
Masjid Qiblatain di Madinah menjadi salah satu situs bersejarah penting dalam perjalanan awal Islam. Peristiwa unik terjadi di masjid ini, yaitu perubahan arah kiblat umat Muslim dari Yerusalem menuju Makkah secara tiba-tiba saat sedang salat berjamaah. Kejadian tersebut merekam momen krusial yang mengubah orientasi ibadah umat Islam hingga kini.
Masjid ini awalnya dibangun dengan bahan sederhana seperti bata lumpur dan pelepah kurma, kemudian berkembang menjadi bangunan megah dengan kubah putih dan menara tinggi yang mencolok. Lokasinya berada di perkampungan Bani Salamah, salah satu klan suku Khazraj di Madinah. Nama asli masjid ini adalah Masjid Bani Salamah, tapi dikenal luas sebagai Masjid Qiblatain karena sejarah perubahan dua arah kiblat.
1. Asal-usul Nama Lokasi Bani Salamah
Masjid Qiblatain terletak di wilayah yang dulunya merupakan perkampungan klan Bani Salamah, bagian dari suku Khazraj. Penamaan "Al-Qiblatain" muncul setelah peristiwa perpindahan arah salat terjadi di tempat tersebut. Menurut People of Madina, perubahan arah kiblat yang mengguncang jemaah saat salat menjadikan masjid ini bersejarah.
Pada masa itu, daerah ini termasuk pinggiran Madinah yang dihuni beberapa klan kecil. Setelah peristiwa perpindahan kiblat, masjid ini jadi pusat perhatian dan bukti sejarah yang memberi arti penting bagi umat Islam. Keterkaitan klan Khazraj dengan masjid ini juga menambah nilai historis dari sudut pandang sosial dan budaya lokal.
2. Momen Perubahan Kiblat dalam Dua Rakaat
Sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah melaksanakan salat menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem. Riwayat dari Imam Ibn Kathir menyebutkan bahwa petunjuk untuk mengubah kiblat ke Ka’bah turun setelah dua rakaat pertama salat Zuhur. Perubahan ini terjadi secara instan tanpa menghentikan salat yang sedang berlangsung.
Hadis yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim mengisahkan bahwa Rasulullah saat itu tengah memimpin salat di rumah Ummu Basyir dari Bani Salamah. Dua rakaat pertama menghadap Yerusalem, lalu dua rakaat berikutnya berbalik menghadap Makkah. Kejadian ini menjadi dasar nama Masjid Qiblatain, yang berarti Masjid Dua Arah Kiblat.
3. Jawaban atas Kerinduan Rasulullah
Perubahan kiblat merupakan jawaban atas doa panjang Nabi Muhammad yang memohon agar kiblat kembali ke Ka’bah. Surah Al-Baqarah ayat 144 turun sebagai perintah Allah mengganti arah salat umatnya. Ayat ini menguatkan kedudukan Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim sebagai pusat spiritual umat Islam.
Penetapan kiblat baru ini memperkuat identitas religius dan simbol kemandirian spiritual Islam. Peristiwa ini memisahkan agama Islam dari tradisi Yahudi dan Kristen yang menggunakan Yerusalem sebagai kiblat. Jadi, Masjid Qiblatain berfungsi sebagai saksi lokasi turunnya wahyu penting tersebut.
4. Transformasi Arsitektur Lintas Zaman
Seiring waktu, Masjid Qiblatain mengalami beberapa kali renovasi besar. Menurut laman Visit Saudi, renovasi pertama tercatat pada tahun 893 H oleh Shahin Al-Jamali. Kemudian, Raja Abdulaziz Al Saud menambahkan menara dan tangga. Pada tahun 1408 H, Raja Fahd bin Abdulaziz memimpin pemugaran total agar masjid mampu menampung jamaah lebih banyak.
Kini, masjid ini memiliki luas sekitar 4.000 meter persegi yang terbagi menjadi tiga level. Lantai dasar dipakai untuk area wudu dan hunian imam. Lantai utama digunakan sebagai ruang salat pria seluas 1.250 meter persegi. Sedangkan lantai atas yang seluas 400 meter persegi diperuntukkan bagi jamaah wanita.
5. Detail Estetika sebagai Simbol Spiritual
Masjid Qiblatain memiliki dua kubah utama setinggi masing-masing 20 meter dan 17 meter. Selain itu, terdapat kubah-kubah kecil dan dua menara tinggi yang menambah keindahan arsitektur. Halaman tengah ditata dengan tanaman hijau yang memberikan suasana nyaman sekaligus pencahayaan alami.
Posisinya sekitar 3,8 kilometer sebelah barat laut Masjid Nabawi menjadikannya mudah diakses peziarah yang berkunjung ke Madinah. Masjid Qiblatain tetap dikenal luas sebagai simbol perubahan penting dalam sejarah ibadah umat Islam, terutama terkait posisi kiblat yang kini menjadi fondasi bagi salat berjamaah di seluruh dunia.
Sebagai lokasi di mana wahyu turun dan arah ibadah umat Islam berubah permanen, Masjid Qiblatain membuka jendela sejarah yang mendalam. Tempat ini bukan hanya situs fisik, melainkan juga saksi hidup spiritual yang menghubungkan sahabat, nabi, dan umat seiring perjalanan religi Islam di Madinah. Popularitas dan nilai historisnya terus menjadikan masjid ini sebagai destinasi wajib bagi banyak peziarah yang ingin mengenang dan menghargai sejarah Islam.
Source: www.idntimes.com








