Penjualan Meroket, BYD Dapat Angin Segar dari Tren Pindah ke Mobil Listrik

Penjualan BYD di Indonesia tengah menanjak cepat, dan April 2026 menjadi bulan yang paling menonjol sejauh ini. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menunjukkan penjualan retail merek asal Tiongkok itu mencapai 6.274 unit, naik signifikan dari 4.153 unit pada Maret.

Lonjakan itu membuat BYD menempati posisi ketiga merek terlaris di Indonesia, tepat di belakang Daihatsu. Di saat yang sama, capaian tersebut menegaskan bahwa minat masyarakat terhadap kendaraan listrik atau EV terus menguat di tengah perubahan perilaku konsumen.

Kenaikan beruntun sejak awal tahun

Tren penjualan BYD terlihat konsisten naik dari bulan ke bulan. Pada Januari, retail BYD tercatat 2.516 unit, lalu meningkat menjadi 3.596 unit pada Februari dan 4.153 unit pada Maret.

Kenaikan berlanjut tajam di April saat angka penjualan menembus 6.274 unit. Secara kumulatif, total retail BYD sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 16.539 unit.

Minat EV makin terlihat di pasar nasional

Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther T. Panjaitan, menyebut ada tren positif terhadap kepemilikan kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Menurut dia, berdasarkan data internal perusahaan, market share EV nasional kini sudah lebih dari 16 persen.

Ia menggambarkan situasi itu sebagai tanda bahwa hampir dua dari 10 mobil yang terjual di Indonesia saat ini merupakan kendaraan elektrifikasi. Bagi BYD, kondisi tersebut menunjukkan pasar EV semakin diterima oleh konsumen Indonesia.

Luther juga menilai perkembangan itu sebagai langkah baik untuk membantu mengatasi kelangkaan bahan bakar. Namun, ia menegaskan bahwa situasi pasar masih perlu dipantau lebih jauh sebelum dampak penuh terhadap penjualan bisa dihitung dengan pasti.

Jabodetabek masih jadi penopang utama

Dari sisi wilayah, penjualan mobil listrik BYD masih banyak ditopang Jabodetabek. Kontribusi dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi disebut paling besar dibanding wilayah lain.

Selain faktor permintaan pasar, beberapa kebijakan juga masih mendukung daya tarik kendaraan listrik. Insentif pajak dan pembebasan dari aturan ganjil genap menjadi dua hal yang ikut membantu konsumen beralih ke EV.

Di sisi lain, naiknya harga Bahan Bakar Minyak atau BBM disebut berpotensi mendorong sebagian konsumen memilih kendaraan ramah lingkungan. Meski begitu, pihak BYD menilai masih terlalu dini untuk menilai seberapa besar pengaruh kenaikan BBM terhadap penjualan mobil listrik di dalam negeri.

Masih sulit memproyeksikan arah berikutnya

Luther mengatakan pihaknya belum bisa memproyeksikan penjualan BYD ke depan secara pasti. Menurut dia, tantangan ekonomi dan konflik geopolitik masih menjadi faktor yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi pasar otomotif secara umum.

Ia menegaskan bahwa kenaikan harga BBM yang belum lama terjadi juga belum cukup untuk dijadikan dasar penilaian final. Karena itu, BYD memilih membaca pasar dengan hati-hati sambil melihat apakah tren positif EV bisa terus bertahan dalam beberapa waktu mendatang.

Dengan angka penjualan yang terus naik dan market share EV nasional yang disebut sudah melewati 16 persen, pasar kendaraan listrik di Indonesia tampak makin hidup. BYD kini ikut berada di barisan utama pemain yang merasakan langsung perubahan selera konsumen tersebut.

Source: otomotif.katadata.co.id

Berita Terkait

Back to top button