Musim hujan selalu membawa risiko yang lebih besar bagi pengendara, terutama saat banjir mulai menggenangi jalan. Kerugian yang muncul bukan hanya soal perjalanan yang terganggu, tetapi juga kerusakan mobil yang bisa membengkak biayanya.
BMKG menyebut awal musim hujan di Indonesia diperkirakan datang lebih awal, yakni pada September hingga November, dengan puncak penghujan pada Desember dan Januari. Kondisi ini membuat pemilik kendaraan perlu lebih waspada ketika melintasi genangan agar tidak memicu kerusakan berat.
Salah satu risiko paling serius adalah kerusakan mesin. Water hammer terjadi ketika ruang bakar kemasukan air sehingga piston tidak bisa mengompresi cairan itu, lalu piston bisa berlubang atau bengkok.
Kondisi ini kerap terjadi saat mobil nekat menerobos banjir atau dipaksa menyala ketika masih terendam. Jika air sudah mencapai setinggi kap mesin, mesin sebaiknya tidak dinyalakan karena risikonya bukan hanya water hammer, tetapi juga korsleting dan kerusakan pada komponen elektrikal.
Bodi Mobil Tak Kebal dari Korosi
Kerusakan lain yang sering muncul ada pada bodi mobil. Air adalah musuh logam, sehingga bodi kendaraan rentan berkarat ketika lama terendam banjir.
Air banjir juga bisa masuk ke celah-celah mobil yang sulit dijangkau. Masalahnya semakin berat bila air kotor membawa bahan kimia atau zat asam yang mempercepat korosi dan membuat karat muncul lebih banyak di bodi mobil.
Karena itu, genangan bukan sekadar membuat tampilan mobil kotor. Dalam kondisi tertentu, air bisa meninggalkan kerusakan yang baru terlihat setelah beberapa waktu, terutama jika bagian logam terus terpapar lembap dan kotoran.
Kelistrikan Jadi Komponen Paling Rentan
Selain mesin dan bodi, sistem kelistrikan juga sangat rawan terdampak banjir. Saat mobil terendam, air dapat langsung masuk ke ruang mesin dan merusak komponen secara seketika, apalagi jika air bercampur lumpur.
ECU atau Electronic Control Unit termasuk bagian yang harus diwaspadai karena menjadi otak mobil. Jika ECU, aki, kabel-kabel, motor starter, dinamo, dan komponen lain terkena dampak, pengecekan menyeluruh perlu dilakukan untuk mencegah gangguan lanjutan.
Kerusakan kelistrikan tidak boleh dianggap ringan karena dapat memicu korsleting. Dalam kondisi terburuk, korsleting itu bisa menimbulkan kebakaran dan membuat kerugian semakin besar.
Pemilik kendaraan yang terendam banjir masih bisa melakukan perbaikan, tetapi biayanya tidak sedikit. Karena itu, langkah paling aman adalah menghindari memaksa mobil melewati genangan yang terlalu tinggi, terutama ketika air sudah mendekati kap mesin.
Tanda-tanda kerusakan akibat banjir juga tidak selalu terlihat pada hari yang sama. Mesin, bodi, dan kelistrikan bisa mengalami dampak berbeda, sehingga pemeriksaan menyeluruh menjadi penting setelah mobil bersentuhan dengan air banjir.







