Honda menghadirkan kejutan dari pasar Brasil lewat Pop 110i ES versi 2027, sebuah motor bebek yang tampil tidak lazim namun justru menawarkan rasa berkendara ala skutik. Model ini menarik perhatian karena tetap berformat bebek komuter, tetapi kini memakai transmisi otomatis tanpa kopling manual dan tuas rem kiri seperti skutik.
Perpaduan itu membuat Pop 110i ES berbeda dari citra motor bebek konvensional yang identik dengan pengoperasian sederhana namun tetap manual. Di saat banyak model komuter bermain aman, Honda justru menampilkan formula hibrida yang menggabungkan karakter bebek, skutik, dan sentuhan motor petualang.
Rasa skutik di motor bebek
Perubahan paling menonjol ada pada sistem kendali harian yang dibuat lebih praktis. Tuas rem belakang kini dipindah ke setang sebelah kiri, sebuah tata letak yang lebih akrab bagi pengguna skutik.
Honda juga memperbarui transmisinya secara drastis. Motor ini tak lagi memakai tuas kopling manual, sehingga pengendara mendapat pengalaman yang lebih mudah saat menghadapi lalu lintas padat perkotaan.
Pembaruan tersebut menegaskan arah Pop 110i ES sebagai kendaraan komuter yang mengutamakan kemudahan. Karakter ini membuatnya tampil sebagai bebek yang tidak lagi terasa sepenuhnya seperti bebek tradisional.
Desain yang bikin melongo
Sorotan lain datang dari bentuk fisiknya yang sangat nyeleneh. Bagian depan memakai sepatbor tinggi yang menyatu dengan bodi, memberi kesan seperti motor petualang.
Namun dari area tengah sampai buritan, siluetnya justru ramping seperti motor bebek biasa. Kontras inilah yang membuat tampilannya sering dianggap sebagai perpaduan yang aneh, tetapi justru mudah dikenali.
Honda juga memberi sentuhan baru pada sirip udara di bodi samping. Elemen itu kini terlihat lebih modern dan membantu mempertegas identitas model yang memang tidak mengikuti pola desain umum.
Detail lain yang tak kalah unik terlihat pada posisi kunci kontak. Alih-alih ditempatkan di area yang lazim, kunci kontak berada di sisi bodi, menambah kesan eksentrik pada motor ini.
Bagian belakangnya dibuat meruncing dengan lampu rem yang menyatu rapi. Kesan minimalis tetap dijaga, meski wajah depannya terasa jauh lebih berani dibanding bebek komuter pada umumnya.
Kaki-kaki tidak biasa
Honda juga memberi konfigurasi roda yang tidak simetris. Pop 110i ES memakai roda depan 17 inci, sedangkan roda belakang menggunakan ukuran 14 inci.
Susunan ini membuat tampilannya semakin tidak biasa di kelasnya. Kombinasi itu disebut memberi kestabilan ekstra di depan sekaligus menjaga kelincahan saat bermanuver di belakang.
Model terbaru ini juga memakai velg palang berdesain balap. Aksen tersebut menambah karakter modern pada motor yang secara dasar tetap ditujukan untuk kebutuhan komuter harian.
Untuk pengereman, Honda sudah membekalinya dengan sistem pengereman kombinasi. Meski begitu, kedua rodanya masih menggunakan rem tromol tanpa sistem cakram.
Pilihan itu menunjukkan bahwa fitur Pop 110i ES tetap dibuat sederhana. Di sisi lain, kesederhanaan tersebut sejalan dengan perannya sebagai motor yang menekankan kepraktisan dan daya tahan.
Mesin kecil, fokus efisiensi
Jantung pacunya mengandalkan mesin 109,1 cc satu silinder berpendingin udara. Karakter mesin ini dikenal awet dan minim perawatan, dengan basis yang disebut identik dengan seri Revo di Indonesia.
Honda juga membekalinya dengan sistem injeksi bahan bakar. Bekal itu membuat efisiensi menjadi salah satu nilai jual utama motor ini untuk penggunaan harian.
Konsumsi bahan bakarnya ditaksir bisa menembus lebih dari 50 hingga 60 kilometer per liter. Angka tersebut memperkuat posisinya sebagai kendaraan komuter yang dirancang untuk operasional hemat.
Meski tak lagi memakai kopling manual, performanya justru disebut naik sekitar enam persen. Dalam rilis resmi pabrikan setempat, motor ini menghasilkan tenaga 8,43 PS dengan torsi 0,94 kgf.m.
Spesifikasi itu menempatkannya sebagai motor kecil yang tetap memadai untuk kebutuhan mobilitas harian. Honda juga menyebut kemampuannya andal untuk jalanan menanjak.
Ringan, nyaman, tapi harga tinggi
Pop 110i ES punya bobot hanya 87 kilogram. Berat yang ringan ini mendukung kelincahan saat dipakai di jalan perkotaan yang padat.
Untuk kenyamanan, Honda memasang jok yang dibuat ekstra lebar dan dipadukan dengan setang tinggi. Posisi berkendara ini diarahkan agar tetap santai saat dipakai harian.
Yang cukup mengejutkan justru datang dari sisi harga. Di pasar Brasil, Pop 110i ES versi terbaru dipasarkan sekitar 10.588 Real Brazil.
Nominal itu membuat motor ini terasa mahal untuk ukuran bebek entry level di negara asalnya. Nilainya bahkan disebut setara dengan banderol skutik premium kelas atas, meski fitur yang dibawa tetap tergolong sederhana.
Di situlah letak daya tarik sekaligus keanehan Pop 110i ES. Ia bukan sekadar bebek biasa, karena menawarkan sensasi skutik, wajah ala motor petualang, mesin irit, dan harga yang justru bermain di wilayah yang tidak murah.
