Wuling Motors menegaskan kontainer miliknya bukan penyebab utama penumpukan ribuan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok. Perusahaan menyebut sempat ada gangguan operasional pada awal Juni 2026, tetapi jumlah kontainer yang terdampak tidak banyak dan masalah itu sudah selesai.
Pernyataan itu muncul setelah polemik penumpukan kontainer di pelabuhan tersebut ramai dibicarakan publik. Wuling mengatakan langsung mengecek informasi yang beredar bersama tim internal setelah mengetahui kabar itu dari pemberitaan media.
Gangguan operasional sempat terjadi
Marketing Director Wuling Motors, Ricky Christian, mengatakan perusahaan memang mengalami kendala pada pengangkutan kontainer di awal Juni 2026. Namun, ia menegaskan gangguan itu tidak meluas dan tidak melibatkan jumlah kontainer yang besar.
Menurut Ricky, Wuling juga bergerak cepat untuk menuntaskan hambatan tersebut. Ia menyebut seluruh kontainer yang sempat terkendala sudah keluar dari pelabuhan pada 11 Juni.
Dengan begitu, Wuling mencoba meredakan sorotan yang mengaitkan perusahaannya dengan penumpukan kontainer di Priok. Ricky berharap penjelasan itu bisa menjadi respons atas pemberitaan yang berkembang.
Sorotan publik tertuju ke importir otomotif
Ribuan kontainer sebelumnya dilaporkan menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Dalam pemberitaan yang beredar, kondisi itu dikaitkan dengan sejumlah perusahaan otomotif yang disebut belum segera mengeluarkan barangnya, termasuk BYD dan Wuling.
Direktur Jenderal Bea Cukai Djaka Budhi Utama menegaskan penumpukan itu bukan terjadi karena masalah administrasi kepabeanan. Menurut dia, persoalannya ada pada perusahaan importir yang tidak segera melakukan pengeluaran barang dari pelabuhan tujuan.
Djaka menjelaskan bahwa penumpukan tetap terjadi meski barang sudah melalui proses pengeluaran. Ia menyebut ada pelaku usaha yang tidak segera mengangkut barang keluar setelah persetujuan keluar barang terbit.
Fasilitas pelabuhan disebut ikut dimanfaatkan
Djaka juga mengurai bahwa sejumlah perusahaan atau pabrikan otomotif memanfaatkan fasilitas pelabuhan sehingga barang tidak segera keluar dari area pelabuhan selama tiga hari. Ia mencontohkan BYD dan Wuling sebagai pihak yang masih menggunakan fasilitas tersebut setelah SPPB terbit.
Ia bahkan menyebut ada kontainer yang tidak segera diangkut lebih dari dua minggu. Saat memberikan penjelasan itu, Djaka mengatakan jumlah kontainer yang masih berada di pelabuhan kala itu hampir mencapai 10 ribu unit.
Pernyataan tersebut membuat nama Wuling ikut terseret dalam perbincangan soal padatnya arus kontainer di Priok. Namun, klaim Wuling menunjukkan bahwa kendala yang dialami perusahaan berada pada skala terbatas dan sudah dibereskan lebih dulu.
Wuling tekankan sudah menuntaskan kontainer
Wuling menegaskan seluruh kontainer yang sempat tertahan telah dikeluarkan dari pelabuhan sejak 11 Juni. Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa persoalan internal perusahaan sudah diselesaikan, meski isu penumpukan di pelabuhan masih terus menjadi perhatian.
Di tengah ramainya pembahasan soal arus peti kemas di Tanjung Priok, klarifikasi seperti ini penting untuk memisahkan antara gangguan operasional yang terbatas dan penumpukan yang lebih besar. Wuling pun menyatakan telah melakukan pengecekan internal agar informasi yang beredar bisa dijawab secara langsung.
