Langkah besar Fox Corporation untuk membeli Roku senilai sekitar $22 miliar berpotensi mengubah cara jutaan orang menemukan dan menonton tayangan di TV mereka. Bukan hanya soal menggabungkan layanan streaming, transaksi ini juga memberi Fox kendali atas sistem yang selama ini menjadi pintu masuk utama ke konten di banyak smart TV dan streaming stick.
Nilai transaksinya ditetapkan pada $160 per saham dalam skema tunai dan saham. Jika rampung, ini akan menjadi ekspansi digital terbesar Fox sekaligus salah satu perubahan paling besar dalam lanskap streaming gratis berbasis iklan di Amerika Serikat.
Bagi pengguna biasa, dampak paling nyata ada di layar utama Roku dan pengalaman menonton sehari-hari. Fox selama ini kuat di siaran langsung, termasuk NFL Sunday games, Major League Baseball, dan berita langsung, tetapi belum memiliki platform perangkat keras sendiri yang mengatur bagaimana penonton menelusuri dan memilih tayangan.
Dengan membeli Roku, Fox tidak lagi hanya memiliki konten. Perusahaan itu juga akan menguasai sistem operasi yang menentukan apa yang muncul di hadapan jutaan pengguna saat mereka menyalakan TV.
Tubi dan The Roku Channel dalam satu atap
Salah satu inti paling penting dari kesepakatan ini adalah penggabungan dua pusat besar streaming gratis berbasis iklan, yaitu Tubi milik Fox dan The Roku Channel. Kombinasi keduanya menempatkan entitas baru itu ke jajaran teratas konsumsi televisi di Amerika Serikat.
Secara gabungan, keduanya akan menguasai pangsa waktu tonton terbesar ketiga di AS. Posisi itu disebut hanya berada di belakang YouTube dan Netflix, sebuah lompatan besar untuk bisnis TV gratis yang selama ini berkembang di luar model langganan premium.
Bagi pasar streaming, arti kesepakatan ini melampaui sekadar penambahan katalog. Fox mendapatkan jalur distribusi langsung ke perangkat, sementara Roku memperoleh sandaran konten siaran langsung dan jaringan media besar yang sudah mapan.
Itu membuat perusahaan gabungan memiliki kombinasi yang jarang dimiliki pesaing lain. Mereka punya platform, layar utama, layanan streaming gratis, dan akses ke konten siaran langsung yang menarik penonton dalam jumlah besar.
Siapa memegang kendali setelah merger
Struktur kepemilikan setelah transaksi juga sudah digambarkan dengan cukup jelas. Pemegang saham Fox akan memiliki sekitar 73% dari perusahaan gabungan, sedangkan pemegang saham Roku akan memegang sekitar 27%.
Pendiri Roku, Anthony Wood, juga dijadwalkan bergabung dengan dewan direksi Fox. Langkah itu menunjukkan bahwa Roku tidak hanya dibeli sebagai aset distribusi, tetapi juga tetap diposisikan sebagai bagian penting dari arah bisnis gabungan ke depan.
Dari sisi korporasi, dewan kedua perusahaan telah menyetujui perjanjian definitif. Namun, transaksi ini belum final dan masih menunggu persetujuan regulator serta pemungutan suara pemegang saham.
Fox memperkirakan proses itu akan selesai pada paruh pertama 2027. Sampai penutupan resmi terjadi, perangkat Roku dan TV berbasis Roku disebut akan tetap berfungsi seperti biasa.
Kenapa akuisisi ini penting untuk penonton
Nilai strategis terbesar dari akuisisi ini ada pada kendali atas kebiasaan menonton. Di era streaming, siapa yang menguasai tampilan awal TV memiliki pengaruh besar terhadap apa yang ditonton pengguna, layanan mana yang lebih mudah ditemukan, dan konten apa yang paling sering dipromosikan.
Fox sebelumnya dikenal sebagai tujuan utama untuk tayangan yang harus ditonton langsung pada waktunya. Namun, tanpa platform perangkat keras atau ekosistem langganan premium besar, posisinya di ruang digital tidak sekuat pengaruhnya di siaran tradisional.
Akuisisi Roku mengubah itu secara instan. Fox kini bergerak dari sekadar pemilik konten menjadi pemain yang juga bisa mengatur distribusi, penemuan konten, dan pengalaman menonton dari titik awal.
Bagi konsumen, perubahan langsung mungkin tidak terasa sekarang. Namun setelah transaksi ditutup, ada potensi layar utama Roku akan diisi lebih banyak penekanan pada olahraga langsung, berita, dan tayangan gratis berbasis iklan.
Arah itu sejalan dengan kekuatan masing-masing pihak. Fox membawa konten siaran langsung dan merek media besar, sedangkan Roku membawa kehadiran perangkat dan sistem operasi yang sudah tertanam di banyak rumah.
Dalam praktiknya, kombinasi ini bisa membuat TV gratis menjadi arena persaingan yang jauh lebih serius. Di saat banyak layanan berbayar menghadapi tantangan retensi pelanggan, model gratis dengan iklan justru mendapat dorongan besar dari skala gabungan Tubi dan The Roku Channel.
Kesepakatan ini juga memperlihatkan bahwa perebutan pasar streaming kini tidak hanya terjadi di tingkat aplikasi. Pertarungan juga berlangsung di level sistem operasi, layar beranda, dan jalur distribusi yang menghubungkan penonton dengan konten setiap hari.
Jika semua persetujuan berjalan sesuai rencana, Fox tidak hanya membeli Roku sebagai layanan streaming atau merek perangkat. Perusahaan itu sedang membeli posisi strategis di pusat ruang keluarga digital, tepat di layar yang menentukan apa yang akan ditonton jutaan orang berikutnya.
