Gaikindo Ungkap Hambatan Besar Mobil Listrik, Infrastruktur Belum Merata Bikin Konsumen Ragu

Minat masyarakat terhadap kendaraan listrik terus meningkat, tetapi hambatan terbesar di Indonesia kini bukan lagi soal produk. Gaikindo menilai keterbatasan infrastruktur dan ekosistem yang belum merata masih menahan laju adopsi mobil listrik di pasar domestik.

Wakil Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menyebut konsumen masih menghadapi banyak ketidakpastian saat mempertimbangkan perpindahan ke EV. Salah satu yang paling mencolok adalah nilai jual kembali mobil listrik yang belum punya gambaran jelas dalam tiga sampai lima tahun ke depan.

Infrastruktur belum merata

Kukuh menegaskan persoalan infrastruktur masih menjadi tantangan utama. Ia mengatakan, infrastruktur pengisian daya belum tersebar merata sehingga belum sepenuhnya mendukung penggunaan kendaraan listrik secara luas.

Data PT PLN (Persero) menunjukkan infrastruktur memang bertambah. Sepanjang 2025, PLN mencatat ada 4.655 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU di 3.007 lokasi.

Pertumbuhan itu mencapai sekitar 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, sebarannya masih terkonsentrasi di Jawa dan kota besar, sehingga belum ideal untuk mendukung perjalanan jarak jauh dengan kendaraan listrik.

Nilai jual kembali jadi perhatian

Selain soal pengisian daya, pasar sekunder mobil listrik juga belum terbentuk kuat. Harga mobil listrik bekas masih berada jauh di bawah kendaraan hybrid, sementara banyak konsumen masih memikirkan ketidakpastian saat hendak menjual kembali mobilnya.

Faktor ini menjadi pertimbangan penting karena pembelian mobil di Indonesia sangat dipengaruhi proyeksi nilai aset. Tanpa kejelasan pasar bekas, sebagian calon pembeli cenderung menahan diri meski minat terhadap teknologi listrik terus tumbuh.

Pembiayaan dan asuransi ikut menentukan

Gaikindo juga menyoroti kesiapan ekosistem pembiayaan dan asuransi yang masih perlu diperkuat. Pengembangan kendaraan listrik tidak cukup hanya mengandalkan produk, tetapi juga membutuhkan sistem pendukung yang mencakup pembiayaan, layanan, dan penilaian aset kendaraan.

Kondisi itu membuat percepatan adopsi EV tidak bisa bergantung pada satu sisi saja. Jika infrastruktur, layanan keuangan, dan pasar sekunder belum solid, konsumen akan tetap melihat risiko yang lebih besar saat memilih mobil listrik.

Produksi naik, adopsi belum tentu ikut cepat

Di sisi pasokan, kapasitas produksi kendaraan listrik di dalam negeri mulai meningkat. Sejumlah produsen global telah menyiapkan investasi untuk membangun fasilitas produksi di Indonesia.

Langkah itu memperkuat sisi industri dan menunjukkan bahwa pasar Indonesia tetap menarik bagi pelaku global. Namun, Gaikindo menilai peningkatan produksi belum otomatis mendorong adopsi konsumen jika ekosistem pendukung belum siap sepenuhnya.

Kondisi tersebut membuat perkembangan EV di Indonesia berjalan di dua jalur yang belum sepenuhnya seimbang. Minat publik menguat, pasokan mulai bertambah, tetapi infrastruktur dan ekosistem masih menjadi pekerjaan besar agar penggunaan kendaraan listrik bisa meluas lebih cepat.

Berita Terkait

Back to top button