
BYD memasang target yang sangat agresif: menjadi produsen otomotif terbesar di dunia dalam lima tahun ke depan. Ambisi itu disampaikan langsung oleh Chairman dan Presiden BYD, Wang Chuanfu, dalam Rapat Umum Pemegang Saham tahunan BYD 2025 yang digelar pada 9 Juni 2026.
Pernyataan itu penting karena BYD saat ini belum berada di puncak industri otomotif global. Namun, perusahaan asal China tersebut menilai laju ekspansi internasional, kekuatan teknologi, dan tren penjualan memberi ruang besar untuk menantang dominasi raksasa otomotif dari Jepang dan Eropa menuju 2030.
Target besar dari posisi keenam dunia
Data penjualan global sepanjang 2025 yang disajikan Bloomberg menunjukkan Toyota masih memimpin dengan 11,2 juta unit. Volkswagen berada di posisi kedua dengan 8,68 juta unit, diikuti Hyundai 7,27 juta unit, General Motors 6,18 juta unit, dan Stellantis 5,48 juta unit.
BYD menempati peringkat keenam dengan total penjualan 4,6 juta unit. Di bawahnya ada Ford dengan 4,4 juta unit, Geely 4,12 juta unit, Honda 3,46 juta unit, dan Nissan 3,21 juta unit.
Posisi ini menjelaskan besarnya tantangan yang dihadapi BYD. Untuk menjadi nomor satu dunia dalam lima tahun, perusahaan itu harus mengejar jarak yang masih lebar dari Toyota sekaligus melampaui kelompok besar produsen mapan lain.
Meski begitu, Wang menilai tren saat ini mendukung langkah BYD. Ia melihat penetrasi pabrikan mobil listrik asal China di pasar internasional terus menunjukkan pertumbuhan.
Ekspansi luar negeri jadi mesin utama
Salah satu penopang utama ambisi itu adalah pasar internasional. Manajemen BYD mengindikasikan target ekspor yang sebelumnya ditetapkan akan terlampaui dengan mudah.
Perusahaan semula membidik penjualan di luar pasar domestik sebesar 1,6 juta unit untuk tahun ini. Namun, berdasarkan tren pemesanan dan penetrasi pasar saat ini, angka tersebut diproyeksikan bisa dilewati.
BYD menilai produknya punya keunggulan kompetitif di banyak negara tujuan ekspansi. Keunggulan itu disebut datang dari strategi harga yang kompetitif, integrasi teknologi mutakhir, dan pengalaman pengguna.
Wang juga menyebut citra merek BYD di pasar internasional berkembang positif. Menurut dia, di pasar seperti Australia, Eropa, dan Amerika Selatan, BYD sudah berhasil diposisikan sebagai merek premium.
Pernyataan ini menarik karena di dalam negeri, pemegang saham sempat mempertanyakan tipisnya keuntungan dan citra merek BYD. Wang merespons dengan menekankan bahwa fondasi kenaikan kelas perusahaan tetap bertumpu pada kekuatan teknologi inti.
Taruhan besar pada kendaraan pintar dan otonom
BYD tidak hanya melihat mobil sebagai alat transportasi mekanis. Perusahaan memandang kendaraan modern sebagai bentuk “embodied intelligence” atau kecerdasan buatan yang berwujud.
Saat ini, BYD telah memiliki lebih dari 3,15 juta unit kendaraan yang dilengkapi fitur kemudi pintar dan beroperasi secara global. Angka ini menjadi salah satu indikator skala teknologi pintar yang sudah ditanamkan perusahaan ke produknya.
Wang memprediksi teknologi berkendara otonom Level 3 dan Level 4 akan masuk ke pasar lebih cepat dari perkiraan. Ia menegaskan BYD sudah siap dari sisi cip, algoritma, hingga ekosistem data.
Menurut Wang, percepatan pertumbuhan berikutnya sangat bergantung pada kesiapan regulasi. Ia mengatakan, “Begitu regulasinya siap dan disahkan, BYD akan langsung melesat pesat.”
Untuk mendukung langkah itu, BYD telah mendirikan pusat-pusat pelatihan di Eropa, Amerika Selatan, Asia Tenggara, dan Timur Tengah. Jaringan ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya menjual kendaraan, tetapi juga menyiapkan infrastruktur sumber daya untuk ekspansi teknologi.
Didorong baterai, pengisian cepat, dan teknologi mandiri
Kinerja BYD ke depan juga akan ditopang teknologi baterai blade generasi kedua. Selain itu, perusahaan mengandalkan inovasi pengisian daya cepat dan berbagai teknologi mandiri lain sebagai senjata persaingan.
Wang memperkirakan kombinasi itu akan menciptakan pertumbuhan pesat di dua sisi sekaligus, yakni pasar domestik dan internasional. Strategi “dual-engine” ini dipandang sebagai jalur yang bisa membawa BYD ke posisi puncak pada 2030.
Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, BYD memilih menekankan teknologi sebagai inti identitasnya. Wang mengatakan mobil adalah alat transportasi yang melibatkan keselamatan jiwa, sehingga perusahaan harus kembali ke esensi teknologi.
Arah itu memperlihatkan bahwa ambisi BYD bukan sekadar menambah volume penjualan. Perusahaan sedang berusaha mengubah posisinya dari produsen yang tumbuh cepat menjadi pemain global yang ingin memimpin pasar otomotif dunia dalam satu putaran strategi besar berikutnya.
Source: oto.detik.com








