Modus penipuan baru kini marak di LinkedIn dengan menyamar sebagai balasan resmi dari platform tersebut. Korban diiming-imingi peringatan pelanggaran kebijakan dan diberi perintah untuk mengklik tautan agar akun tidak dibatasi.
Penipuan ini dikenal sebagai phishing, bertujuan mencuri data pribadi dengan tampilan dan gaya bahasa yang menyerupai pesan resmi LinkedIn. Penipu bahkan menggunakan logo asli dan pemendek URL lnkd.in untuk membuat tautan berbahaya terlihat valid.
Komentar palsu ini biasanya dikirim oleh akun-akun mencurigakan yang beroperasi seperti bot. Pesan yang disampaikan menuduh pengguna melanggar aturan dan mendesak verifikasi akun segera agar akses kembali pulih.
Saat tautan diklik, korban diarahkan ke situs palsu yang mengaku membatasi akun dan meminta verifikasi identitas. Proses ini sebenarnya adalah trik mencuri username dan kata sandi LinkedIn pengguna.
Beberapa tautan mengarah ke domain asing yang tidak berhubungan dengan LinkedIn namun alamatnya disamarkan. Penggunaan pemendek URL mempersulit pengguna untuk mengenali alamat asli, apalagi jika pratinjau tautan tidak muncul sempurna di ponsel atau perangkat lain.
Beberapa pengguna LinkedIn mulai berbagi pengalaman terkait komentar palsu ini untuk memperingatkan sesama. Penipu juga menggunakan halaman perusahaan palsu yang menyerupai LinkedIn, seperti nama “Linked Very” yang mirip.
LinkedIn memastikan telah mengetahui kampanye penipuan ini dan sedang mengambil langkah penanganan. Mereka menegaskan tidak pernah mengirimkan peringatan pelanggaran melalui komentar publik di platform.
Platform profesional ini mengimbau pengguna untuk melaporkan setiap aktivitas mencurigakan yang ditemui di kolom komentar atau pesan langsung. LinkedIn juga mengingatkan bahwa pesan resmi tidak meminta verifikasi lewat tautan mencurigakan.
Berikut ciri-ciri pesan phishing yang perlu diwaspadai menurut LinkedIn:
1. Banyak kesalahan ejaan dan tata bahasa.
2. Pesan tidak ditujukan secara personal.
3. Mengandung tekanan mendesak untuk segera bertindak.
4. Meminta membuka lampiran atau menginstal pembaruan perangkat lunak.
5. Menggunakan tautan yang disamarkan dengan pemendek URL.
Untuk mencegah penipuan, pengguna harus berhati-hati dengan tautan asing dan tidak mengunjungi situs pihak ketiga yang menawarkan bantuan terkait layanan LinkedIn. Jika menerima email phishing, segera teruskan ke phishing@linkedin.com agar ditindaklanjuti.
Jika menerima pesan phishing melalui fitur pesan langsung LinkedIn, pengguna dapat melaporkannya dengan memilih opsi Lapor/Blokir, kemudian kategori spam atau penipuan. Setelah dilaporkan, pesan akan dihapus dan pengirim dapat diblokir.
Kasus ini menambah daftar penipuan digital yang sering menargetkan platform media sosial profesional. Sebelumnya, metode serupa pernah menyerang platform lain seperti X (Twitter) dengan akun palsu yang menyamar sebagai institusi resmi.
Pengguna LinkedIn diimbau untuk selalu waspada terhadap setiap interaksi mencurigakan di platform. Pencegahan dan pelaporan aktif menjadi kunci untuk meminimalisir risiko kebocoran data dan penyalahgunaan akun profesional.
