Robot Humanoid Masuk Medan Tempur, Jadi Tameng Hidup yang Siap Menyerap Peluru

Robot humanoid kini makin dekat ke medan perang, tetapi perannya belum seperti film fiksi ilmiah. Di tahap awal, mesin ini justru diposisikan sebagai alat untuk mengurangi risiko bagi manusia, bukan untuk menggantikan infanteri sepenuhnya.

Perubahan itu terlihat dari cara militer dan industri mulai memandang robot tempur. Menurut Oleksandra Molloy, pemanfaatan jangka pendek humanoid lebih berkaitan dengan menggantikan manusia di aktivitas yang berisiko tinggi menimbulkan korban jiwa.

Dari robot roda ke humanoid

Pada 2024, Brigade ke-13 Garda Nasional Ukraina melakukan serangan robot penuh pertama yang melibatkan drone dan robot darat. Robot yang digunakan bukan humanoid, melainkan mesin seukuran quad bike yang bergerak sekitar 4 mph dan dipakai untuk tugas berbeda, termasuk serangan kamikaze serta dukungan senjata mesin dari operator jarak jauh.

Serangan itu dinilai berhasil, tetapi medan tetap menjadi masalah besar. Satu robot terjebak saat maju, sementara robot lain tersangkut saat mundur, menunjukkan bahwa rintangan lapangan bisa sama sulitnya dengan lawan manusia.

Kini, kurang dari dua tahun setelah peristiwa itu, humanoid dipandang siap mengambil peran baru di pertempuran. Amerika Serikat sedang mengembangkan versi berdaya tinggi untuk operasi tempur darat berbahaya, meski fungsinya tidak selalu berarti menembak musuh secara langsung.

Mengapa humanoid dianggap berguna

Keunggulan utama humanoid ada pada bentuk tubuhnya yang menyerupai manusia. Kemampuan memanjat tangga, membuka pintu, dan bergerak di ruang urban membuatnya berbeda dari Uncrewed Ground Vehicles atau UGV yang selama ini dipakai di Ukraina untuk logistik dan semakin sering juga untuk tempur.

Robert Bunker, pakar robotika militer dan keamanan internasional, menyebut humanoid bisa masuk ke medan kompleks yang tidak bisa dijangkau mesin beroda atau berantai. Menurutnya, itu mencakup hutan, reruntuhan kota, dan area lain yang sulit dilalui.

Meski begitu, humanoid belum bisa bergerak seefisien manusia. Mereka masih lambat dan canggung di lingkungan baru, jauh dari aksi akrobatik yang sering ditampilkan dalam video promosi yang sudah dirancang rapi.

Phantom MK1 dan peran “bullet sponge”

Perusahaan Amerika Foundation, yang didirikan mantan Marinir Mike LeBlanc, mendorong gagasan ini dengan slogan “Don’t send a Marine where you can send a robot first.” U.S. military sedang menguji Phantom MK1, dan Ukraina juga sudah membeli dua unit.

Robot itu memiliki tinggi hampir 6 kaki dan bobot 176 pon. Wujudnya menyerupai droid perang fiksi ilmiah, dengan visor kaca di bagian wajah, bodi baja hitam, dan tangan lima jari yang memakai sarung tangan.

Dalam skenario breaching, robot bisa masuk ke gedung, naik tangga, memasang bahan peledak di pintu, menjauh, lalu meledakkannya sebelum melanjutkan penyisiran. Dalam peran seperti ini, robot ditujukan untuk memicu ranjau, menyerap tembakan, dan membuka jalan bagi manusia di belakangnya.

Karena itu, para pakar menyebut peran humanoid lebih dekat ke “bullet sponge” daripada “killing machine.” Bunker bahkan menggambarkannya sebagai gelombang awal “armored storm troopers” jika jumlahnya cukup.

Masih banyak batasan teknis

Saat ini, banyak humanoid masih dipakai di ruang tertutup yang terkontrol, seperti gudang dan pabrik. Salah satu contohnya ada di BMW Group Plant Spartanburg di South Carolina, tetapi perkembangan di luar ruangan bergerak cepat.

Tahun lalu, robot humanoid kesulitan menyelesaikan half marathon di China. Tahun ini, mereka bukan hanya finis, tetapi juga melampaui rekor waktu manusia.

Molloy mengatakan humanoid awal kemungkinan besar masih akan dioperasikan dari jarak jauh oleh manusia. Mereka belum siap menjadi tentara otonom ala film, dan kendala seperti baterai yang hanya bertahan beberapa jam serta otonomi fleksibel yang belum andal masih membatasi penggunaannya.

Harga mahal, tapi arah pasar mulai jelas

Di Ukraina, mesin lokal yang dibuat di bengkel sederhana mulai menggantikan UGV Barat yang mahal, dan produksinya meningkat cepat. Negara itu menargetkan pembuatan sekitar 50.000 robot militer tahun ini.

Foundation menaksir Phantom MK1 berharga sekitar $150K per unit, setara kisaran biaya merekrut dan melatih seorang prajurit. Elon Musk juga menargetkan produksi 50.000 Optimus pada 2026 dan berharap harga ecerannya bisa turun di bawah $20K, sementara Unitree Robotics dari China mengejar tujuan serupa untuk harga, kemampuan, dan skala.

Bunker menilai pasar besar ada di sektor industri, lalu model murah akan cepat disesuaikan untuk militer. Ia memperkirakan akan ada banyak varian, dari robot sederhana dengan satu munisi hingga model serbu yang lebih tahan lama, cepat, dan lincah.

Di tengah perang yang ditandai attrition, tekanan personel, dan pengawasan terus-menerus, nilai utama humanoid tetap ada pada kemampuannya menyelamatkan nyawa. Seperti kata Molloy, bahkan kemampuan terbatas tetap bisa berguna secara operasional jika itu mengurangi korban manusia.

Exit mobile version