BYD Naik Global, Tapi Penjualan di China Justru Tertekan

BYD mencatat kenaikan penjualan global pada Juni, tetapi cerita di rumah sendiri justru tidak seindah itu. Di tengah ekspansi besar-besaran ke pasar luar negeri, penjualan domestiknya malah tertekan oleh pasar otomotif China yang sedang melemah.

Ridertua.com melaporkan bahwa BYD menjual 403.472 unit mobil secara global sepanjang bulan lalu, naik 5,5 persen dibanding Juni 2025. Kenaikan ini terjadi setelah performa Mei hanya tumbuh 0,3 persen dari tahun sebelumnya, sehingga lonjakan Juni terasa lebih berarti bagi produsen asal China tersebut.

Ekspor Melonjak, Pasar Luar Negeri Jadi Penopang

Yang paling menonjol justru datang dari ekspor. Sepanjang Juni, pengiriman mobil dari kampung halaman BYD tembus 175.349 unit, atau naik 94,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan itu memperlihatkan seberapa serius BYD memperluas jejak bisnisnya di luar China. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini mendorong penjualan ke berbagai negara dan terus membangun fondasi agar tidak terlalu bergantung pada pasar domestik.

IndikatorJuniPerubahan
Penjualan global BYD403.472 unitNaik 5,5 persen
Ekspor dari kampung halaman175.349 unitNaik 94,7 persen
Penjualan domestik ChinaTidak disebutkan jumlahnyaTurun 22 persen

China Masih Jadi Titik Lemah

Di pasar domestik, BYD justru menghadapi tekanan berat. Penjualan di China turun 22 persen dibanding Juni 2025, padahal portofolio produknya semakin banyak dan semestinya bisa memberi dorongan lebih besar.

Masalah yang sama juga dirasakan produsen BEV lain seperti Xiaomi Auto dan Leapmotor. Salah satu penyebab utamanya adalah pengurangan insentif mobil ramah lingkungan secara bertahap, ditambah stok yang menumpuk dan daya beli konsumen yang melemah.

Diskon pun tidak cukup untuk membalik keadaan. Industri otomotif lokal di China sedang tertekan dalam beberapa bulan terakhir, sehingga banyak merek harus bekerja lebih keras untuk menjaga volume penjualan.

BYD Tetap Gas Ekspansi Ke Luar Negeri

Meski menghadapi tekanan di China, BYD tidak mengendurkan langkah ekspansinya. Perusahaan itu terus mendorong penjualan global melalui pembukaan dealer, peluncuran model baru, dan pembangunan pabrik perakitan di berbagai negara.

Salah satu fokus utama BYD adalah Eropa, termasuk rencana membangun sejumlah pabrik di sana. Pabrik di Hungaria disebut menjadi yang pertama, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada impor sekaligus menghindari tarif yang membebani mobil CBU.

Strategi itu juga relevan karena harga mobil China di Eropa kerap menjadi lebih mahal akibat sebagian besar merek masih mengirim unit langsung dari negara asalnya. Dengan produksi lokal, BYD punya peluang memperkuat posisi di pasar yang kompetitif.

Indonesia Jadi Salah Satu Pasar Penting

Di Indonesia, BYD tetap aktif menambah lini penjualan dan jaringan dealer. Posisi mereka di pasar mobil listrik masih kuat berkat model seperti Atto 1, M6, dan Sealion 7 yang disebut memberi kontribusi penjualan memuaskan.

BYD juga mulai masuk lebih jauh ke segmen ramah lingkungan lain lewat M6 DM di pasar PHEV. Model ini menjadi andalan baru untuk memperluas lini produk, bukan lagi hanya bertumpu pada mobil BEV.

Untuk saat ini, fokus BYD di Indonesia masih tertuju pada penjualan M6 DM terlebih dahulu. Setelah itu, perusahaan membuka peluang menghadirkan model lain, termasuk SUV atau hatchback, selama sesuai dengan potensi pasar yang ingin mereka garap.

Ekspansi ke banyak negara membuat BYD punya bantalan ketika pasar domestik melemah. Namun data Juni juga menunjukkan bahwa kekuatan global itu belum sepenuhnya mampu menutupi tekanan yang masih berlangsung di China.

Terkait