Sapi Bercorak Zebra Raih Ig Nobel, Ilusi Optik Ini Bisa Mengusir Lalat

Author: Qoo Media

Garis putih di tubuh sapi hitam ternyata bukan sekadar tampilan unik. Pola menyerupai zebra itu terbukti mengurangi kedatangan lalat pengisap darah dan membawa tim peneliti Jepang meraih Ig Nobel Prize bidang biologi.

Eksperimen tersebut membuka peluang pengendalian hama ternak tanpa terlalu bergantung pada insektisida kimia. Namun, penerapannya di peternakan masih memerlukan kajian bahan, daya tahan, pola, dan biaya.

Penghargaan Ig Nobel Prize ke-35 diumumkan pada 18 September 2025 untuk tim yang dipimpin Tomoki Kojima dari Aichi Agricultural Research Center. Mereka meneliti respons lalat terhadap sapi hitam yang diberi garis putih vertikal seperti zebra.

Kojima mengatakan ide riset itu muncul setelah menyaksikan acara televisi mengenai berbagai hipotesis fungsi garis zebra. Ia kemudian menemukan penelitian ahli biologi evolusi University of Bristol, Tim Caro, yang mengaitkan pola garis zebra dengan gangguan dari hama.

Studi Caro pada 2014 membandingkan pola garis zebra dengan sejumlah faktor lingkungan, termasuk iklim, predator besar, dan keberadaan hama. Hasilnya mengarah pada dugaan bahwa garis tubuh zebra terutama berevolusi untuk membantu menghindari serangga, bukan untuk kamuflase, pendinginan tubuh, atau pengenalan antarzebra.

Tiga Kondisi untuk Menguji Efek Garis

Tim Kojima menguji tiga ekor sapi hitam, warna yang umum pada sapi Wagyu, dalam tiga kondisi berbeda. Seekor diberi garis putih seperti zebra, seekor diberi garis hitam, sedangkan seekor lainnya dibiarkan tanpa corak.

Cat diperbarui setiap pagi selama tiga hari berturut-turut dan proses pengecatan bebas tangan itu memerlukan sekitar lima menit untuk setiap sapi. Pengamatan dilakukan selama 30 menit pada pagi dan sore hari.

Kondisi Sapi Perlakuan Hasil Pengamatan
Corak zebra Garis putih vertikal pada tubuh hitam Jumlah lalat dan perilaku mengusir lalat lebih rendah
Garis hitam Garis hitam pada tubuh sapi Menjadi pembanding bagi corak putih
Tanpa corak Tidak diberi cat Menjadi pembanding kondisi alami

Peneliti menghitung respons sapi terhadap gangguan serangga, seperti sentakan kepala, hentakan kaki, dan kibasan ekor. Pada akhir setiap sesi, sapi juga difoto untuk menghitung lalat yang hinggap di tubuh serta kakinya.

Setiap sapi menjalani ketiga kondisi tersebut secara bergiliran karena percobaan diulang dua kali lagi. Setahun kemudian, tim menambah tiga sapi hitam lain yang sebelumnya tidak ikut dalam pengujian untuk memperbesar jumlah sampel.

Menurut laporan www.kompas.com, sapi dengan garis putih ala zebra memiliki lebih sedikit lalat pada tubuhnya dibanding dua kelompok lain. Sapi itu juga lebih jarang menunjukkan perilaku yang menandakan usaha mengusir lalat.

Ilusi Visual yang Menghambat Lalat Mendarat

Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof Upik Kesumawati, menilai pola hitam-putih berpotensi menjadi alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan. Metode tersebut relevan karena lalat dapat mengganggu kenyamanan sekaligus produktivitas ternak.

Prof Upik menjelaskan bahwa lalat kandang Stomoxys calcitrans dan lalat tanduk Haematobia exigua dapat menyebabkan rasa sakit akibat gigitan. Kedua jenis serangga itu juga dapat berperan sebagai vektor penyakit.

Menurutnya, garis hitam-putih menciptakan ilusi optik yang mengacaukan cara serangga memproses informasi visual. Lalat dapat salah memperkirakan jarak dan kecepatan sehingga lebih sulit mendarat di tubuh sapi.

Efek ini dinilai paling sesuai untuk lalat pengisap darah yang aktif pada siang hari. Nyamuk dan agas yang lebih aktif pada malam hari mengandalkan petunjuk kimia serta panas tubuh inang, sehingga pola zebra diperkirakan memberi pengaruh lebih kecil.

Mantel Zebra dari IPB University

Gagasan memanfaatkan corak zebra juga pernah dikembangkan mahasiswa IPB University melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta pada 2021. Inovasi bernama MANCEZ menggunakan mantel bermotif zebra, bukan cat yang diaplikasikan langsung ke tubuh sapi.

MANCEZ dikembangkan Cahya Jupisa bersama tim di bawah bimbingan Prof Upik. Program tersebut lolos pendanaan PKM-KC, melaju ke PIMNAS ke-34, dan memperoleh penghargaan PKM Favorit.

Berdasarkan hasil pengujiannya, mantel bercorak zebra itu mampu menurunkan gigitan Stomoxys calcitrans sekitar 50 persen. Mantel tersebut juga disebut membantu menjaga suhu tubuh sapi tetap nyaman dan menekan stres akibat gangguan serangga.

Meski hasil eksperimen Jepang memberi dasar menarik bagi pengendalian nonkimia, sejumlah pertanyaan masih perlu dijawab sebelum digunakan luas. Prof Upik menyoroti kebutuhan riset tentang keamanan cat bagi ternak, ketahanan bahan di iklim tropis, ukuran garis yang paling efektif, serta biaya bagi peternak.

Ig Nobel Prize sendiri diberikan oleh majalah satire ilmiah Annals of Improbable Research kepada penelitian yang “membuat orang tertawa, lalu berpikir”. Penghargaan itu berbeda dari Nobel, tetapi riset sapi bercorak zebra tersebut tetap merupakan penelitian ilmiah yang telah dipublikasikan.

Terbaru