Dulu Dicibir, Kini Diburu Lagi 5 Mobil Bekas Ini Mulai Naik Harga di 2026

Author: Qoo Media

Pasar mobil bekas di Indonesia sedang menunjukkan arah yang tidak selalu mudah ditebak. Sejumlah model yang dulu pernah dicap gagal, aneh, atau berisiko, kini justru banyak diburu pada 2026 hingga harganya mulai terdorong naik.

Fenomena ini muncul saat permintaan datang dari pembeli rasional, kolektor pemula, sampai anak muda yang mencari mobil harian dengan karakter kuat. Di lapangan, stok yang terbatas berhadapan dengan minat yang naik, sehingga beberapa pedagang menyebut harga unit-unit ini mulai “digoreng”.

Perubahan selera menjadi salah satu pendorong utamanya. Mobil yang dulu dianggap tidak menarik ternyata menyimpan kelebihan yang baru terasa setelah dipakai bertahun-tahun, mulai dari kabin lega, mesin yang ramah modifikasi, sampai gaya desain yang kini justru dianggap unik.

Efek media sosial ikut memberi dorongan tambahan. Nama-nama yang sempat tenggelam kembali ramai dibicarakan di TikTok dan Instagram, terutama ketika sebuah model dinilai cocok untuk gaya hidup tertentu atau tampil berbeda dari mobil arus utama.

Model yang Berbalik Jadi Incaran

Nissan Evalia menjadi salah satu contoh paling jelas. Saat pertama hadir, mobil ini sering diledek mirip kendaraan komersial atau angkutan umum karena bodinya kotak, tinggi, dan memakai model kaca geser kecil di baris kedua.

Kini karakter boxy itu justru menjadi nilai jual. Kabin yang sangat luas dan headroom tinggi membuat Evalia digemari untuk kebutuhan keluarga muda, road trip, hingga basis modifikasi campervan karena jok belakangnya mudah dilepas untuk dijadikan ruang tidur berjalan.

Nilai tambah lain datang dari sektor mesin. Evalia memakai mesin 1.500 cc HR15DE yang dikenal bandel dan irit, serta punya kedekatan teknis dengan Grand Livina sehingga lebih mudah diterima pembeli yang mengincar kepraktisan.

Chevrolet Spin Diesel juga mengalami pembalikan nasib yang tajam. Model ini dulu sempat dihindari karena Chevrolet menghentikan aktivitas produksinya secara lokal, ditambah kekhawatiran soal mahalnya suku cadang dan sulitnya perawatan.

Namun varian diesel 1.3L kini justru dicari oleh pemburu mobil keluarga hemat. Mesin diesel turbo pada Spin dinilai punya torsi bawah kuat dan konsumsi bahan bakar yang sangat efisien, bahkan disebut bisa mencapai 18–20 km/liter.

Kekhawatiran soal sparepart juga mulai mereda. Kehadiran marketplace memudahkan pemilik memesan komponen dari luar negeri atau mencari substitusi part dari merek lain, sehingga hambatan yang dulu terasa besar kini tidak lagi menjadi momok utama.

Dulu Kalah Populer, Sekarang Dianggap Masuk Akal

Suzuki Splash termasuk model yang dulu kalah sorot di tengah serbuan city car lain. Bentuk buritannya yang tegak sempat dianggap aneh, apalagi saat pasar lebih tertarik pada nama-nama yang lebih populer.

Sekarang Splash justru dinilai sebagai salah satu city car paling rasional di pasar bekas. Kaki-kakinya dikenal tahan, bodinya terasa kokoh, suspensinya stabil, dan posisi duduk yang agak tinggi memberi visibilitas mengemudi yang nyaman di lalu lintas perkotaan.

Mesin K12M 4-silinder juga menjadi daya tarik tersendiri. Karakternya halus, minim getaran, dan dikenal jarang rewel meski dipakai sebagai mobil operasional harian yang terus-menerus berhadapan dengan kemacetan.

Proton Exora juga mulai dilirik ulang. MPV 7-seater asal Malaysia ini dulu sulit mendapat tempat karena citra merek yang kurang kuat dan tekanan besar dari dominasi Avanza-Xenia di pasar keluarga.

Kini varian Exora Bold Supreme tampil sebagai hidden gem. Dengan harga bekas yang sudah turun sangat dalam, bahkan disebut ada yang berada di bawah Rp80 jutaan, pembeli bisa mendapatkan MPV besar dengan mesin 1.6L CFE Turbo, kenyamanan sasis rancangan Lotus, dan fitur keselamatan yang lengkap.

Di pasar saat ini, kombinasi itu membuat Exora menarik bagi pembeli yang sangat berhitung. Mobil ini dipandang cocok untuk keluarga yang mengejar kenyamanan dan performa tanpa harus membayar mahal untuk unit yang lebih populer.

Faktor Gaya Juga Ikut Mengubah Peta

Hyundai Matrix dan Trajet adalah contoh lain dari model yang nasibnya berubah. Keduanya dulu dicap aneh karena desainnya dianggap terlalu radikal untuk selera pasar Indonesia, ditambah stigma lama bahwa mobil Korea identik dengan konsumsi bahan bakar yang boros.

Di tangan komunitas dan anak muda pecinta otomotif, dua model ini kini punya tempat baru. Matrix, yang garis bodinya dirancang oleh rumah desain Italia Pininfarina, serta Trajet, mulai digemari sebagai mobil harian dengan nuansa retro 90-an hingga awal 2000-an.

Daya tariknya bukan hanya pada keunikan bentuk. Dengan modifikasi sederhana seperti mengganti velg bergaya retro rally atau classic look, keduanya bisa tampil berbeda dan menghadirkan kesan yang dianggap lebih eksklusif dibanding mobil harian kebanyakan.

Pergerakan harga model-model seperti ini menunjukkan bahwa pasar mobil bekas tidak hanya digerakkan oleh nama besar merek. Fungsi, karakter teknis, kemudahan diutak-atik, dan identitas visual kini ikut menentukan apakah sebuah model akan dilupakan atau justru kembali naik daun.

Karena itu, unit seperti Nissan Evalia, Chevrolet Spin Diesel, Suzuki Splash, Proton Exora, hingga Hyundai Matrix dan Trajet mulai masuk radar lebih banyak pembeli. Mobil-mobil yang dulu diremehkan kini justru dicari karena menawarkan kombinasi keunikan, kegunaan, dan nilai yang sulit ditemukan pada banyak mobil baru di kelas bawah.

Terbaru