajak rendah untuk semua jenis teknologi. Di Indonesia, mobil listrik murni masih menikmati keuntungan pajak yang paling besar dibanding hybrid.

Penentu biaya kepemilikan jangka panjang

Bagi konsumen, pajak tahunan kerap menjadi biaya yang mudah diukur sejak awal. Saat harga beli antarvarian bisa berbeda, pengeluaran rutin setiap tahun justru sering menentukan total biaya kepemilikan dalam jangka panjang.

Dalam konteks Wuling Eksion 2026, pilihan EV cocok untuk yang ingin menekan biaya operasional semaksimal mungkin. Varian ini menawarkan pajak lebih ringan, meski pemilik harus menyesuaikan penggunaan dengan ketersediaan infrastruktur pengisian daya.

Di sisi lain, varian hybrid menawarkan pendekatan yang berbeda. Pajaknya lebih tinggi, tetapi model ini dinilai lebih fleksibel untuk perjalanan jarak jauh karena tidak sepenuhnya bergantung pada charging.

Kondisi tersebut membuat keputusan pembelian tidak semata soal harga mobil atau fitur. Beban pajak tahunan ikut menjadi pembeda nyata antara dua varian yang sama-sama membawa teknologi elektrifikasi.

Daerah bisa membuat hasil akhir berbeda

Meski estimasi pajak sudah memberi gambaran, nominal akhir tetap tidak selalu sama di semua wilayah. Kebijakan pemerintah daerah masih berpengaruh besar terhadap besaran pajak kendaraan, termasuk kemungkinan adanya insentif tambahan untuk kendaraan listrik.

Beberapa daerah dapat memberikan pengurangan atau pembebasan PKB untuk mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan. Karena itu, angka pajak Wuling Eksion EV maupun hybrid pada praktiknya tetap bisa berbeda tergantung lokasi registrasi kendaraan.

Ada pula faktor NJKB atau Nilai Jual Kendaraan Bermotor yang menjadi dasar perhitungan. Pada kendaraan listrik dengan nilai jual tinggi, pajak tahunan tetap bisa membesar meski tarifnya jauh lebih ringan daripada kendaraan biasa.

Itu sebabnya mobil listrik tidak lagi identik dengan pajak nol rupiah mulai 2026. Namun untuk Wuling Eksion, versi EV masih menempati posisi paling menarik dari sisi pajak tahunan, sedangkan hybrid menawarkan kompromi antara efisiensi dan fleksibilitas penggunaan.

Terkait