700 Armada Aerotrans Dipantau Real-Time, Skor Keselamatan Naik ke 89% Setelah Geotab

Author: Qoo Media

Aerotrans mempercepat transformasi keselamatan armada dengan mengandalkan teknologi telematika Geotab. Sejak platform berbasis data real-time itu diterapkan pada September 2024, perusahaan mencatat perbaikan yang terasa pada pengawasan operasional, perilaku berkendara, dan efisiensi perjalanan.

Langkah ini menjadi penting karena Aerotrans mengelola layanan transportasi darat untuk Garuda Indonesia Group dalam skala besar. Perusahaan mengoperasikan lebih dari 700 kendaraan dengan intensitas lebih dari 1.200 perjalanan setiap bulan, sehingga visibilitas armada dan pencegahan risiko di jalan menjadi kebutuhan utama.

Pengawasan armada yang lebih presisi

Dalam operasional sehari-hari, tim Aerotrans kini memiliki visibilitas langsung terhadap kondisi kendaraan, lokasi, dan perilaku pengemudi. Kontrol yang lebih rapat ini membantu perusahaan menjaga ketepatan waktu awak pesawat yang berangkat dari dan menuju bandara.

Penerapan pemetaan lokasi real-time dan geofencing juga memperkuat pengawasan di area krusial sekitar bandara utama. Fitur tersebut membantu meminimalkan risiko keterlambatan saat penjemputan kru maskapai sekaligus menjaga pergerakan armada tetap berada dalam zona operasional yang tepat.

Dampak paling nyata terlihat pada capaian keselamatan armada. Aerotrans mencatat peringkat keselamatan 89 persen, dengan peningkatan 61 persen dalam prediksi tingkat kecelakaan per kilometer.

Perubahan perilaku pengemudi terlihat jelas

Teknologi ini juga memberi pengaruh langsung pada perilaku berkendara. Sistem notifikasi real-time membantu mendorong pengemudi agar lebih disiplin di jalan, sehingga kejadian rem mendadak turun 57 persen dan akselerasi agresif berkurang 66 persen.

Di sisi lain, durasi idle kendaraan menyusut 22 persen. Penurunan ini ikut mendukung efisiensi bahan bakar dan membuat pengelolaan armada menjadi lebih hemat sumber daya.

Aerotrans menilai pendekatan berbasis data itu menjawab kompleksitas operasional yang mereka hadapi. Dengan armada besar dan ritme perjalanan tinggi, pengawasan manual saja tidak cukup untuk menjaga standar keselamatan secara konsisten.

Kadek Bayu Temaja, Direktur Aerotrans, mengatakan transformasi ini bukan sekadar adopsi teknologi, melainkan upaya memastikan keselamatan dan presisi operasional di seluruh armada. Ia menyebut Geotab selaras dengan nilai perusahaan dalam hal presisi dan keselamatan.

Arah pengembangan sistem ke depan

Keberhasilan awal itu mendorong Aerotrans menyiapkan integrasi yang lebih dalam ke sistem internal. Fokus berikutnya adalah menghubungkan platform telematika tersebut dengan Transport Management System agar ekosistem digital perusahaan menjadi lebih utuh.

Rencana itu juga mencakup pemanfaatan geofencing untuk mendeteksi kendaraan terdekat yang siap beroperasi. Cara ini ditujukan untuk meningkatkan akurasi pengiriman, mempercepat waktu respons, dan memperkuat koordinasi operasional.

Hermawan, Kepala Pusat Pengendalian Operasi Transportasi Aerotrans, menjelaskan bahwa geofencing menjadi fitur unggulan karena memungkinkan pemantauan kendaraan yang mendekati zona penting seperti area bandara di Denpasar atau Soekarno-Hatta. Dengan visibilitas real-time itu, tim control center bisa memantau posisi kendaraan secara lebih presisi.

Dari sisi penyedia teknologi, Geotab melihat kemitraan ini sebagai contoh pemanfaatan insight real-time untuk mendukung transportasi awak yang lebih aman. Ezanne Soh, Associate Vice President Southeast Asia Geotab, menyebut pendekatan tersebut dapat memperkuat keselamatan transportasi, meningkatkan efisiensi, dan mendukung operasional aviasi yang lebih andal serta berkelanjutan.

Aerotrans juga membuka peluang penggunaan pendekatan serupa di sektor lain seperti logistik dan pariwisata. Dengan fondasi data yang semakin kuat, perusahaan menempatkan keselamatan sebagai inti dari efisiensi operasional yang ingin dibangun ke depan.

Terbaru