Honda baru saja menghadapi momen yang jarang terjadi dalam sejarah panjangnya. Pabrikan asal Jepang itu disebut mengalami kerugian untuk pertama kalinya dalam 70 tahun berjualan di pasar roda empat, dan sorotan langsung tertuju pada strategi mobil listriknya.
Kerugian itu datang di saat Honda sedang menata ulang arah pengembangan kendaraan listrik. Beberapa model di 0 Series dihentikan pengembangannya, sementara hanya 0 Alpha yang masih dipersiapkan untuk dijual.
Honda selama ini dikenal sebagai merek otomotif besar dengan lini produk yang sangat luas. Mobil yang ditawarkan mencakup SUV, MPV, hatchback, city car, sedan, hingga kei car, dengan pilihan mesin bensin, hybrid, listrik, PHEV, dan juga hidrogen fuel cell atau FCEV.
Tekanan datang dari pasar mobil listrik
Di tengah perubahan pasar, Honda juga menghentikan pengembangan dua model dalam 0 Series. Tiga model BEV yang sempat disiapkan untuk pasar Amerika Utara ikut disetop, termasuk satu produk dari Acura.
Langkah itu dilakukan sebelum Honda mengumumkan kerugian pertamanya dalam tujuh dekade. Setelah pengumuman tersebut, Honda meminta maaf dan menyatakan harapan untuk memulihkan keuntungan pada tahun fiskal berikutnya.
Namun, kondisi pasar yang tidak menentu membuat pemulihan itu tidak terlihat mudah. Persaingan di pasar roda empat tetap ketat, sementara banyak kompetitor terus meluncurkan mobil baru.
China ikut mengubah peta persaingan
Pasar mobil listrik belakangan banyak diisi merek asal China seperti BYD dan Geely. Ekspansi mereka dalam beberapa tahun terakhir membuat citra produknya berubah jauh lebih baik dan harga yang terjangkau ikut menarik banyak konsumen.
Honda menjadi salah satu pihak yang terdampak dari tekanan itu. Selain persaingan dari merek China, ada juga penurunan peminat mobil BEV di sejumlah negara yang ikut menekan pasar.
Untuk bertahan, Honda berdiskusi dengan Nissan dan Mitsubishi mengenai kerja sama merakit baterai dan software terbaru. Kelanjutan kerja sama itu masih belum dipastikan, tetapi jika terwujud, ketiganya bisa membentuk kekuatan baru di pasar mobil ramah lingkungan.
Model yang tersisa tetap berjalan
Meski sejumlah proyek dipangkas, Honda tidak menarik kembali model yang sudah dihentikan pengembangannya. Fokus saat ini mengarah ke 0 Alpha dan Super One yang tetap berlanjut sampai resmi dijual.
0 Alpha menjadi satu-satunya model 0 Series yang bertahan. Model SUV itu sudah dites jalan di India, dan negara tersebut nantinya disiapkan sebagai basis produksi.
Super One juga masih dalam jalur pengembangan dan akan dirakit di Jepang. Honda juga tidak menutup kemungkinan model itu diproduksi di negara tujuan, termasuk Indonesia.
Indonesia masih menjadi pasar yang menantang
Di Indonesia, Honda saat ini hanya menjual satu mobil listrik, yaitu e:N1. Namun model itu tidak ditawarkan seperti mobil lain, melainkan disediakan sebagai mobil sewaan.
Jika dijual, banderolnya diperkirakan bisa menembus Rp 1 miliar karena statusnya impor utuh dari negara asal. Harga itu dinilai berisiko membuatnya tidak selaris HR-V, apalagi model HR-V kini sudah memakai mesin hybrid.
Honda juga tampak belum leluasa merakit e:N1 secara lokal. Situasi ini membuat langkah elektrifikasi Honda di Indonesia berjalan lebih hati-hati dibandingkan strategi pada lini hybrid.
Saingan BEV makin sulit dikejar
Super One dan 0 Alpha disebut sebagai model BEV berikutnya yang akan dijual di Indonesia. Namun, waktu peluncurannya belum diumumkan sehingga ruang tunggu pasar masih terbuka lebar.
Di sisi lain, Honda menghadapi persaingan yang makin berat dari merek-merek listrik lain di Indonesia. Hingga bulan lalu, mobil listrik terlaris masih dipegang Jaecoo J5 EV.
Mengejar penjualan J5 EV dinilai sangat sulit karena harganya tergolong terjangkau untuk mobil seukuran HR-V. Tekanan seperti inilah yang membuat pemulihan Honda tidak hanya bergantung pada produk baru, tetapi juga pada kemampuan membaca perubahan selera pasar dengan lebih cepat.
Source: ridertua.com






