Xiaomi kembali menarik perhatian pasar mobil listrik dengan mengklaim pencapaian yang jarang terjadi: YU7 GT melaju mengitari Nürburgring Nordschleife tanpa pengemudi dan mencatat rekor lap otonom dunia pertama. Mobil listrik berperforma tinggi itu menuntaskan lintasan dalam 10 menit 29,483 detik, sekaligus menegaskan ambisi Xiaomi di bidang intelligent driving.
Pencapaian tersebut bukan hanya soal angka waktu. Di pasar kendaraan listrik premium yang sangat kompetitif di China, kemampuan berkendara pintar kini menjadi salah satu faktor pembeda paling penting, dan Xiaomi jelas ingin menunjukkan bahwa teknologinya sudah siap diuji di salah satu sirkuit paling sulit di dunia.
Laporan teknis di lintasan tersulit
Nürburgring Nordschleife memiliki panjang sekitar 20,8 kilometer dan dikenal karena tikungan rapat serta kontur lintasan yang rumit. Di industri otomotif, sirkuit ini sering dianggap sebagai panggung pembuktian tertinggi untuk kemampuan handling dan sasis kendaraan.
Bagi produsen, menyelesaikan satu putaran penuh dengan sistem otonom juga menjadi ujian menyeluruh untuk persepsi, pengambilan keputusan, dan eksekusi sistem. Xiaomi menyebut lap otonom ini sebagai “new starting point rather than an end point,” yang memberi sinyal bahwa perusahaan masih ingin mendorong kemampuan sistem intelligent-driving miliknya lebih jauh.
Lebih lambat dari rekor driver profesional
Meski menjadi rekor baru untuk kategori otonom, catatan YU7 GT masih sekitar 3 menit 7 detik lebih lambat dibanding putaran tercepat yang sebelumnya dibuat oleh pembalap profesional. Pada Mei lalu, Xiaomi menyebut YU7 GT yang dikendarai pembalap profesional mampu mencetak rekor baru SUV produksi di Nürburgring dengan waktu 7 menit 22,755 detik.
Perbedaan waktu itu menunjukkan jurang performa antara kemampuan manusia dan sistem otonom saat ini. Namun, bagi Xiaomi, fakta bahwa SUV produksi bisa menyelesaikan putaran penuh secara mandiri sudah cukup untuk menjadi demonstrasi teknologi yang kuat.
SUV performa tinggi dengan spesifikasi besar
YU7 GT diluncurkan secara resmi pada 21 Mei dan diposisikan Xiaomi sebagai SUV berkelas mobil sport. Harga awalnya di China adalah 389.900 yuan atau sekitar $57.580, sementara varian fully loaded dibanderol 429.900 yuan.
Mobil ini memakai Xiaomi Super Motor V8s EVO generasi baru. Sistem dua motornya menghasilkan tenaga maksimum gabungan 738 kilowatt, setara 1.003 Ps, dengan akselerasi 0-100 km/jam dalam 2,92 detik dan kecepatan puncak 300 km/jam.
Dari sisi baterai, YU7 GT membawa baterai ternary lithium 101,7 kWh. Mobil ini diklaim memiliki jarak tempuh CLTC 705 kilometer dan memakai platform tegangan tinggi 897 volt berbasis silicon-carbide, yang memungkinkan pengisian hingga 570 kilometer dalam 15 menit.
Strategi produk dan tekanan bisnis EV
Di saat yang sama, Xiaomi juga menjalankan strategi ekspansi produk yang agresif pada akhir Mei. Selain meluncurkan GT premium, perusahaan juga merilis versi standar YU7 dengan harga awal 233.500 yuan.
Langkah itu penting karena bisnis kendaraan listrik Xiaomi masih menghadapi tekanan keuangan. Bisnis inovatif perusahaan, termasuk EV dan AI, mencatat rugi operasional 3,1 miliar yuan pada kuartal pertama.
Secara operasional, Xiaomi mengirimkan 32.759 kendaraan pada Mei. Angka itu naik 16,94% dibanding tahun lalu, tetapi turun 10,74% dari April, sementara lini YU7 menyumbang 8.736 unit dan mencatat penurunan beruntun selama lima bulan.
Target besar di tengah persaingan ketat
Xiaomi menargetkan pengiriman 550.000 kendaraan pada 2026. Target ini sekitar 34% lebih tinggi dibanding sekitar 410.000 kendaraan yang dikirim pada 2025, sehingga volume penjualan tetap menjadi kunci utama untuk menopang ambisi otomotif perusahaan.
Rekor otonom di Nürburgring juga berfungsi sebagai pesan merek yang jelas. Di segmen EV premium China, Xiaomi tampaknya ingin memperkuat citranya bukan hanya sebagai pemain volume, tetapi juga sebagai perusahaan yang serius menggarap performa dan teknologi berkendara pintar.
Source: cnevpost.com






