
General Motors mengubah narasi lama soal mobil listrik. Jika dulu EV kerap dianggap sebagai beban tambahan bagi jaringan listrik, kini GM mendorong gagasan bahwa kendaraan listrik justru bisa menjadi bagian dari solusi.
Pesan itu disampaikan GM dalam Empower symposium di San Francisco, lewat rencana yang menempatkan mobil listrik sebagai aset grid melalui vehicle-to-grid atau V2G. Wade Sheffer, Vice President GM Energy, juga mengirim surat terbuka kepada para eksekutif utilitas dan pembuat kebijakan energi di Amerika Serikat untuk mengajak kerja sama yang lebih luas.
EV bukan lagi sekadar konsumen listrik
Sheffer menulis bahwa grid sedang menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mulai dari gelombang panas historis dan cuaca tak menentu hingga lonjakan kebutuhan pusat data AI. Ia menegaskan bahwa saat jaringan listrik berada di batasnya, dampaknya langsung terasa pada kehidupan harian dan keselamatan publik.
Dalam pandangan GM, jawaban yang lebih besar bukan hanya membangun fasilitas baterai raksasa untuk keadaan darurat. Perusahaan ini melihat potensi kolektif dari mobil listrik yang sudah berada di jalan, terutama kendaraan yang sedang terparkir dan tidak dipakai.
Dari konsep ke pilot kecil di Michigan
Untuk menguji gagasan itu, GM mengumumkan proyek percontohan kecil di Michigan bersama DTE Energy. Sebanyak 30 rumah tangga karyawan GM akan ikut dalam uji stres konsep ini, dan proyek tersebut disebut sudah mulai berjalan.
Di lokasi acara GM di San Francisco, TJ Tweedle, lead V2X di GM, mengatakan bahwa program itu telah mengalirkan 562 megawatt daya kembali ke grid. Angka itu masih kecil dibanding visi jangka panjang GM, tetapi menjadi langkah awal dari strategi yang lebih besar.
Kapasitas yang sudah ada di jalan
GM menyebut lebih dari 250.000 EV miliknya di jalan saat ini sudah mampu melakukan bidirectional charging. Artinya, kendaraan-kendaraan itu bisa mengalirkan listrik kembali ke jaringan jika infrastruktur grid mendukung.
Menurut perhitungan GM, armada itu bisa menghasilkan cukup energi untuk memberi daya ke 120.000 rumah selama seminggu. GM juga menyebut kapasitas yang sama setara dengan kebutuhan seluruh rumah di San Francisco selama dua hari.
Manfaat bagi pemilik mobil dan utilitas
Bagi pemilik kendaraan, skemanya sederhana. Mobil dapat diisi saat tarif listrik rendah, lalu menjual listrik kembali ke grid ketika permintaan naik dan harga lebih tinggi.
GM menggambarkan model ini sebagai cara bagi pemilik untuk ikut dalam pasar energi lokal. Sheffer menyebutnya sebagai “alignment” ekonomi yang jarang terjadi, karena mobil bisa menjadi aset yang membantu menutup biaya operasionalnya sendiri sambil memberi manfaat bagi sistem publik.
Langkah lanjutan di California
GM juga bekerja sama dengan PG&E di California Utara. Perusahaan itu memproyeksikan bahwa pada 2030, lebih dari 52.000 EV GM akan ikut dalam program penyeimbang grid.
Pendekatan ini menjadi penting di tengah lonjakan konsumsi listrik dari AI datacenters. Goldman Sachs dalam laporan terbarunya memproyeksikan permintaan AI naik dari 31 GW pada 2025 menjadi 66 GW pada 2027, dengan pangsa terhadap grid melonjak dari 4,1 persen menjadi 8,5 persen.
Baterai natrium untuk penyimpanan stasioner
Di acara yang sama, GM juga mengumumkan kimia baterai sodium ion baru. Sterling Anderson, Chief Product Officer GM, mengatakan teknologi itu dirancang khusus untuk penggunaan stasioner.
GM menyebut baterai sodium ion punya rentang suhu kerja yang lebih luas, lebih banyak siklus pakai, tidak memerlukan pendinginan, dan lebih sederhana secara keseluruhan. Kurt Kelty, Vice President Battery & Sustainability di GM, menambahkan bahwa aplikasi harus menentukan baterai, dan sodium ion cocok sebagai solusi penyimpanan grid.
Andy Oury, engineer baterai di GM, menjelaskan bahwa pendekatan baru ini menawarkan keunggulan signifikan dibanding sistem penyimpanan grid saat ini. GM menilai efisiensinya bisa sampai 20 persen lebih baik, sebagian karena sistem ini tidak membutuhkan listrik untuk pendinginan.









