
Pabrik Nissan di Sunderland, Inggris, segera masuk babak baru yang tak biasa. Fasilitas itu akan dipakai untuk memproduksi mobil penumpang Chery Automobile melalui skema produksi kontrak atau OEM.
Kesepakatan ini menjadi sinyal kuat bagaimana pabrikan China memperluas pasar global. Alih-alih membangun pabrik baru dari nol, mereka mulai memanfaatkan kapasitas produksi yang belum terpakai penuh di luar negeri.
Nissan dan Chery International UK telah menandatangani kesepakatan tidak mengikat untuk menjajaki kerja sama tersebut. Pabrik Sunderland tetap dimiliki dan dioperasikan sepenuhnya oleh Nissan, sementara seluruh pekerjanya juga tetap berada di bawah perusahaan Jepang itu.
Dari sisi industri, kerja sama ini berangkat dari kebutuhan yang saling melengkapi. Chery memerlukan akses produksi di luar negeri, sedangkan Nissan ingin pabriknya bekerja lebih optimal.
Kondisi Sunderland memang belum pulih sepenuhnya. Tahun lalu, tingkat pemanfaatan kapasitas pabrik itu berada di bawah 50 persen karena adopsi kendaraan listrik di Eropa berjalan lebih lambat dari perkiraan.
Data MarkLines juga menunjukkan pemanfaatan kapasitas Sunderland hanya 45,5 persen pada 2025. Situasi itu membuat pabrik terakhir Nissan di kawasan Eropa tersebut menjadi fokus penyesuaian strategi produksi.
Pola baru kerja sama otomotif
Produksi untuk Chery diperkirakan dimulai pada lini pertama Sunderland pada tahun fiskal 2027. Sebelum itu, Nissan akan memindahkan model-model yang sudah ada ke lini kedua untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Skema ini berpotensi menjadi pola baru dalam hubungan antara produsen China dan pemain otomotif global. Produksi lintas merek seperti ini memberi jalan bagi ekspansi lebih cepat tanpa harus menunggu pembangunan fasilitas baru.
Sunderland sendiri tetap penting bagi Nissan. Pabrik itu menjadi basis produksi terakhir Nissan di Eropa sekaligus bagian dari strategi elektrifikasi perusahaan.
Meski transisi ke kendaraan listrik di Eropa belum berjalan secepat harapan, Nissan masih mempertahankan Sunderland. Fokusnya tetap diarahkan ke produksi kendaraan listrik, sambil menyesuaikan utilisasi pabrik agar tidak menganggur.
Strategi restrukturisasi Nissan
Kerja sama dengan Chery juga muncul di tengah restrukturisasi besar Nissan melalui rencana Re:Nissan. Program ini dijalankan setelah perusahaan mencatat kerugian tajam pada tahun fiskal 2024.
Rencana itu menargetkan pengurangan jumlah pabrik kendaraan global dari 17 menjadi 10 pada akhir tahun fiskal 2027. Nissan juga menyiapkan pemangkasan sekitar 20.000 pekerjaan dalam proses penataan ulang bisnisnya.
Di tengah tekanan itu, mempertahankan Sunderland sambil mengisi kapasitasnya dengan produksi untuk merek lain menjadi langkah yang pragmatis. Pabrik itu tetap aktif, tetapi dengan pola kerja yang lebih efisien dibanding sebelumnya.
Chery makin agresif di luar negeri
Langkah di Sunderland bukan gerakan tunggal Chery. Pabrikan asal Wuhu itu sebelumnya juga aktif memanfaatkan aset produksi luar negeri, termasuk fasilitas bekas Nissan.
Pada 2024, Chery dan EV Motors asal Spanyol mengakuisisi pabrik Nissan di Barcelona untuk memproduksi kendaraan bermerek Ebro. Pada Januari tahun ini, Chery juga sepakat membeli pabrik Nissan di Rosslyn, Afrika Selatan, dengan transaksi yang diperkirakan rampung pada pertengahan tahun.
Pola yang sama mulai terlihat pada produsen mobil China lainnya. Yicai Global melaporkan Stellantis disebut akan menyediakan layanan OEM bagi Dongfeng Motor di pabrik Rennes-la-Janais, Prancis barat.
Sejumlah media juga menyebut Geely Auto telah mencapai kesepakatan dengan Ford Motor untuk mengakuisisi lini perakitan bodi kendaraan Body 3 di pabrik Ford Valencia, Spanyol. Semua ini menunjukkan pabrikan China makin aktif memakai kapasitas produksi luar negeri untuk mempercepat ekspansi global.
Source: voi.id








