Xpeng Mulai Rakit G6 Di Malaysia, Langkah Baru Yang Bisa Ubah Peta EV ASEAN

Xpeng resmi memulai produksi lokal SUV G6 di Malaysia, dan langkah ini menjadi penanda penting dalam strategi ekspansi perusahaan di Asia Tenggara. Unit pertama yang dirakit di Malaysia telah keluar dari lini produksi di fasilitas mitra EPMB Malaysia.

Momentum ini penting karena Xpeng sedang mempercepat jejak produksinya di pasar luar negeri dengan model operasi yang lebih ringan aset. Di Malaysia, perusahaan juga mendapat keuntungan strategis karena bisa merespons pasar kendaraan setir kanan dengan lebih cepat.

Langkah produksi lokal itu lahir dari kemitraan strategis yang diteken Xpeng bersama EP Manufacturing Bhd (EPMB) pada akhir 2025. Di bawah kerja sama tersebut, anak usaha EPMB yang sepenuhnya dimiliki, PJVM, bertanggung jawab merakit kendaraan Xpeng di pabrik Malacca.

Fokus pada pasar ASEAN

Xpeng menyebut pencapaian ini sebagai tonggak baru dalam perjalanan ASEAN-nya. Perusahaan juga menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pengalaman mobilitas cerdas ke lebih banyak konsumen di kawasan ini.

Produksi lokal G6 di Malaysia menjadi proyek perakitan kedua Xpeng di Asia-Pasifik. Secara global, fasilitas ini menjadi lokasi perakitan lokal ketiga bagi perusahaan, setelah Indonesia dan Austria.

Dalam pasar Malaysia, Xpeng saat ini menawarkan terutama G6 SUV dan X9 MPV. Keduanya sudah mendapat versi penyegaran yang diluncurkan di negara itu pada paruh kedua tahun lalu.

Menurut rencana produksi yang sudah diumumkan sebelumnya, pabrik di Malaysia tidak berhenti pada G6 saja. Setelah ini, fasilitas tersebut juga akan merakit X9 MPV, termasuk versi extended-range electric vehicle atau EREV.

Strategi produksi yang lebih ramping

Model produksi luar negeri yang lebih asset-light membantu Xpeng menekan kebutuhan belanja modal awal dalam skala besar. Pendekatan ini memberi ruang ekspansi yang lebih fleksibel saat perusahaan menghadapi pasar global yang kompleks.

Selama dua tahun terakhir, Xpeng memang meningkatkan agresivitas ekspansi internasionalnya. Target jangka panjang perusahaan adalah pasar luar negeri menyumbang separuh dari total penjualan global dalam 10 tahun mendatang.

Kinerja luar negeri juga mulai memberi dampak pada kesehatan finansial perusahaan. Manajemen Xpeng memperkirakan kontribusi pendapatan dari bisnis internasional akan melampaui 20% mulai kuartal kedua tahun ini.

Dari sisi penjualan global, pengiriman Xpeng pada Mei tercatat turun tipis 4% secara tahunan menjadi 32.158 unit. Namun, penjualan luar negeri justru menunjukkan momentum kuat sepanjang tahun ini, dengan penjualan bulanan di luar negeri melampaui 6.000 unit untuk pertama kalinya pada April.

Persaingan makin padat di kawasan

Ekspansi Xpeng di Asia Tenggara terjadi saat para pesaing asal China juga mempercepat langkah di pasar yang sama. Kemarin, Stellantis juga memulai perakitan kendaraan Leapmotor di Malaysia.

Stellantis merilis batch pertama SUV Leapmotor C10 di pusat manufakturnya di Gurun, Kedah. Situasi ini menunjukkan Malaysia semakin penting sebagai basis produksi kendaraan listrik untuk kawasan, terutama di tengah meningkatnya minat terhadap model elektrifikasi di Asia Tenggara.

Di pasar domestik China, Xpeng juga baru saja meluncurkan SUV GX terbaru dengan harga awal terbatas 269.800 yuan. Model itu mencatat lebih dari 24.863 pesanan pasti dalam 12 jam pertama peluncurannya, dengan lebih dari 80% pesanan awal terkonsentrasi pada varian Ultra flagship teratas yang dibanderol 359.800 yuan.

Permintaan yang berat ke varian atas itu menekan rantai pasok, dan waktu tunggu pengiriman untuk GX listrik murni varian tertinggi kini mencapai 35 minggu. Untuk mengatasi tekanan tersebut, tim Xpeng dalam belasan hari terakhir menargetkan hambatan manufaktur utama dengan membuka cetakan baru dan jalur produksi baru untuk komponen inti.

Source: cnevpost.com

Berita Terkait

Back to top button