Starfish Space baru-baru ini mendapat kontrak senilai lebih dari 50 juta dolar AS dari pemerintah Amerika Serikat. Kontrak ini dimaksudkan untuk menyediakan layanan deorbiting atau penurunan orbit satelit milik US Space Force.
Ini akan menjadi kali pertama perusahaan yang berbasis di Washington tersebut menunjukkan kemampuan nyata dari pesawat ruang angkasa mereka yang bernama Otter. Pesawat ini dirancang khusus untuk melakukan operasi pada satelit lain di orbit.
Teknologi Otter dan Misi Deorbiting
Otter memiliki bobot sekitar 660 pon dan berukuran seukuran oven. Pesawat ini dilengkapi dengan thruster, panel surya, dan alat penjepit yang dapat menempel pada satelit lain untuk mengontrol pergerakannya. Otter belum pernah diluncurkan ke orbit, sehingga misi mendatang ini menjadi debut untuk sistem kendali dan perangkat kerasnya.
Kontrak tersebut khususnya terkait dengan program Proliferated Warfighter Architecture (PWSA) milik US Space Force. Program PWSA ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi satelit militer yang terdiri dari banyak satelit kecil dan murah, untuk meningkatkan daya tahan terhadap serangan musuh. Namun, semakin banyak satelit kecil yang beroperasi juga menimbulkan tantangan dalam manajemen dan pengendalian sampah antariksa.
Keunggulan dan Inovasi Sistem Starfish
Keunggulan Otter dibandingkan kendaraan antarorbit sebelumnya adalah ukuran, berat, dan biaya yang lebih rendah. Sistem Otter memungkinkan pengoperasian yang lebih fleksibel dan kompatibel dengan satelit kecil yang sebelumnya sulit dijangkau oleh kendaraan antarorbit konvensional. Perangkat lunak kontrol Otter menjadi kunci utama, dengan program bernama Cetacean dan Cephalopod yang dirancang untuk mendukung proses penyambutan dan deorbit secara aman dan presisi.
Sebelumnya, Starfish telah menguji versi lebih kecil dari Otter, yaitu Otter Pup. Otter Pup ini telah diluncurkan dan menjadi pionir dalam operasi docking komersial di orbit rendah Bumi. Meskipun hasil penuh uji coba Otter Pup belum dipublikasikan, keberhasilan mereka cukup meyakinkan pihak US Space Force untuk memberi kontrak yang signifikan.
Tantangan dan Prospek Pelaksanaan Misi
Starfish menargetkan untuk menyelesaikan misi ini pada tahun 2027. Target ini cukup agresif dan menantang, mengingat belum ada peluncuran resmi Otter sejauh ini. Namun, Starfish dikenal konsisten dengan jadwal yang ambisius dibanding banyak perusahaan komersial ruang angkasa lain.
Jika berhasil, misi deorbiting ini akan menempatkan Starfish Space di jajaran kontraktor non-SpaceX yang paling menjanjikan dan inovatif. Perusahaan ini bisa menjadi pionir dalam layanan pengelolaan satelit dan sampah antariksa, yang semakin penting di tengah pertumbuhan pesat satelit mini dan teknologi ruang angkasa militer AS.
Pentingnya Layanan Deorbiting Satelit
Adanya layanan deorbiting ini akan sangat membantu dalam pengelolaan sampah antariksa yang kian kompleks. Debris yang tersisa dari satelit mati bisa sangat membahayakan satelit lain dan misi luar angkasa. Inisiatif seperti yang dilakukan Starfish membantu mengurangi risiko ini dengan menurunkan satelit secara terkendali ke atmosfer Bumi, sehingga satelit itu terbakar dan hancur tanpa menimbulkan ancaman.
Ringkasan Program dan Teknologi
- Kontrak senilai lebih dari 50 juta dolar AS dari US Space Force.
- Layanan deorbiting untuk satelit program PWSA.
- Otter: pesawat kecil seukuran oven, berat 660 pon.
- Perangkat lunak kontrol canggih: Cetacean dan Cephalopod.
- Pengujian awal oleh Otter Pup yang sukses.
- Target penyelesaian misi pada tahun 2027.
Dukungan terhadap teknologi kecil, murah, dan efisien akan terus menjadi fokus dalam strategi pengelolaan ruang angkasa yang aman dan berkelanjutan. Starfish Space hadir sebagai inovator yang akan mengisi kebutuhan ini dengan solusi praktis dan terjangkau.





