Robot humanoid memang menjadi sorotan utama di tahun ini sebagai wujud nyata dari mimpi teknologi yang selama ini hanya ada di fiksi ilmiah. Meskipun kemajuan teknologi sudah mencapai titik di mana robot-robot ini bisa berjalan dan berinteraksi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mereka masih sering terjatuh dan gagal melakukan tugas dasar secara stabil. Tahun ini menandai era dimana humanoid tidak hanya hadir, tapi juga “jatuh” sebagai bagian dari proses pembelajaran mereka.
Berbagai perusahaan teknologi menginvestasikan miliaran dolar demi mewujudkan robot humanoid serbaguna yang mampu menjalankan tugas sehari-hari. Namun, yang terlihat selama ini lebih banyak berupa demo yang dikemas dan aksi robot terjatuh yang viral. Kejadian-kejadian tersebut sebenarnya merupakan fase pembelajaran alami bagi robot dalam mendapatkan data nyata agar bisa beradaptasi dengan lingkungan kompleks manusia.
Jatuhnya Robot AIDOL dari Rusia di Panggung Moscow
Salah satu momen paling menarik adalah insiden robot humanoid AIDOL dari Rusia yang langsung roboh saat peluncuran di Moscow. Robot tersebut berjalan dengan tidak stabil dan akhirnya runtuh di atas panggung, memerlukan bantuan dari staf untuk mengangkatnya. Perusahaan penyusun AIDOL menyatakan bahwa masalah tersebut diakibatkan oleh kalibrasi yang kurang tepat dan gangguan pencahayaan. Mereka tetap yakin teknologi mereka sejajar dengan upaya global terdepan di bidang humanoid.
Tesla Optimus dan Kejadian Jatuh yang Memicu Spekulasi
Tesla ikut ambil bagian lewat robot Optimus, yang mengalami kejadian memalukan saat pameran di Miami. Video menunjukkan Optimus menjatuhkan beberapa botol dan kemudian terjatuh ke belakang. Namun, pengamat menilai gerakan tersebut menyerupai seseorang yang melepas headset VR, jadi ada kemungkinan robot tersebut dikendalikan dari jarak jauh, bukan sepenuhnya otonom. Tesla sudah sebelumnya mengakui menggunakan teleoperasi dalam demo tersebut.
Kekacauan di Kompetisi Humanoid Robotic Games China
Di arena kompetisi Humanoid Robotic Games yang digagas pemerintah China, 500 robot berpartisipasi dalam berbagai cabang seperti kickboxing dan balapan. Sayangnya, banyak robot yang gagal bergerak dengan baik; ada yang kehilangan bagian tubuh dan ada yang jatuh saat berjalan di atas panggung. Perbandingan dengan anak-anak manusia yang berdansa di samping robot memperlihatkan kelemahan keseimbangan robot secara nyata.
Pertarungan Tinju Robot yang Berakhir Faceplant
Acara tinju robot yang pertama kali diselenggarakan oleh perusahaan Unitree juga menampilkan momen-momen lucu sekaligus menggelikan. Salah satu robot yang bernama Silk Artisan terjatuh saat mencoba menendang lawannya, sementara robot lain, AI Strategist, malah tersandung saat mencoba melewati tubuh lawan yang jatuh. Semua robot di event ini dikendalikan jarak jauh, sehingga masih sulit untuk menilai kemampuan otonom mereka.
Kejadian Aneh Robot REK Mengamuk
Robot buatan perusahaan REK mengalami kejadian tidak terduga saat terlihat berputar dan bergerak liar seolah-olah mencoba melepaskan diri dari tali pengaman. Video ini mengundang banyak tawa sekaligus kekhawatiran karena gerakannya menyerupai adegan dalam film horor. Namun, anggota tim REK menyatakan kejadian ini disebabkan oleh “kesalahan manusia” dalam pengendalian.
Robot Unitree di Festival Lentera Melakukan Gerakan Agresif
Di sebuah festival lentera di China, robot H1 buatan Unitree tampak bergerak agresif ke arah salah satu penonton senior dan hampir menabrak pembatas pengaman. Insiden ini memicu spekulasi bahwa robot itu bertindak sengaja, tetapi menurut penjelasan keamanan, robot kemungkinan gagal mengenali benda dan kehilangan keseimbangan sebelum mencoba mengoreksi langkahnya.
Hambatan Tugas Sederhana seperti Mengangkat Pakaian
Robot yang diproduksi startup Figure AI, yang didukung oleh nama besar seperti Jeff Bezos dan Microsoft, juga mengalami kendala saat menunjukkan demo mengangkat pakaian. Robot ini lebih stabil dalam berjalan dibandingkan humanoid lain, tetapi demonstrasinya menunjukkan kesulitan menangani objek dengan tangan. Selain itu, muncul gugatan terhadap perusahaan terkait masalah keselamatan saat robot diuji coba.
Mengapa Robot Masih Sering Jatuh?
Robot humanoid paling banyak menemui kegagalan karena mereka masih bergantung pada data yang dikumpulkan dari simulasi dan lingkungan terkendali. Perangkat sensor dan algoritma masih kesulitan menghadapi situasi tak terduga di dunia nyata. Ilmuwan AI seperti Yann LeCun membandingkan kemampuan robot dengan anak usia empat tahun yang sudah melibatkan 50 kali lipat data sensorik dari yang dapat diproses sistem robot modern.
Upaya Mengajari Robot Cara Jatuh Aman
Salah satu solusi yang dikembangkan adalah pelatihan robot untuk jatuh dengan cara yang meminimalkan kerusakan. Penelitian dari Disney Research di Zurich menggunakan metode pembelajaran penguatan (reinforcement learning) yang memungkinkan robot belajar jatuh melalui simulasi berulang ribuan kali. Hasilnya, robot mampu jatuh tanpa kerusakan signifikan meskipun secara sengaja dijatuhkan dengan tongkat dalam pengujian nyata.
Masa Depan Robot Humanoid Masih Menjanjikan
Walaupun atap teknologi robot humanoid belum sempurna dengan banyak kegagalan memalukan, para insinyur tetap optimis. Robot perlu “berlatih” sebanyak mungkin di lingkungan nyata agar dapat menghindari dan mengatasi jagal jatuh. Seperti halnya balita yang belajar berjalan dengan sering terjatuh, robot juga harus mengalami proses trial and error ini demi kemajuan kinerja mereka.
Jadi, dapat dipastikan selama beberapa tahun ke depan, publik akan terus menyaksikan banyak kegagalan dan jatuhnya robot-robot humanoid di berbagai acara dan demonstrasi. Namun, setiap kegagalan ini membawa mereka lebih dekat ke kemampuan otonom yang lebih stabil dan berguna di kehidupan sehari-hari. Sementara itu, momen-momen lucu dan viral tentu akan terus menjadi hiburan sekaligus pengingat bahwa robot, secerdas apapun, juga butuh ruang untuk belajar.
