DFSK melihat peluang besar di pasar SUV plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV Indonesia karena konsumen mulai lebih siap menerima teknologi elektrifikasi. Setelah fokus di mobil listrik murni seperti E1 dan E5, merek asal Tiongkok itu kini menyiapkan E5 Plus untuk masuk ke segmen yang menurut mereka lebih pas untuk masa transisi.
Langkah itu tidak datang tanpa tantangan. DFSK harus berhadapan dengan pemain yang lebih dulu dikenal di kelas PHEV, termasuk Chery dan BYD, sambil meyakinkan pasar bahwa produknya punya nilai yang sepadan.
PHEV dianggap jembatan yang lebih realistis
Alexander Barus, CEO PT Sokonindo Automobile, menilai perubahan sikap konsumen terhadap mobil listrik berlangsung cepat dalam empat tahun terakhir. Ia menyebut pada 2021-2022 publik masih banyak bertanya soal EV, lalu pada 2023 mulai memahami, pada 2024 mulai membeli, dan pada 2025 sudah tidak ada lagi keraguan.
Bagi DFSK, dinamika itu membuka ruang baru untuk teknologi PHEV. Perusahaan melihat PHEV sebagai pilihan tepat bagi konsumen yang masih menahan diri untuk pindah penuh ke mobil listrik murni karena keterbatasan infrastruktur SPKLU.
Andalkan efisiensi dan jarak tempuh
DFSK menaruh harapan pada E5 Plus dengan sejumlah klaim utama yang dinilai relevan untuk konsumen keluarga. Salah satunya adalah konsumsi bahan bakar di atas 80 kilometer per liter, serta kemampuan menempuh jarak lebih dari 1.300 kilometer tanpa perlu isi tangki.
Cing Hok Rifin, Director of Sales Center PT Sokonindo Automobile, mengatakan fitur yang ditawarkan juga menjadi salah satu daya tarik penting. Ia menyebut E5 Plus bukan hanya dirancang sebagai mobil pribadi, tetapi juga sebagai mobil keluarga dengan fitur yang banyak.
Di segmen PHEV, DFSK ingin menonjol lewat kombinasi efisiensi, dimensi besar, dan kelengkapan fitur. Perusahaan juga menegaskan bahwa mereka membandingkan langsung fitur E5 Plus dengan pemain lain di kelas yang sama untuk memastikan daya saingnya.
Jaringan diler ikut dipertebal
Selain produk, DFSK menyadari bahwa penerimaan pasar juga bergantung pada layanan setelah pembelian. Karena itu, perusahaan ikut memperkuat jaringan diler dan layanan purnajual untuk menopang peluncuran PHEV perdananya di Indonesia.
Strategi ini penting karena DFSK masuk ke arena yang persaingannya kian ketat. Kehadiran merek-merek Cina lain membuat konsumen punya banyak pilihan, sehingga layanan dan kepercayaan menjadi faktor yang sama pentingnya dengan spesifikasi.
Modal penjualan mulai membaik
Di tengah persiapan masuk ke PHEV, performa penjualan DFSK juga menunjukkan perbaikan. Sepanjang 2025, penjualan retail DFSK tercatat 832 unit, meski awal tahun sempat berat dengan hanya 17 unit.
Memasuki 2026, penjualan mereka mulai stabil di kisaran 100 unit per bulan secara retail. Data internal yang disampaikan menunjukkan angka 101 unit pada Januari, 100 unit pada Februari, 104 unit pada Maret, lalu masing-masing 101 unit pada April dan Mei.
Perbaikan itu memberi sinyal bahwa DFSK masih punya ruang untuk memperkuat bisnis di Indonesia. Dengan pasar yang mulai akrab dengan elektrifikasi, strategi masuk lewat PHEV menjadi cara DFSK membaca celah di antara kebutuhan efisiensi, keterbatasan infrastruktur, dan keinginan konsumen akan kendaraan keluarga yang lebih serbaguna.
Source: otomotif.katadata.co.id






