Dulu Ribuan Unit, Kini 26 Saja, Apa yang Sedang Terjadi dengan BYD Atto 1?

Author: Qoo Media

Penjualan BYD Atto 1 di Indonesia turun sangat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Model yang sebelumnya sanggup mencatat ribuan unit distribusi per bulan itu kini hanya tersisa 26 unit pada Mei 2026.

Perubahan ini langsung menjadi sorotan karena Atto 1 sempat menjadi salah satu mobil listrik paling diminati di pasar nasional. Dalam waktu singkat, posisinya bergeser dari pemimpin pasar menjadi model yang distribusinya merosot hingga level puluhan unit.

Penurunan tajam dalam lima bulan

Data distribusi kendaraan dari pabrikan ke jaringan dealer menunjukkan tren penurunan yang sangat jelas sejak awal 2026. Pada Januari, distribusi BYD Atto 1 masih mencapai 3.361 unit dan bahkan naik menjadi 3.700 unit pada Februari.

Setelah itu, angkanya turun drastis pada Maret menjadi 672 unit. Penurunan berlanjut pada April ke 108 unit, lalu menyusut lagi menjadi hanya 26 unit pada Mei.

Jika dilihat dari pola pergerakannya, penurunan ini bukan sekadar koreksi kecil setelah performa tinggi di awal tahun. Distribusi menyusut dari ribuan unit menjadi ratusan, lalu jatuh ke level dua digit dalam kurun beberapa bulan saja.

Kondisi ini kontras dengan performa Atto 1 sepanjang 2025. Selama setahun penuh, model ini mencatat distribusi lebih dari 22 ribu unit dan sempat memimpin pasar kendaraan listrik nasional.

Bukan semata soal minat pasar

Meski angka distribusi melemah tajam, kondisi ini dinilai tidak otomatis mencerminkan anjloknya minat konsumen. Sejumlah pengamat industri menilai penurunan tersebut lebih berkaitan dengan perubahan strategi operasional BYD di Indonesia.

BYD saat ini diketahui sedang mengoptimalkan fasilitas perakitan lokal di dalam negeri. Setelah sebelumnya mengandalkan impor kendaraan utuh atau CBU, perusahaan mulai beralih ke produksi lokal melalui skema CKD.

Peralihan dari model impor ke perakitan lokal biasanya memengaruhi ritme pasokan ke dealer. Dalam masa transisi seperti ini, angka wholesales dapat mengalami penyesuaian sementara sebelum alur produksi dan distribusi kembali stabil.

Langkah tersebut juga terkait dengan komitmen investasi BYD kepada pemerintah Indonesia. Karena itu, penurunan distribusi Atto 1 pada fase ini lebih banyak dibaca sebagai dampak penataan ulang operasional daripada sinyal tunggal melemahnya pasar.

Peran pabrik Subang mulai diperhitungkan

Harapan pemulihan kini banyak dikaitkan dengan aktivitas produksi BYD di Subang, Jawa Barat. Fasilitas ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 150 ribu unit kendaraan per tahun.

Mulainya aktivitas pabrik tersebut menjadi faktor penting bagi keberlanjutan pasokan model-model BYD di Indonesia, termasuk Atto 1. Produksi lokal diharapkan bisa memperkuat ketersediaan unit sekaligus memperbaiki ritme distribusi ke jaringan dealer.

Beberapa unit hasil produksi lokal juga disebut sudah digunakan untuk kegiatan uji coba dan test drive. Ini menjadi sinyal bahwa proses peralihan menuju produksi dalam negeri mulai menunjukkan perkembangan nyata.

Dengan basis produksi lokal, BYD berpeluang menata kembali strategi distribusi yang sempat terganggu selama masa transisi. Kehadiran pabrik di Subang juga dipandang bisa meningkatkan daya saing merek tersebut di pasar otomotif nasional.

Masih terbuka peluang bangkit

Atto 1 tetap datang dengan modal kuat di pasar Indonesia karena rekam jejak penjualannya sebelumnya sangat besar. Dominasi distribusi sepanjang 2025 menunjukkan model ini pernah memiliki penerimaan pasar yang sangat baik.

Karena itu, penurunan distribusi dalam beberapa bulan terakhir belum menutup peluang kebangkitan. Saat dukungan produksi lokal mulai berjalan, ruang untuk memperbaiki pasokan dan mendorong distribusi kembali masih terbuka lebar.

Selain faktor produksi, meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik juga menjadi elemen pendukung. Jika proses transisi ke CKD berjalan lancar, Atto 1 berpotensi kembali menguat pada semester kedua 2026.

Efisiensi dari produksi lokal juga bisa menjadi modal tambahan bagi BYD untuk mengembalikan momentum. Dalam industri otomotif, kestabilan pasokan sering menjadi penentu penting setelah permintaan pasar terbentuk.

Untuk saat ini, perhatian pasar tertuju pada seberapa cepat BYD menuntaskan fase transisi tersebut. Angka 26 unit pada Mei 2026 menjadi penanda bahwa perubahan strategi sedang berlangsung, sekaligus ujian bagi Atto 1 untuk kembali membuktikan posisinya di pasar mobil listrik Indonesia.

Terbaru