Harga BBM RON 92 di pasar dunia disebut sudah berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp21 ribuan per liter. Kondisi itu diungkap Pertamina Patra Niaga di tengah tekanan harga energi akibat konflik geopolitik yang memengaruhi pasar global.
Kenaikan harga internasional ini menjadi penting karena RON 92 merupakan BBM non-subsidi. Saat harga pasar melonjak, tekanan terhadap harga jual dalam negeri ikut membesar, terutama untuk produk seperti Pertamax.
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, menyampaikan bahwa lonjakan harga tersebut sudah terlihat sejak satu sampai dua bulan sebelumnya. Tekanan makin terasa setelah pecah konflik di Timur Tengah.
Menurut Sigit, di pasar global harga RON 92 kini sudah bergerak di level Rp20 ribu sampai Rp21 ribuan per liter. Ia juga menyinggung kondisi di Thailand, di mana bensin RON 91 dan RON 92 ke konsumen akhir berada di kisaran Rp23 ribu jika dikonversi ke rupiah.
Batas atas terus naik
Tekanan pasar itu tercermin pada batas atas harga Pertamax dalam beberapa bulan terakhir. Pada Maret, batas atasnya masih berada di level Rp12.397 per liter.
Memasuki April, batas atas harga Pertamax naik menjadi Rp18.745 per liter. Kenaikan ini dihitung berdasarkan Harga Indeks Pasar dan kurs, sesuai formula harga BBM jenis bahan bakar umum.
Lonjakan belum berhenti pada bulan berikutnya. Pada Mei, batas atas harga Pertamax kembali naik menjadi Rp20.157 per liter.
Pada Juni, batas atas tersebut kembali meningkat hingga Rp20.942 per liter. Angka ini menunjukkan bahwa harga keekonomian Pertamax sudah bergerak mendekati level harga RON 92 di pasar dunia.
Sigit menjelaskan bahwa konflik geopolitik yang berlangsung sejak akhir Februari memberi dampak langsung pada formula harga BBM JBU pada April. Kenaikan batas atas pada periode itu berkisar Rp6.300 sampai Rp7.300 per liter untuk solar dan Rp10.800 sampai Rp10.930 per liter untuk bensin.
Harga sempat ditahan
Di tengah lonjakan formula harga, Pertamina sempat menahan harga Pertamax di level Rp12.300 per liter. Kebijakan ini berlangsung saat batas atas harga terus bergerak naik dari April hingga Juni.
Langkah menahan harga itu pada akhirnya tidak bisa berlangsung terus-menerus. Sigit mengakui penyesuaian harga dilakukan untuk menjaga ketersediaan stok BBM.
Menurut dia, jika tidak ada kenaikan harga, selisih antara pendapatan dan pengeluaran akan membebani kemampuan impor perusahaan. Dalam kondisi seperti itu, Pertamina berisiko tidak lagi bisa mengimpor BBM dengan volume yang sama seperti sebelumnya.
Dampaknya tidak hanya terasa pada sisi keuangan perusahaan. Penurunan volume impor juga bisa menekan ketersediaan stok BBM di pasar domestik.
Jika situasi itu terlambat ditangani, pasokan energi untuk masyarakat dapat menurun. Risiko itu akan menjadi lebih besar saat permintaan berada di puncaknya.
Dalam konteks tersebut, penyesuaian harga diposisikan sebagai langkah untuk menjaga kesinambungan pasokan. Tanpa langkah itu, gangguan stok dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih luas di tingkat konsumen akhir.
Konteks pasar regional
Perbandingan dengan Thailand memberi gambaran bahwa tekanan harga BBM tidak hanya terjadi di Indonesia. Harga bensin RON 91 dan RON 92 di negara tersebut disebut mencapai sekitar Rp23 ribu ke konsumen akhir jika dikonversi ke rupiah.
Informasi ini memperlihatkan bahwa lonjakan harga RON 92 merupakan bagian dari dinamika pasar energi regional dan global. Indonesia tidak berdiri sendiri dalam menghadapi kenaikan harga yang dipicu situasi geopolitik.
Karena RON 92 tidak termasuk BBM bersubsidi, pergerakan harga internasional menjadi faktor yang sangat menentukan. Saat harga pasar global naik tajam, ruang untuk menahan harga di dalam negeri menjadi semakin sempit.
Itu sebabnya perubahan pada Harga Indeks Pasar dan kurs langsung memengaruhi formula harga BBM umum. Kenaikan batas atas Pertamax dari Maret hingga Juni memperlihatkan besarnya tekanan biaya yang harus dihadapi.
Dengan harga RON 92 dunia yang sudah berada di kisaran Rp20 ribu sampai Rp21 ribuan per liter, tantangan utama bukan hanya soal harga jual. Pertamina juga harus menjaga agar pasokan tetap tersedia di tengah biaya impor yang semakin tinggi.
